Review Buku

Tiga Pembahasan Penting tentang Shalat

Judul Buku : Tiga Risalah Shalat

Judul Asli : Tsalatsu Rasail fi ash Shalah

Penulis : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Penerjemah : Hawin Mustadho

Penerbit : Al-Qowam, Solo

Tebal : 72 halaman

Ukuran buku : 10 cmx 15 cm

Shalat adalah tiang agama, maka tentu penting bagi kita untuk mengetahui tata cara shalat yang benar. Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz atau sering dikenal dengan Syaikh bin Baz menyusun sebuah buku yang membahas tentang shalat.Buku ini merupakan kumpulan dari tiga risalah yang beliau susun.

Risalah pertama menguraikan tentang tata cara shalat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih tentangnya. Risalah ini tentu sangat penting karena kita diperintahkan untuk shalat sebagaimana Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Risalah ini disusun dengan singkat, jelas, dan padat dalam bentuk point-point setiap gerakan shalat. Dimulai dengan bersuci sebelum shalat, niat untuk melakukan shalat, tata cara takbiratul ihram, doa-doa iftitah, dan seterusnya hingga salam. Seluruh rangkaian tersebut diuraikan dalam 16 point. Di dalam setiap point, dijelaskan secara singkat, jelas, dan padat disertai dengan dalil yang menjadi hujjahnya dari al-Qur’an maupun hadits yang shahih maupun hasan.

Setelah membaca risalah ini, ternyata ada saja gerakan atau bacaan shalat saya yang belum sesuai dengan sunnah. Contoh bacaan yang seringkali diamalkan muslim di Indonesia namun belum sesuai sunnah adalah bacaan doa iftitah. Padahal doa iftitah ada banyak sekali yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dari yang paling pendek hingga paling panjang. Nah, mengapa kita harus mengamalkan doa yang tidak dicontohkan atau malah memenggal dan menggabungkan doa iftitah sekehendak kita?

Dari sekian banyak doa iftitah yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua yang dicantumkan di dalam risalah ini. Satu di antaranya sudah cukup populer diamalkan oleh muslim di Indonesia dan merupakan doa iftitah yang cukup ringkas. Sedangkan doa yang lainnya adalah doa yang ternyata lebih ringkas lagi dan juga sesuai dengan sunnah.

Saya pikir, risalah ini sangatlah penting agar kita dapat selalu memperbaiki shalat kita supaya sedapat mungkin sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Risalah yang kedua adalah tentang shalat berjama’ah. Banyak kaum muslimin yang mengabaikan perintah yang agung ini dan memilih untuk shalat sendiri di rumah. Padahal banyak sekali nash-nash dari al-Qur’an dan hadits yang memerintahkan untuk shalat berjama’ah. Bahkan shalat berjama’ah bisa menjadi salah satu hal yang membedakan mukmin dan munafik, seperti yang dijelaskan dalam Shahih Muslim. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud yang berkata:

“Sungguh aku pernah melihat, tidak seorangpun di antara kami meninggalkan shalat (jamaah) kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya atau orang sakit. Apabila seseorang sakit, ia berjalan seraya dipapah oleh dua orang, sehingga bisa mendatangi shalat (jamaah).” (halaman 31)

Disebutkan juga riwayat tentang seorang buta yang bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah ia mendapat rukhshah/keringanan untuk tidak ikut shalat berjama’ah. Ternyata tidak ada rukhshah baginya. Dipaparkan juga Qur’an Surah An-Nisaa’ ayat 102 yang menjelaskan bagaimana tata cara shalat berjama’ah ketika sedang berperang. Dan masih banyak lagi hujjah yang lain tentang perintah untuk shalat berjama’ah. Tampaklah, jika orang buta dan pasukan yang sedang berperang saja tetap diperintahkan untuk shalat berjama’ah, bagaimana dengan kaum mukminin yang sehat dan dalam keadaan aman? Tentu perintah tersebut lebih berlaku untuk mereka.

Bagaimanapun, ada banyak faedah yang diperoleh dari shalat berjamaah. Faedah yang paling jelas adalah kenal-mengenal, tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, saling menasehati dalam kebenaran dan dalam bersabar melaksanakannya, memotivasi orang yang tidak ikut serta dalam shalat jamaah, mengajari orang bodoh, membangkitkan kemaran orang-orang munafik, menjauhi jalan mereka, menampakkan syiar-syiar Allah di hadapan hamba-hamba-Nya, berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan perkataan, dan manfaat-manfaat lain yang banyak sekali. (halaman 37-38).

Selanjutnya pada risalah ketiga, Syaikh bin Baz menjawab perbedaan pendapat tentang posisi tangan saat berdiri setelah ruku’. Dengan mengemukakan hujjah-hujjah yang tegas dari sunnah Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, Syaikh bin Baz menegaskan posisi yang dicontohkan. Beliau menjawab perbedaan dengan tetap menghormati dan menghargai pihak yang berbeda pendapat dengan beliau.

Terakhir, Syaikh bin Baz memberikan nasehat bagi kita dalam menghadapi perbedaan yang beliau uraikan pada risalah ketiga. Bahwasanya perlu kita sadari bahwasanya uraian yang beliau sampaikan pada risalah ketiga adalah termasuk dari sunnah shalat, bukan kewajiban. Oleh karena itu, tidaklah perlu kita terlalu mempertajam perbedaan tersebut.

Buku mini ini benar-benar memberikan penjelasan yang gamblang tentang bagaimana seharusnya kita shalat walaupun tanpa gambar. Penjelasan-penjelasan dari al-Qur’an dan sunnah sendiri telah sangat menggambarkan apa yang harus kita lakukan. Syaikh hanya menambahkan sedikit uraian untuk memperjelas beberapa hujjah. Saya pikir, setiap muslim perlu untuk membaca buku ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s