Review Buku

Maria van Engels

 

maria van engelsJudul Buku : Maria van Engels, Menantu Habib Kwitang

Penulis : Alwi Shahab

Penerbit : Republika

Cetakan, Tahun Terbit : I, Juni 2006

Jumlah Halaman : v + 209

Sudah lama ingin saya memiliki buku ini. Tiba-tiba, saya dikejutkan dengan keberadaannya di rak buku kakak. Serta merta, saya pun mengambilnya dan tanpa sengaja terbukalah halaman sampulnya. Wow, saya semakin terkejut karena ternyata buku ini adalah milik saya! Keluarga kami memang terbiasa menandatangani buku yang kami beli dan menuliskan tanggal pembelian. Yang mengejutkan, saya membelinya tahun 2008 alias 6 tahun yang lalu dan belum pernah membacanya hingga bulan ini.

Maria van Engels adalah seorang keturunan Indo-Belanda. Ayahnya, van Engels, menikah dengan gadis Wonosobo ketika ditugaskan di perkebunan teh kota tersebut. Beberapa tahun kemudian, untuk mengadu peruntungan, keluarga van Engels pindah ke Batavia. Di Batavia inilah Maria bertemu dengan putra Habib Ali Kwitang dan menikah setelah ia sepakat untuk memeluk agama Islam. Bukan sekadar memeluk Islam karena alasan pernikahan, Maria benar-benar menjalankan syariat Islam dengan setaat mungkin. Bahkan ibunya pun tergerak untuk mengikuti jejak Maria dengan memeluk agama Islam serta menjalankan syariat dengan taat.

Buku ini bukanlah buku biografi Maria van Engels, melainkan sebuah kumpulan artikel Alwi Shahab yang pernah dimuat di harian Republika tentang berbagai hal terkait Jakarta tempo doeloe. Terdiri atas 50 artikel, buku ini menyuguhkan berbagai cerita dari sejarah tempat-tempat maupun benda-benda bersejarah di Jakarta, cerita-cerita rakyat ditinjau dari sisi sejarah, tokoh-tokoh di Batavia yang berpengaruh dalam sejarah lokal maupun nasional, hingga peristiwa-peristiwa di Jakarta/sekitarnya yang turut menyumbangkan warna dalam sejarah nasional kita. Maria van Engels sendiri merupakan judul artikel pertama dalam buku ini yang akhirnya diangkat menjadi judul buku kumpulan artikel ini.

Dari sekian banyak artikel, ada tiga artikel yang sangat berkesan bagi saya. Artikel pertama, Kiper PSSI Van Der Viin, menyentak saya karena membuat saya tahu ternyata Indonesia pernah ikut Piala Dunia lho! Sebelumnya, saya memang pernah mengetahui bahwa dunia sepak bola Indonesia pernah mencapai kejayaan di masa lalu dengan atlit-atlit legendaris yang terkenal di seluruh dunia (tapi saya tahunya cuma Ramang yang asal Makassar, hehe..). Hanya saja, saya tidak menyangka bahwa ternyata tim Indonesia pernah menjadi peserta Piala Dunia pada tahun 1938 di Perancis. Performa tim Indonesia cukup disegani terutama di wilayah Asia sampai awal tahun 1970-an. Bagaimana tidak, Indonesia pernah mengalahkan Republik Rakyat Cina dengan skor 2-0, menggasak Thailand 4-0, dan menghantam Korea 3-0. Untuk tim junior, PSSI juga pernah menekuk Iran 3-0 (halaman 22).

Artikel kedua yang menarik hati saya adalah penerapan pajak yang diterapkan oleh pemerintah atas kepemilikan anjing. Dalam artikel Pajak Anjing dan Bursa Kucing, disebutkan bahwa walikota Bandung menerapkan pajak Rp15,- per anjing. Jika pemilik memiliki lebih dari satu anjing, tarif tersebut hanya berlaku untuk anjing pertama. Untuk anjing kedua dan seterusnya, dikenakan pajak Rp20,- per ekor. Pajak anjing dinyatakan sebagai penyumbang pendapatan daerah terbesar pada masa itu (tahun 1963) mengingat harga rokok ketika itu sekitar satu perak per bungkus.

Bicara tentang anjing, menarik pula untuk membicarakan ‘musuh’nya yaitu kucing. Jika anjing dikenakan pajak tinggi, pada masa yang sama, kucing justru menjadi primadona yang dicari-cari sehingga seseorang rela untuk membayar dua ribu perak untuk membeli seekor kucing. Hal tersebut dapat terjadi lantaran hama tikus sedang melanda kabupaten Bandung dan Garut sehingga para petani merasa kewalahan. Uniknya, ada hama yang lebih mengkhawatirkan di masa itu selain hama tikus yaitu hama anjing. Karena para pemilik anjing sudah tidak kuat memberi makan anjingnya, banyak anjing yang dilepaskan dan tidak lagi dipelihara. Akibatnya, anjing-anjing tadi pun menggasak lahan para petani jagung. Kerugian yang disebabkan oleh anjing-anjing tadi jauh melebihi kerugian akibat hama tikus maupun babi. Bagaimana tidak, seekor anjing dapat menghabiskan 75 bonggol jagung dalam semalam.

Terakhir, saya kepincut dengan artikel Media Berbahasa Arab. Dalam artikel ini disebutkan bahwa jauh sebelum kaum penjajah datang ke Indonesia, agama Islam telah tumbuh pesat di Nusantara. Baca tulis huruf Arab sudah meluas di tanah air sejak abad ke-17. Bahkan surat kabar Indonesia yang diduga merupakan surat kabar pertama yang ditujukan untuk umum, al-Juab yang terbit di Betawi, menggunakan bahasa Melayu yang ditulis dalam aksara Arab. Bukan main-main, mingguan Hadramaut yang terbit di Surabaya dipuji oleh Amir Syakib Arsalam (seorang sastrawan dan sejarawan terkenal di Timur Tengah) karena keindahan tata bahasa Arabnya. Menurutnya, selain media massa di negara-negara Arab, mingguan Hadramaut memiliki bahasa Arab paling baik di dunia. Bukan hanya dinikmati oleh umat Islam, kebiasaan membaca dalam huruf Arab-Melayu juga dilakukan oleh pada warga Cina peranakan. Khusus untuk etnis Tionghoa, pada akhir abad ke-19 sudah banyak kaum peranakan yang tidak mampu lagi membaca dalam huruf Arab (halaman 196) karena lebih banyak mempelajari huruf Latin yang diajarkan di sekolah dari guru-guru Belanda.

Fakta tentang meluasnya media berbahasa Arab ini menunjukkan betapa persebaran Islam saat itu begitu luas ke seluruh penjuru dunia dan mempengaruhi budaya-budaya hingga ke kehidupan sehari-hari. Alwi Shahab menuturkan betapa bahasa Arab telah menjadi bacaan sehari-hari, sampai-sampai mata uang yang dikeluarkan pemerintah kolonial juga bertuliskan bahasa Arab-Melayu. Ini teradi bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negeri-negeri jajahan Inggris seperti Singapura dan Malaya (Malaysia). Kala itu, hampir seluruh masyarakat buta huruf Latin, tapi melek dalam mebaca huruf Arab. Jumlah media berbahasa Arab pun ada puluhan yang terbit di Indonesia. Sebagaimana mingguan Hadramaut, distribusinya pun juga tidak hanya di Indonesia melainkan ke negara tetangga bahkan sampai ke Timur Tengah. Saat itu memang masyarakat banyak yang menguasai bahasa Arab. Michael H. Hart dalam bukunya 100 Tokoh menyatakan bahwa imperium bangsa Arab yang membentang dari Irak hingga Maroko merupakan suatu fenomena yang luar biasa dan tak tertandingi. Imperium ini bersatu bukan semata berkat iman agama Islam, tetapi juga dari bahasa Arabnya, sejarah, dan kebudayaan (Hart, 2013: 31).

Buku ini sebenarnya sangat menarik untuk diikuti tapi memiliki kekurangan yang sangat mengganggu saya, yaitu kesalahan penulisan yang sangaaaaat banyak seolah-olah tulisan-tulisan dalam buku ini tidak diedit lagi. Bagaimana tidak, pada 110 halaman pertama, tidak kurang dari 22 kesalahan penulisan saya catat dalam buku catatan saya. Itu baru yang terlihat oleh saya dalam sekali baca, bagaimana jika ada yang lebih teliti dari saya? Di halaman-halaman selanjutnya, saya pun masih menemukan banyak sekali kesalahan penulisan tapi saya abaikan saja karena merasa capek sedikit-sedikit berhenti membaca untuk mencatat kesalahan penulisan. Kesalahan penulisan di sini meliputi kesalahan penulisan kata depan/awalan (antara dipisah atau digabung), kalimat baru yang tidak dimulai dengan huruf kapital, ketidak-konsistenan penulisan, kesalahan penulisan nama orang, dan sebagainya. Itu baru secara teori bahasa. Kalau teori format penulisan juga ikut di-list, seperti mana yang harusnya dicetak miring, list kesalahan bisa semakin banyak lagi. Saya sendiri capek membayangkannya.

Mengingat buku ini diterbitkan oleh penerbit milik sebuah media cetak nasional, hati saya sangat masygul. Berbagai pertanyaan muncul di hati saya: 1. Apakah karena Alwi Shahab adalah wartawan senior, maka tulisan-tulisannya tidak lagi diedit? 2. Apakah tulisan-tulisan dengan banyak kesalahan tulis seperti ini yang final dicetak di harian Republika? 3. Atau apakah tulisan-tulisan yang dikumpulkan dalam buku ini diambil dari naskah mentah abah Alwi, yang belum diedit oleh editor untuk dicetak?

Saya yang hanya pembaca awam saja merasa sangat terganggu dengan kesalahan-kesalahan penulisan yang ada di dalam buku ini. Bayangkan jika yang membaca buku ini adalah seorang editor, penulis, guru bahasa Indonesia, atau orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pustaka. Kredibilitas penulis dan penerbit bisa saja dijatuhkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Akhir kata, saya berharap jika buku ini dicetak ulang, mohon dilakukan pengeditan ulang agar tidak terjadi lagi kesalahan-kesalahan penulisan yang tidak seharusnya didapati pada buku cetakan penerbit milik media cetak nasional. Sungguh disayangkan jika konten yang sangat bagus ditutupi dengan kesalahan-kesalahan penulisan yang sangat mengganggu.

 history-reading-challenge-2014

Advertisements

4 thoughts on “Maria van Engels

  1. Pingback: 2014 yang Bersejarah | makanbuku

  2. Pingback: Salut, Tantangan Keren di Tahun 2014 | makanbuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s