Review Buku

Asah Logikamu sambil Menikmati Cerita

Judul: Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran

Judul Asli: The Curious Incident of the Dog in the Night-Time

Penulis: Mark Haddon

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Terbit: 2003

Tebal: 311 halaman

Hampir tiga tahun terakhir ini saya sama sekali tidak tertarik untuk membaca cerita fiksi, hingga suatu hari teman saya (Eghalither)  men-tag nama saya pada foto sebuah buku. Menurutnya, karakter tokoh utama dalam buku tersebut 95% mirip dengan saya. Hmm, saya jadi ingin tahu bagaimana karakter yang dibilang mirip dengan saya itu. Alhasil, saya pun meminjam buku tersebut kepadanya.

Kisah dalam buku ini berawal ketika Wellington, anjing milik Nyonya Shears, mati di pekarangannya dengan garpu kebun tertusuk pada dada. Christopher Boone, sang tokoh utama yang sangat menyukai anjing, adalah orang pertama yang menemukan mayat Wellington dan merasa sangat sedih karenanya. Tanpa pikir panjang, dia pun mencabut garpu kebun dari dada Wellington dan memeluk anjing tersebut. Naasnya, dia justru dituduh sebagai pembunuh Wellington dan digiring ke kantor polisi. Ketika polisi membebaskannya karena dia tidak terbukti bersalah, Christopher bertekad untuk menyelidiki siapakah yang membunuh Wellington dan mulai menulis buku ini dengan bimbingan Siobhan, guru khususnya di Sekolah Luar Biasa. Namun kisah tentang penyelidikan anjing hanyalah permulaan dari kisah lebih besar yang sesungguhnya menjadi daya tarik buku ini.

Christopher Boone adalah seorang anak autis berusia 15 tahun dengan segala keuniknya. Beberapa keunikannya antara lain: Tidak menyukai warna kuning dan coklat, memutuskan untuk memiliki hari baik dan hari kelabu, sangat presisi jika terkait dengan jarak antar benda dalam ruangan, sangat tergantung pada waktu dan juga sangat tepat waktu, pecinta matematika dan fisika, menyukai keteraturan, tidak mau buang air di toilet yang sudah pernah dipakai oleh orang asing sebelum toilet tadi dibersihkan, tidak menyukai keramaian, benci segala bentuk kebohongan (termasuk cerita fiksi), dan masih banyak lagi. Terkait dengan matematika, dia berhasil menyelesaikan ujian matematika tingkat A di usianya saat ini (lazimnya dilakukan mahasiswa tingkat 3/usia 18 tahun) dan memperoleh nilai A. Christopher berencana untuk mengikuti ujian matematika lanjutan di tahun berikutnya lalu akan masuk ke universitas. Ed Boone, ayah Christopher, sangat mendukung minat dan bakat Christopher di bidang matematika serta berusaha semampu mungkin untuk memfasilitasinya. Adapun ibunya sudah meninggal karena serangan jantung ketika Christopher masih kecil.

Saat mengetahui bahwa Christopher ingin menyelidiki kasus kematian Wellington, ayahnya sangat marah dan menyuruh Christopher menghentikannya serta melarangnya untuk mencampuri urusan orang lain. Christopher pun menghentikan penyelidikan namun tetap menampung segala informasi yang sekiranya berhubungan dengan kematian Wellington tanpa melanggar larangan-larangan ayahnya. Buku ini pun terus dilanjutkan tanpa sepengetahuan ayahnya.

Sepandai-pandai tupai melompat, suatu hari akan jatuh juga. Seteratur dan teliti Christopher, suatu saat pernah lalai juga. Suatu hari ia lalai menyimpan buku yang sedang ditulisnya ketika asyik menonton film kesukaannya, Blue Planet. Ayahnya melihat buku tersebut dan merasa sangat marah, lalu ia menyita buku tersebut. Christopher yang sangat ingin menuntaskan apa yang telah ditulisnya pun secara sembunyi-sembunyi mulai mencari di mana ayahnya menyimpan bukunya, hingga ia pun mencari ke tempat yang terlarang baginya: kamar ayahnya. Dalam pencarian inilah ia menemukan fakta-fakta mengejutkan terkait dengan keluarganya, munculnya keraguan pada ayah yang selama ini ia nilai jujur, dan keberanian besar yang tiba-tiba muncul dalam dirinya hanya karena tidak ingin hidup dalam ketakutan serta rasa tidak aman. Kisah utama dari buku ini pun dimulai dari sini.

Sebagaimana karakter dari tokoh utamanya, penulisan buku ini juga sangat unik. Pada umumnya, bab-bab dalam suatu buku diawali dari bab 1 lalu dilanjutkan ke bab 2, 3, 4, dan seterusnya sampai selesai. Buku ini tidaklah demikian. Karena ‘ceritanya’ buku ini ditulis oleh tokoh utama (Christopher) yang sangat menyukai bilangan prima, bab-bab dalam buku ini pun merupakan bilangan-bilangan prima. Jadi, bab-bab dalam buku ini terdiri dari bab 2, 3, 5, 7, 11, dan seterusnya sampai bab 233.

Untuk mengecek apakah urutan babnya telah benar atau belum, tak lupa Christopher memberikan trik untuk mencari urutan-urutan bilangan prima (halaman 16). Cara tersebut memang benar-benar simpel dan dapat dipertanggungjawabkan, tapi menurut saya ada satu langkah yang luput diterangkan oleh Christopher. Jika benar-benar mengikuti penjelasan Christopher, maka 1 juga akan masuk ke dalam deretan bilangan prima. Oleh karena itu, semestinya Christopher (atau Mark Haddon sebagai penulis sesungguhnya) harus menambahkan satu langkah lagi yaitu: coret 1 dari daftar karena 1 bukanlah bilangan prima.

Mengingat sang tokoh utama merupakan anak yang sangat logis pecinta matematika dan fisika, maka pembaca juga disuguhi beberapa kasus matematika dan fisika (tentu saja disertai denganproblem solving dan kesimpulan). Walaupun demikian, dalam satu kasus yang membutuhkan penjabaran secara matematis, penjabaran tidak dituliskan di dalam cerita agar pembaca yang tidak menyukai dunia matematika tidak merasa bosan ataupun mengerutkan kening ketika membaca buku ini. Pembaca yang penasaran dengan penjabaran kasus tadi dapat membacanya di bagian lampiran.

Kisah dalam buku ini ditulis dalam alur maju-mundur secara berselang-seling. Maksudnya, bab pertama-bab ke tiga-bab ke lima-bab ke tujuh-bab ke sembilan-dst (bab 2-5-11-13-17-dst) beralur maju. Artinya bab-bab tersebut menceritakan kisah sejak Christopher menemukan mayat Wellington secara berurutan hingga akhir dari kisah dalam buku ini. Adapun bab-bab di antara bab-bab tersebut merupakan flash back dari kehidupan Christopher di masa lalu. Ada kisah tentang ibunya yang masuk rumah sakit hingga ‘meninggal’, kenangan-kenangan ketika ibunya masih ada bersama ia dan ayahnya, teka-teki yang pernah populer di masa lalu, juga cerita-cerita menarik di sekolahnya.

Selain tentang cara menemukan bilangan prima, kesalahan lain juga terdapat dalam buku ini yaitu ketika Christopher berjalan-jalan dengan Nyonya Alexander di taman. Pada halaman 87, Nyonya Alexander meminta Christopher untuk mempercayainya lalu dalam paragraf berikutnya tertulis

Dan aku berkata, “Aku berjanji.” Karena kalau Nyonya Shears memberitahuku siapa yang membunuh Wellington, atau dia memberitahuku bahwa …..

nama Nyonya Shears dalam paragraf tersebut seharusnya adalah Nyonya Alexander. Saya tidak tahu, apakah hal ini merupakan kelalaian dari penulis ataukah kelalaian penerjemah. Pada halaman 160 pun terjadi kesalahan penulisan, yaitu kata ‘gedung’ dituliskan dengan ‘gedang’.

Beberapa istilah yang tidak baku juga ditemukan dalam buku ini seperti stasiyun (halaman 150), kalo (halaman 157), dan sekertaris (halaman 157). Istilah-istilah tersebut memang ditemukan dalam bagian yang merupakan surat yang dikirimkan ibu Christopher kepada Christopher. Oleh karena itu, saya sempat berbaik sangka bahwa mungkin penerjemah sengaja menggelincirkan istilah-istilah tadi karena bahasa surat yang digunakan memang bukan bahasa baku.

Untuk membaca buku yang memperoleh pengharagaan Whitbread Novel Award 2003 ini, saya menyarankan agar pembaca telah memiliki dasar aqidah yang kuat (khususnya jika pembaca adalah seorang muslim). Karena penulis melalui tokoh utamanya, Christopher, menyelipkan nilai-nilai berikut ini:

  • Tidak mempercayai adanya Tuhan
  • Tidak mempercayai keberadaan surga dan kehidupan setelah mati
  • Keyakinan pada Darwinisme di mana manusia adalah binatang yang paling unggul saat ini dan terus ber-evolusi sehingga suatu hari akan muncul binatang yang lebih unggul sehingga manusia akan dimasukkan ke kebun binatang.

Uniknya, nilai-nilai tersebut dijelaskan dengan cukup ‘logis’ (padahal sesungguhnya sangat tidak logis bagi orang-orang yang memahaminya) dan bisa membuat orang menyetujui argumen yang disampaikan. Mungkin akan muncul komentar “Ah, itu ‘kan logika berpikirnya anak-anak. Nggak usahlah dianggap serius..”. Bagi saya tidaklah demikian. Jangan lupa, tokoh utama di sini bukan sekadar anak-anak tetapi anak-anak yang sangat logis dan memiliki pemikiran yang dapat mengalahkan pemikiran orang dewasa. Selain itu, menurut saya, tulisan karya seseorang memang mencerminkan apa yang diyakininya atau mungkin dipercayainya meski untuk itu ia bersembunyi di balik seorang karakter fiktif.

Advertisements

One thought on “Asah Logikamu sambil Menikmati Cerita

  1. Pingback: Salut, Tantangan Keren di Tahun 2014 | makanbuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s