Review Buku

Buku Kecil Sarat Makna

Judul Buku : Wasiat Kecil Ibnu Taimiyah

Judul Asli : Washiyyatush Shughra

Penulis : Ibnu Taimiyah

Penerjemah : Hawin Murtadlo

Penerbit : Al-Qowam, Solo

Tahun Terbit: 2003

“Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; ‘bertakwalah kepada Allah!’…” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 131)

“Wahai Mu’adz! Bertakwalah kepada Allah bagaimanapun keadaanmu; iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik!”


Diawali dengan mengutip ayat al-Qur’an tentang perintah Allah untuk bertaqwa, dilanjutkan dengan hadits yang merupakan wasiat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman. Itulah wasiat yang paling bermanfaat dan itulah yang diambil oleh Ibnu Taimiyah sebagai wasiat. Di dalamnya terkandung apa-apa yang harus dilakukan dan dibutuhkan oleh setiap manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membahas wasiat Allah dan Rasulnya ini dengan pembahasan yang mendalam namun ringkas. Semoga Allah merahmati beliau.

Para penuntut ilmu syar’i pasti mengenal nama Ibnu Taimiyah. Judul buku ini yang menggunakan nama beliau tentu akan segera menarik minat para penuntut ilmu syar’i. Dengan ukuran yang kecil dan muat di saku, membuat buku ini mudah dibawa ke mana saja dan dibaca di mana saja di tempat yang baik. Anda yang suka membaca ataupun tidak, Anda yang telah lama belajar ilmu syar’i atau baru mulai, tidak akan keberatan untuk membaca buku setebal 41 halaman ini.

Buku yang kecil dan tipis ini memiliki isi dengan kandungan yang tidak kecil dan tipis. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berendah hati dengan memberinya judul Wasiat Kecil (Washiyyatush Shughra).

Risalah singkat ini disusun setelah Syaikhul Islam ditanya oleh seseorang bernama Abu Qasim, Qasim bin Yusuf bin Muhammad At-Tujaibi As-Sabti. Ia meminta wasiat kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang empat hal. Pertama, wasiat yang mengandung kebaikan bagi agama dan dunianya. Kedua, menunjukkan kitab yang bisa dijadikan rujukan dalam ilmu hadits dan ilmu-ilmu agama lainnya. Ketiga, memberi tahu tentang amal shalih yang paling utama setelah amalan-amalan wajib. Terakhir, menjelaskan tentang pekerjaan yang paling baik.

Hal yang paling berkesan tatkala membaca buku ini adalah
1. Betapa Syaikhul Islam tidak berbicara dengan tanpa ilmu. Wasiat yang beliau berikan dalam buku ini bukanlah perkataan beliau semata, akan tetapi merupakan pembahasan dari warisan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2. Beliau juga menghindari perbedaan-perbedaan yang mungkin terjadi pada setiap orang dan memberikan jawaban yang general dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Hal ini seperti apa yang beliau lakukan ketika menjawab pertanyaan tentang amalan paling utama setelah amalan wajib.
3. Tidak membiarkan penanya pulang dengan tangan kosong ataupun kebingungan. Seringkali kita bertanya pada seseorang dan kembali tetap dalam keadaan bingung karena jawaban yang diberikan terlalu umum. Tidak demikian halnya setelah saya membaca buku kecil penuh manfaat ini. Meskipun Syaikh memberikan jawaban umum, beliau juga memberikan alternatif yang langsung menunjuk pada pointnya. Hal ini dapat dilihat ketika beliau menjawab pertanyaan tentang kitab-kitab rujukan. Sewajarnyalah jika setiap orang dengan tingkat pemahaman yang berbeda akan memerlukan kitab rujukan yang berbeda pula. Walaupun demikian, Syaikh memberikan alternatif sebuah judul kitab rujukan yang dapat diambil ilmunya oleh siapapun. Semoga kita dimudahkan untuk dapat memahaminya.
4. Bagi Anda yang sedang kesulitan atau kebingungan berkaitan dengan pekerjaan, Syaikh memberikan solusi jitu tentang apa yang harus Anda lakukan. Baik Anda telah memiliki pekerjaan, sedang mengerjakan pekerjaan tertentu, merencanakan pekerjaan, ataupun sedang mencari pekerjaan. Semua kondisi tersebut tercover dalam satu jawaban Syaikh yang bijaksana.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan kepercayaan akan kehati-hatian Ibnu Taimiyah dalam memilih hadits hanya pada yang shahih dan hasan, saya agak menyayangkan karena tidak dituliskannya periwayat dari hadits-hadits yang dicantumkan pada buku ini dan juga derajatnya. Saya sebagai pembaca awam yang memiliki keterbatasan kemampuan dalam meneliti hadits tentu ingin mengetahui derajat keshahihan suatu hadits dan siapa yang meriwayatkan hadits tersebut. Hal ini tentu saja sangat diperlukan untuk menghindari sikap taklid buta yang dilarang oleh syariat. Menurut hemat saya, pencantuman periwayat dan derajat tidak akan mengurangi keringkasan buku ini.

Akhir kata, buku ini tetap sangat layak untuk dibaca dan mudah-mudahan dapat meningkatkan keimanan kita dengan amalan-amalan shalih yang kita lakukan setelah membacanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s