Review Buku

Napak Tilas Sejarah dan Peninggalan di Kota Salatiga

salatiga baru

Salatiga: Sketsa Kota Lama

Judul Buku: Salatiga: Sketsa Kota Lama

Penulis: Eddy Supangkat

Penerbit: Griya Medika

Tahun Terbit: 2007

Jumlah Halaman: xviii + 150

Mendapati buku ini di rak orangtua saya, saya teringat beberapa waktu lalu ketika masih duduk di bangku SMA. Ada pelajaran Sejarah di mana kami diberi tugas untuk menapaktilasi peninggalan-peninggalan sejarah di kota kami, Salatiga. Di samping melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh senior di Salatiga, mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah, kami pun berburu referensi pustaka tentang kota Salatiga. Satu buku yang saya ingat popular menjadi rujukan kami adalah buku Salatiga: Kota Seribu Nuansa.

Buku tersebut diawali dengan pembahasan asal mula kota Salatiga dilihat dari dua versi, versi legenda dan versi sejarah. Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan deskripsi bangunan-bangunan bersejarah di kota Salatiga yang masih bisa dilihat hingga kini disertai dengan keterangan perubahannya. Terakhir, ada biografi singkat orang-orang terkenal yang berasal dari Salatiga. Dari artis hingga pahlawan nasional.

salatiga lama

Salatiga: Kota Seribu Nuansa

Tadinya saya mengira bahwa Sketsa Kota Lama hanyalah cetak ulang dari Kota Seribu Nuansa. Perkiraan saya memang tidak keliru, tapi tetnyata cetak ulang ini jauh melebihi ekspektasi saya. Saya tidak  menggolongkan Kota Seribu Nuansa sebagai buku yang layak dianggap sebagai buku sejarah, namun sebagai memoir saja. Memang benar ada data-data sejarah, tapi hal itu bukan merupakan dominasi yang dipentingkan dalam buku tersebut. Buku itu hanya jadi semacam buku kenangan.

Dengan bayangan awal seperti Kota Seribu Nuansa, pantaslah kalau saya katakan bahwa Sketsa Kota Lama jauh melebihi ekspektasi saya. Saya bahkan mulai bisa menjajarkannya ke dalam genre buku sejarah walaupun penulis tetap berendah hati dengan menyatakan bahwa buku ini bukanlah buku sejarah. Dalam buku ini, saya jadi lebih memahami Salatiga tempo dulu. Bukan sekadar tahu bangunan-bangunan apa yang dulu ada dan jadi apa bangunan itu sekarang, tapi saya juga tahu sejarah pengaturan kota Salatiga. Jadi bukan cuma sejarah pembentukan kota Salatiga, tapi juga tentang pengaturan kota dan persebaran penduduk. Rupanya pendapat saya tentang Salatiga: Sketsa Kota Lama dibandingkan dengan Salatiga: Kota Seribu Nuansa diamini oleh artis Rudy Salam yang turut memberikan pengantar untuk Salatiga: Sketsa Kota Lama.

Yang paling berkesan bagi saya, saya jadi tahu sejarah pusat kota Salatiga dan mengapa kok pemilik-pemilik toko di pusat kota itu semuanya orang Cina. Tadinya saya kira, daerah pusat kota itu memang ditujukan sebagai pusat perdagangan.  Lalu karena orang-orang Cinalah yang punya jiwa bisnis dan jiwa dagang, maka merekalah yang membeli ruko-ruko tersebut. Faktanya?

Ternyata terbalik, Saudara-Saudara.. Jadi menurut buku ini, pada zaman Belanda dulu, Salatiga dibagi ke dalam beberapa wilayah pemukiman. Dari tugu kota ke arah Semarang merupakan pemukiman orang Eropa, dari tugu kota ke jalan yang sekarang disebut Jln. Jenderal Sudirman dan sekitarnya merupakan pemukiman orang Cina, sisanya merupakan pemukiman orang pribumi. Nah, gaya orang Eropa dalam membangun rumah adalah rumah dengan halaman, taman, serta rumah yang memang kita kenal sebagai rumah. Jadilah daerah pemukiman orang Eropa dibangun dengan rumah-rumah standar Eropa. Mereka sendiri bekerja sebagai pegawai kantoran di berbagai kantor dan perusahaan bentukan Belanda. Adapun orang-orang Cina memandang rumah adalah juga sebagai tempat usaha. Jadilah orang-orang Cina membangun rumahnya sebagai ruko-ruko. Hasilnya, pemukiman orang-orang Cina di Salatiga sukses menjadi pusat perniagaan kota Salatiga. 

Kalau dipikir-pikir, bisa dibilang pusat kota Salatiga merupakan China Town alias Pecinan di Salatiga. Tapi kok tidak ada yang menyebut begitu? Menurut saya, hal itu tidak lain karena pergaulan yang membaur dengan baik antara kaum Cina dengan pribumi. Tidak ada gap pemisah antara wilayah Cina dengan pribumi serta format rumah toko yang memudahkan siapapun berinteraksi dengan sang tuan rumah. Berbeda halnya dengan pemukiman Eropa yang dipisahkan dengan tugu kota. Selain itu, kawasan pemukiman Eropa juga lebih terkesan eksklusif dengan gaya rumah berpagar tinggi dan berhalaman luas. 

Selain tentang nilai sejarah dari buku Sketsa Kota Lama, saya juga sangat menghargai perubahan dari segi layouting dan formating. Font yang digunakan sudah terstruktur dengan baik, foto-foto juga digabungkan dengan harmoni. Jadi tidak lagi seperti sekadar memasukkan gambar, tapi juga diolah agar ramah mata dan tampak profesional.

Pada bagian orang-orang terkenal, saya mendapati beberapa tambahan tokoh di Sketsa Kota Lama yaitu Bung Karno dan Pak Harto yang keduanya pernah menjadi presiden Republik Indonesia. Penulis memang tampaknya berusaha melengkapi data-data bukunya agar lebih bisa menjadi rujukan. Namun saya merasa penulis seperti kata pepatah “Semut di ujung telaga kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak“. Pasalnya, Bung Karno dan Pak Harto tidak bisa benar-benar dikatakan sebagai orang Salatiga. Mereka hanya memiliki sebuah momen tertentu di Kota Salatiga: Bung Karno bertemu dengan salah satu istrinya di Salatiga, sedangkan Pak Harto pernah menjadi Komandan Korem Salatiga. Padahal masih banyak tokoh lain yang benar-benar orang Salatiga. Sebut saja Bambang Pamungkas, pesebak bola nasional yang masih masih menjadi idola di negara kita. Bambang benar-benar lahir dan menghabiskan masa-masa sekolah di Salatiga. Bisa dibilang bahwa Bambang adalah senior saya karena saya bersekolah di sekolah yang sama dengannya, SMP 1 dan SMA 1 Salatiga. Ada pula Bapak Moenarso yang pernah menjadi Hakim Agung Republik Indonesia. Selepas masa jabatannya, beliau kembali menikmati pensiun di kota Salatiga sampai beliau meninggal. Beruntung, saya pernah mewawancari beliau saat mengumpulkan data untuk sebuah karya tulis.

Akhir kata, saya sangat mengapresiasi usaha penulis untuk merevisi bukunya menjadi jauh lebih baik. Semoga kelak dapat menjadi lebih baik, lebih lengkap, serta semakin layak untuk dijadikan rujukan.

history-reading-challenge-2014

Advertisements

One thought on “Napak Tilas Sejarah dan Peninggalan di Kota Salatiga

  1. Pingback: 2014 yang Bersejarah | makanbuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s