Review Buku

Di Tepi Sungai Plum

ImageJudul: Di Tepi Sungai Plum

Penulis: Laura Ingalls Wilder

Penerbit: BPK Gunung Mulia

Cetakan, Tahun Terbit: III, 1983

 

Keluarga Ingalls kembali melakukan perjalanan dan kini telah menemukan tempat pemberhentiannya. Pa Ingalls menukarkan kuda-kudanya, Pet dan Patty, dengan tempat tinggal, lembu, dan sebidang ladang gandum yang siap dipanen. Tempat tinggal mereka kali ini adalah rumah paling unik yang pernah ditinggali Laura. Tanah yang digali membentuk ruang-ruangan rumah dan jendela, dengan atap bertambalkan rumput dan jerami kering. Sapi dan kuda bisa berlarian di atas rumah mereka! Seru kan? Selain itu, mereka tidak akan kedinginan di dalamnya ketika musim dingin tiba. Pa dan Ma juga sangat senang tinggal di sini karena tanahnya subur, gembur, dan tidak terlalu banyak batu sehingga mudah digarap. Bayang-bayang panen yang melimpah terbentang di pelupuk mata. Tapi ternyata kenyataan tak selalu seindah harapan. Badai belalang melalap habis gandum Pa yang sudah digarap dengan susah payah, bahkan mereka bertelur ramai-ramai di setiap jengkal tanah. Gagal sudah panen tahun ini, dan mungkin tahun depan tak bisa panen juga selama belalang-belalang itu masih di sini.

***

Dalam pengantar, buku  ini dinyatakan sebagai buku paling laris di antara Seri Laura yang lain. Laura Ingalls adalah generasi keempat dari keluarga pionir, yaitu keluarga-keluarga yang pindah dari Eropa ke Amerika untuk mencari penghidupan yang layak. Saat menyadari bahwa generasi pionir akan segera berakhir, Laura berinisiatif untuk membukukan catatan-catatan perjalanannya selama ini dalam bentuk cerita yang mudah diikuti. Salah satu buku dari seri Laura juga pernah difilmkan dan disiarkan di saluran TV Indonesia (TPI), yaitu bukunya yang berjudul Little House in The Prairie. Saya sangat menikmati cerita-cerita Laura, dan jujur saja belum semua buku seri Laura sudah saya baca. PT BPK Gunung Mulia pertama kali menerbitkan buku ini pada tahun 1981. Kalau ada kesempatan, saya ingin sih bisa membaca dan melengkapi koleksi buku seri Laura.

OK, kembali ke Di Tepi Sungai Plum.. Selain merasakan pedih dan beratnya perjuangan mereka menghadapi gagal panen, saya juga tersenyum-senyum saat membaca buku ini. Keisengan-keisengan Laura yang terkadang membahayakan diri, caranya yang elegan untuk membalas anak kota yang merendahkannya hanya karena dia anak desa, kebesaran hati ibu Laura, dan lain-lain.

Sebagai seorang ibu, saya terkesan dengan keteraturan keluarga  Ingalls di mana setiap orang bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing. Jadi setiap pekerjaan beres, rumah teratur, anak keurus.. Anak-anak belajar mandiri, terlibat dalam kegiatan rumah tangga sesuai kapasitas umurnya.. jadi serasa melihat Metode Montessori dalam aplikasi nyata. Semuanya dikerjakan tanpa pembantu, tetap beres meski punya anak banyak. Jadi ketika saya mulai kacau kelabakan dengan berbagai urusan rumah dan luar rumah, saya bisa mengingat lagi kisah para keluarga pionir ini. Kalau mereka bisa, kita juga pasti bisa! Insya Allah.

Saya juga suka dengan deskripsi Laura akan hidangan-hidangan yang mereka santap. Lumayan memberi saya inspirasi tentang bahan-bahan apa yang cocok dicampur dan dimasak. Mungkin memang orang Inggris pandai mendeskripsikan hidangan ya? Deskripsi yang membuat pembaca ‘ngiler‘ dan perut jadi terasa lapar. Karena begitulah yang juga saya rasakan jika membaca buku-buku karya Enid Blyton. Memang, deskripsi hidangan Laura tidak semenggugah Enid Blyton, tapi it’s fine lah.. Saya masih memperoleh sensasi ‘turut merasakan’ hidangan-hidangan tadi.

Salah satu yang membuat saya senyum-senyum sendiri adalah kisah ketika Pa Ingalls menghadiahi Ma Ingalls sebuah tungku baru. Walau Ma merasa hal tersebut berlebihan, Ma tetap menerima tungku tersebut dan memanfaatkannya sebagai rasa syukur dan caranya berterima kasih kepada Pa. Hal ini mengingatkan saya pada salah satu buku seri Rose, Tanah Pertanian Kecil di Lereng Bukit, yang mengisahkan cerita yang mirip. (Rose adalah anak Laura. Dia tidak menuliskan kembali catatan perjalanannya untuk menjadi buku sebagaimana Laura, tapi ia menceritakan dan mewariskannya kepada Roger Lea MacBride yang sudah dianggapnya sebagai cucu. Ketika Rose telah meninggal dan Roger telah dewasa, ia terpanggil untuk membukukan kisah Rose dalam seri Rose).

Bedanya, dalam Tanah Pertanian Kecil di Lereng Bukit, Laura menolak tungku baru pemberian suaminya (Almanzo Wilder) karena merasa bahwa pemberian itu berlebihan. Ia berkeras untuk tetap memakai tungku lamanya dan menyarankan Almanzo untuk menjual kembali tungkunya. Namun Almanzo juga berkeras untuk tetap mempertahankan tungku baru yang ia beli meski Laura tidak mau memakainya. Akhirnya, setelah beberapa hari, tungku lama Laura benar-benar tidak bisa dipakai lagi sehingga mau tak mau ia harus memakai tungku baru pemberian suaminya :D

Satu lagi kisah yang mirip antara Rose dan Laura di buku ini, yaitu Laura diundang oleh seorang teman untuk menghadiri pestanya di rumahnya di kota. Nellie, teman yang mengundang Laura ini, sesungguhnya tidak suka dengan Laura. Ia mengundang Laura mungkin saja karena ibu menyuruhnya mengundang semua teman sekolahnya. Di pesta, Nellie melakukan dan mengucapkan hal-hal yang membuat Laura ‘panas’ dan rasanya ingin sekali menampar Nellie. Tapi Laura memilih untuk menahan emosinya dan tetap mengikuti pesta sampai selesai sebagai bentuk sopan santunnya.

Adapun Rose, dalam Menjelajah ke Seberang Bukit, juga pernah diundang untuk menghadiri pesta seorang teman di kota. Bedanya, Blanche yang mengundang Rose, adalah teman karibnya. Di pesta ini, Rose juga bertemu dengan sepupu Blanche yang kelakuannya sangat menyebalkan di sekolah maupun di rumah. Puncaknya, Rose benar-benar tak tahan dengan tingkah sepupu Blanche dan merasa ingin menamparnya. Rose berhasil menahan diri untuk tidak menampar sepupu Blanche, tapi ia menghentakkan kaki ke lantai dan mengucapkan kata-kata yang tajam kepada sepupu Blanche. Malu akan perbuatannya sendiri (walaupun kebanyakan orang suka dengan apa yang telah dilakukan Rose kepada sepupu Blanche), Rose memutuskan untuk pamit dari pesta. Laura, ibu Rose, menegurnya atas apa yang telah ia lakukan tadi.

Di halaman terakhir Di Tepi Sungai Plum, terdapat list buku Seri Laura. Dalam list tersebut, buku ini diletakkan setelah buku Anak Tani. Jika benar list tersebut disusun berdasarkan urutan cerita, saya merasa urutan tersebut kurang tepat. Pada buku ini, Laura masih tiga bersaudara. Ia berumur 8 tahun, Mary (kakaknya) berumur 9 tahun, dan Carrie masih bayi. Satu lagi, Mary juga masih bisa melihat. Berarti cerita dalam buku ini semestinya lebih dulu daripada Anak Tani. Saya membaca Anak Tani sekilas saat masih SD. Dalam Anak Tani, Laura sudah memiliki lebih banyak saudara. Beberapa di antaranya jatuh sakit terkena penyakit yang sedang mewabah dan seorang di antaranya meninggal karena penyakit tersebut.  Mary yang juga terkena penyakit tadi bisa sembuh tapi harus kehilangan penglihatannya. Jadi saya yakin bahwa kisah Di Tepi Sungai Plum benar-benar terjadi sebelum kisah Anak Tani.

Bagaimanapun, kisah-kisah Laura tetap memikat saya. Kisah yang ditulis jauh sebelum saya lahir (saya kelahiran tahun 1988). Saya berharap dapat mengoleksi seri Laura selengkapnya. Kalau sudah lengkap, rasanya ingin  juga melengkapi Seri Rose. Belakangan, lewat Goodreads, saya baru tahu bahwa ada juga yang berinisiatif untuk membukukan catatan-catatan perjalanan ibu, nenek, serta buyut Laura.

Advertisements

One thought on “Di Tepi Sungai Plum

  1. Pingback: Salut, Tantangan Keren di Tahun 2014 | makanbuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s