Review Buku

Menyelami Kehidupan Para Dokter: Dokter Bukan Dewa

Judul Buku: Doctors
Penulis: Erich Segal
Alih Bahasa: Hidayat Saleh
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan, Tahun Terbit: I, April 1997
Jumlah Halaman: 960 halaman

Membaca buku ini, saya tidak meragukan lagi bahwa Erich Segal benar-benar menggarapnya dengan serius. Sebagai seorang satrawan, tidak mungkin ia bisa menulis buku sehebat ini tanpa didukung riset serius, detail, dan mendalam. Asumsi saya ini ternyata diamini oleh Segal sendiri melalui ucapan terima kasihnya di penghujung buku ini. Ia benar-benar menyusup ke dunia kedokteran sehingga setiap deskripsinya dalam buku ini begitu akurat. Berkat bantuan teman-temannya yang benar-benar dokter, Segal beruntung dapat menyaksikan operasi nyata yang mana hal tersebut merupakan masukan yang sangat berharga untuk mendukung penulisan buku ini.

Doctors merupakan kisah banyak dokter dengan segala ke-‘aneh’-an mereka, kelebihan, kekurangan, kisah masa kecil, percintaan, kebaikan, hingga kejahatan mereka. Lebih dalam lagi, Erich Segal ingin menyampaikan hal yang selalu ingin diteriakkan oleh dokter manapun di dunia ini, kenyataan bahwa mereka bukanlah dewa penyembuh berbagai macam penyakit. Bahkan dalam introduction, dekan Harvard Medical School (HMS) menyebutkan bahwa dari ribuan penyakit di dunia, hanya ada 26 penyakit yang benar-benar telah berhasil dipahami oleh para dokter. Dengan Laura Castellano dan Barney Livingston sebagai tokoh utama serta keluarga dan teman-teman mereka di HMS sebagai tokoh-tokoh pendampingnya, Erich Segal berhasil mendokumentasikan kehidupan para dokter dengan apik.

Doctors bukan sekadar buku kumpulan biografi para tokohnya yang dikemas dalam bentuk novel dan alur cerita yang menarik, tapi juga merupakan kombinasi buku sejarah, sains, politik, dan tentu saja sastra. Buku ini tidak hanya menghibur dengan alur cerita yang menarik, tapi juga memberikan gambaran nyata di benak saya tentang kejamnya Perang Dunia II, fasisme di Eropa, dan Nazi. Belum lagi, pengiriman pemuda Amerika yang terkena wajib militer ke Perang Vietnam membuka mata saya tentang kehidupan para ‘tentara’ yang dipaksa jauh dari keluarga itu. Selain itu, pembaca juga akan dapat merasakan ketegangan, suka cita, dan juga duka terkait perkembangan ilmu kedokteran dan farmasi dari masa ke masa.

Perjalanan politik di Amerika pun tak ketinggalan turut terpadu mewarnai DoctorsSetting cerita Doctors yang berkisar dari tahun 1945 (Pasca Perang Dunia II) hingga tahun 1960-an jelas menggambarkan politik apartheid di Amerika, serta bagaimana perjuangan menuntut HAM atas warga kulit hitam dan pemeluk agama Yahudi. Oleh karenanya, dalam buku ini, pembaca akan menemukan nama tokoh-tokoh pejuang HAM seperti Malcom X dan Che Guevara.

Sebagai pecinta serial TV Grey’s Anatomy, saya pernah ditanya tentang asal muasal judul film ini. Perkiraan saya waktu itu, Grey diambil dari nama tokoh utamanya yaitu Meredith Grey. Adapun Anatomy diambil sebagai istilah yang sangat erat dengan dunia kedokteran. Setelah membaca Doctors, saya memperoleh pencerahan yang mungkin lebih mendekati pemikiran Shonda Rhimes untuk memberikan Grey’s Anatomy sebagai judul filmnya. Rupanya, Anatomy merupakan text book resmi mahasiswa kedokteran di tahun-tahun pertamanya. Buku ini ditulis oleh John D. Gray. Dalam Doctors, mahasiswa kedokteran sering menyebutnya sebagai Gray’s Anatomy.

Suatu ketika Laura Castellano pernah ditanya tentang apa yang akan dilakukannya. Dia menjawab bahwa dia ingin menonton Gray’s Anatomy. Saat itu, saya bertanya-tanya dalam hati. Apakah Gray’s Anatomy yang dimaksud oleh Laura adalah buku Anatomy karangan Gray dan ia hendak ‘menonton’-nya alias mempelajarinya? Ataukah benar-benar menonton film berjudul Gray’s Anatomy? Apakah saat itu serial Grey’s Anatomy sudah dimulai?

Memang benar, penulis buku Anatomy adalah Gray (pakai ‘a’) sedangkan tokoh utama dari serial favorit saya adalah Grey (pakai ‘e’). Tapi mungkin saja ‘kan pak Segal salah menuliskan judul film karena terpaku pada Gray (pakai ‘a’) yang penulis buku Anatomy?

Saya pikir-pikir, di negeri asalnya, Grey’s Anatomy sudah sampai season 10 pada tahun 2013. Oleh karena itu, season pertama dari serial ini kemungkinan baru dimulai tahun 2003. Adapun Doctors diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1997, ini jelas 6 tahun lebih dulu daripada season pertama Grey’s Anatomy. Pada versi originalnya, kemungkinan besar Doctors telah diterbitkan pada tahun-tahun sebelumnya. Belum lagi setting cerita Doctors pada saat Laura kuliah adalah antara tahun 1960-1970 sehingga kemungkinan bahwa Grey’s Anatomy yang dimaksud adalah sebuah judul film benar-benar jauh. Saya pun mengambil kesimpulan bahwa Gray’s Anatomy yang dimaksud Erich Segal memang benar-benar buku Anatomy yang ditulis oleh John D. Gray.

Akhir kata, saya sangat-sangat terkesan dengan Doctors karya Erich Segal. Saya membaca buku ini dengan mengambil jeda istirahat setiap kali telah membaca beberapa halaman. Hal itu saya lakukan bukan karena bosan atau lelah tapi karena saya tidak dapat membendung impuls dan momentum yang terus menerus terjadi di dalam kepala dan benak saya karena disuguhi hal-hal menarik secara bertubi-tubi. Kalau saya paksakan untuk meneruskan tanpa memedulikan impuls dan momentum tadi, saya takut mati karena terlalu bahagia. Baiklah, mungkin terdengar lebay, tapi serius itu karena buku ini sangat bagus. Terima kasih, Erich Segal. :)

 

Advertisements

One thought on “Menyelami Kehidupan Para Dokter: Dokter Bukan Dewa

  1. Pingback: Salut, Tantangan Keren di Tahun 2014 | makanbuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s