Review Buku

Elegi Gutenberg: Memposisikan Buku di Era Cyberspace

Judul Buku : Elegi Gutenberg, Memposisikan Buku di Era Cyberspace

Penulis : Putut Widjanarko

Penerbit : Mizan

Tahun Terbit : Cetakan I, 2000

Tebal : 248 halaman

Perkembangan teknologi internet agaknya meresahkan para penulis dan penerbit. Paling tidak sebelum tahun 2000, tahun terbit buku ini. Ada pihak yang menyambut baik perkembangan tersebut, ada juga pihak yang menolak. Sebutlah Amazon.com (siapa tak kenal Amazon.com?). Pendirinya adalah salah satu insan yang antusias menyambut perkembangan internet. Dari toko buku onlinenya (mula-mula, Amazon.com memang hanya menjual buku), Amazon.com meraup untung yang luar biasa. Penerbit yang anti internet pun ketar-ketir merasakan kedigdayaan teknologi. Akan tetapi, kemudahan yang dibawa oleh internet ternyata membuat Amazon.com melanggar undang-undang tentang penjualan buku yang telah disepakati oleh para penerbit di seluruh dunia. Bagaimana Amazon.com mengatasinya?

Kita dapat temukan kisah berdirinya Amazon.com serta kiprahnya dalam dunia perbukuan, bermacam-macam produk elektronik dalam dunia buku, serta pro-kontra penerbit dan pecinta buku dengan dunia internet. Kisah-kisah tersebut akan kita temukan dalam bagian pertama buku ini: Pesona Kedigdayaan Teknologi dan Dunia Cyber. Yang menjadi inspirasi judul buku ini, buku berjudul The Gutenberg Elegies, The Fate of Reading in an Electronic Age, pun dimasukkan Putut Widjanarko (penulis) dalam bagian ini dengan judul Elegi Gutenberg.

Dalam buku The Gutenberg Elegies, The Fate of Reading in an Electronic Age yang ditulis oleh Sven Birkets, Birkets sangat mencemaskan perkembangan teknologi dalam budaya membaca buku. Menurut Birkets, teknologi internet mengganggu penjelajahan, kedalaman, dan keintiman seseorang terhadap tulisan. Kemajuan teknologi membuat orang tergesa-gesa dalam membaca. Sebagai contoh, dengan hiperteks, pembaca mudah berpindah teks dari satu komputer ke komputer lain di dunia ini. Pembaca jadi kehilangan perenungan, pendalaman, dan kontemplasi (hal. 73). Akibat lain dari perkembangan teknologi, masih menurut Birkets, adalah tergerusnya bahasa. Kompleksitas, parodi, ironi, ambiguitas, kekayaan, dan kelembutan bahasa digantikan oleh bahasa robotik, teknis, langsung, sederhana, dan tergesa-gesa. Lebih dari itu, Birkets menyatakan bahwa perkembangan teknologi internet membuat perspektif sejarah orang menjadi dangkal.
Penulis buku ini, meski menggunakan judul yang hampir serupa dengan buku Sven Birkets, tidak serta merta menolak perkembangan teknologi internet. Apalagi penulis berkiprah di dunia yang tak sekedar membaca buku, yaitu dunia penerbitan.

Kenyang berbicara tentang dunia cyber terkait dengan buku, penulis menyuguhkan berbagai usaha penerbit untuk mempromosikan buku yang diterbitkannya. Kita akan mengetahui bagaimana perusahaan minuman raksasa, Coca-Cola, menggaet konsumen dengan buku melalui Diet Coke-nya. Mata kita akan dibuka tentang buku yang cocok untuk ditawarkan kepada para eksekutif. Buku manajemenkah? Strategi perusahaan? Pemasaran? Ternyata bukan buku-buku tersebut yang mereka suka. Buku-buku tersebut mungkin mereka beli hanya untuk menghiasi rak buku, bukannya dibaca. Selanjutnya kita juga diajak berpikir tentang pengaruh ekonomi terhadap daya beli masyarakat terhadap buku. Kemudian pada akhirnya, disuguhkan pula bagaimana penerbit memanfaatkan kebutuhan masyarakat terhadap sesuatu untuk menerbitkan buku dengan tema tertentu. Lihatlah kebutuhan masyarakat Amerika akan viagra, pesona Titanic, dan lain-lain. Semua itu terangkum dalam Elegi Gutenberg bagian kedua: Pesona Hasrat Ekonomi dan Tuntutan Pasar.

Tak cukup memberikan wawasan pada pembaca tentang internet dan pemasaran buku, penulis menyebutkan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam dunia perbukuan. Siapa tak kenal William Shakespeare? Romeo dan Juliet yang terkenal itu merupakan salah satu buah karya Shakespeare. Akan tetapi, kabarnya, karya-karya terkenal kaya Shakespeare tidak benar-benar ditulis oleh William Shakespeare. Tokoh-tokoh penting dunia sastra dan drama mendukung pernyataan ini. Sebutlah Sigmund Freud, Charlie Chaplin, Charles Dickens, Mark Twain, dan Malcom-X. Mereka tidak percaya bahwa William Shakespeare-lah yang menulis karya-karya tersebut. Terkejut? Simaklah pembahasan tentang Shakespeare pada bagian ini. Tak hanya para penulis, ternyata ada pula selebritis yang masuk dalam jajaran tokoh yang disebutkan oleh Putut Widjanarko. Sebutlah Lady Diana dan John Lennon. Bahkan Presiden J. F. Kennedy yang fenomenal itu dapat Anda temukan dalam tokoh-tokoh yang penulis sebutkan. Lalu bagaimana mereka mempengaruhi dunia buku? Anda dapat temukan jawabnya pada bagian ketiga: Pesona Para Penulis dan Serombongan Pesohor.

Terakhir, penulis tak membiarkan kita berhenti begitu saja di bagian ketiga. Hal ini disebabkan oleh tema bagian keempat yang begitu menarik: Pesona Sejarah, Pecandu, dan Perilaku Anehnya. Pada bagian keempat yang merupakan bagian terakhir buku ini, dapat kita temukan keanehan-keanehan seseorang terkait dengan buku. Tahukah Anda tentang orang yang hobi mencuri buku-buku di perpustakaan? Tak tanggung-tanggung, hobinya telah dijalani selama bertahun-tahun dan total nilai buku-buku yang ia curi mencapai 5,3 juta dolar! Belum lagi orang-orang yang suka mengumpulkan buku hingga memiliki delapan rumah untuk menyimpan bukunya. Yang ekstrim, ada yang rela membunuh pesaingnya hanya untuk memperoleh buku yang diincarnya. Yang lebih ekstrim, ada penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku tutorial menggunakan senjata dan cara membunuh. Gila bukan? Tapi semua itu fakta. Ingin tahu selengkapnya? Baca saja bagian keempat buku ini. Pada bagian ini pula Anda akan mengetahui betapa naasnya nasib Tsai Lun sang penemu kertas serta Gutenberg sang penemu mesin cetak. Anda juga akan diajari bagaimana cara membaca yang cepat sehingga dapat meningkatkan kpm (kata per menit) Anda.

Elegi Gutenberg merupakan kumpulan artikel Putut Widjanarko dalam rubrik Selisik yang dimuat di harian Republika. Rubrik ini membahas tuntas isu-isu dan fakta terkait dunia buku. Karena buku ini merupakan kumpulan artikel, penulisnya menyebut buku ini sebagai buku yang bukan buku. Total, terdapat 62 tulisan penulis yang dimasukkan ke dalam buku ini.Ke-62 tulisan tadi dikelompokkan dalam empat bagian seperti yang telah ditulis pada review ini.

Beberapa tulisan pada buku ini mungkin tidak aktual dengan kondisi dunia buku saat ini, di mana dunia buku saat ini bersahabat dengan dunia internet. Akan tetapi, hal tersebut dapat memberikan gambaran pada kita tentang riuh-rendahnya dunia buku (khususnya penerbit) menghadapi perkembangan internet di awal perkembangannya (sebelum tahun 2000). Di luar artikel tentang perdebatan para pelaku dunia buku tentang internet, artikel-artikel Putut Widjanarko tetap aktual sampai kapan pun.

Karena merupakan kumpulan artikel, seringkali artikel yang satu tidak berhubungan dengan artikel yang lain. Hal ini membuat kita bebas untuk membaca buku ini dari bagian mana pun yang kita mau tanpa kehilangan alur. Rata-rata, satu artikel dicetak dalam dua hingga tiga halaman buku ini. Kita bebas membaca dari manapun, bebas pula untuk berhenti di mana pun. Hanya saja, saya tidak suka jika tidak menyelesaikan sebuah buku hingga tuntas.

Meskipun buku ini terdiri atas artikel-artikel yang berbeda, kita tidak akan kehilangan sense membaca buku karenanya. Kita tidak akan sekedar membaca kumpulan artikel yang dibukukan. Hal ini lantaran penulis mengelompokkan artikel-artikelnya dalam kategori-kategori yang pas yang membuat artikel-artikel tersebut bermakna. Kesinambungan antar kategori atau bab (penulis menyebutnya bagian) inilah yang membuat kumpulan artikel ini menjadi sebuah buku yang utuh. Buku yang memiliki alur dan tujuan. Diawali dengan deskripsi tentang pengaruh perkembangan internet dan teknologi, diikuti dengan cara-cara penerbit memasarkan produknya serta hal-hal yang mempengaruhi penjualan buku di masyarakat. Selanjutnya, ditampilkanlah tokoh-tokoh yang melejitkan dunia perbukuan serta para pelaku penyimpangan dan sejarah yang berhubungan dengan buku.

Akhir kata, buku ini tidak layak untuk dilewatkan begitu saja. Jika Anda pecinta buku, Anda wajib membacanya. Jika Anda tidak suka buku, Anda perlu membacanya. Jika Anda benci buku, Anda harus membacanya. Mengapa? Karena dunia buku itu menarik.

Gambar diunduh dari: http://photo.goodreads.com/books/1230213379l/2248869.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s