Review Buku

Makanan Jiwa untuk Penulis

harga sebuah impianJudul Buku: Chicken Soup for the Writer’s Soul (Harga Sebuah Impiah dan kisah-kisah nyata lainnya)
Penulis: Jack Canfield, Bud Gardner, Mark Victor Hansen, dan maaasih banyak lagi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit, Cetakan: 2007, I

Saya bukanlah penggemar seri Chicken Soup. Walaupun begitu, ketika melihat buku ini di event lelang Blogger Buku Indonesia (BBI) 2014, saya langsung tertarik dan mengincar buku ini. Selanjutnya, dengan strategi, saya pun berhasil memenangkan buku ini dengan harga Rp15.500,-. Asyik kan! Harga asli buku ini adalah Rp37.500,-. Plus ongkir dari Jakarta Utara, saya hanya mengeluarkan Rp23.300,- untuk buku ini.

Lalu, apakah isinya sebagus harganya? Wah, wah.. dengan bulat saya mengatakan ‘Ya’! Buku ini bukan berisi tips-tips membuat tulisan yang baik atau bagaimana agar bisa diterima di dapur penerbit. Buku ini berisi kisah-kisah para penulis terkenal tentang perjuangan mereka membuat tulisan. Yang mengesankan, kisah-kisah dalam buku ini dituliskan oleh mereka sendiri. Bagi saya yang merupakan pemula di dunia tulis menulis, buku ini benar-benar menghangatkan jiwa seperti habis makan sup ayam. Dengan demikian, filosofi Chicken Soup pada buku ini telah berhasil untuk saya.

Di Chicken Soup for Writer’s Soul, kita dapat menemukan berbagai kisah yang inspiratif, menghibur, menyedihkan, dan terkadang membuat saya berkomentar dalam hati “Bener banget! Aku juga begitu”. Kisah Marcia Preston dan Suzanne Peppers merupakan kisah favoritku dalam buku ini. Marcia Preston menceritakan bagaimana dia harus bangun tengah malam agar bisa menulis dengan tenang jika ada anggota keluarganya yang berkunjung. Melalui tulisan tersebut, Marcia mengisahkan bagaimana cintanya mendua antara keluarga dan dunia tulis-menulis. Namun kisah ‘mendua’-nya ini ia sebut sebagai anugerah, di mana ia berusaha menjalani proses ‘mendua’-nya sebaik mungkin.

Adapun Suzanne Peppers mengisahkan tentang ibunya yang terkenal di seantereo Amerika, Helen Bottel. Helen Bottel masyhur karena tulisan-tulisannya di kolom “Helen, Bantu Kami!”. Serunya, karir menulisnya baru dimulai pada usia empat puluh empat tahun dan dalam rangka memenuhi tantangan suaminya. Kala itu, suaminya membacakan jawaban seorang kolumnis atas sebuah pertanyaan. Helen mengatakan bahwa ia bisa memberikan jawaban yang lebih bagus. Untuk membuktikannya, ia membuat sebuah kolom saran dengan surat-surat masalah yang bersumber dari kisah-kisah yang diceritakan teman-temannya dan mengirimkannya kepada sindikasi terbesar di dunia, King Features Syndicate di New York. Tak dinyana, ternyata King menyukainya dan memintanya mengirimkan lebih banyak lagi.

Usai membaca buku ini, saya semakin menyadari bahwa inspirasi menulis benar-benar bisa diambil dari mana saja. Tinggal bagaimana kita mengatur sudut pandang dan mengolahnya menjadi tulisan yang menarik. Selain itu, tidak ada kata terlambat untuk memulai.

“Menulis membuat kita gila; tapi tidak menulis, bahkan membuat kita semakin gila.” (Marcia Preston, hal. 141)

Terkhusus untuk Lina yang telah mengirimkan buku ini untuk saya, saya ucapkan terima kasih banyak. Anda benar-benar merawat buku Anda dengan baik, menyampulnya dengan rapi menggunakan sampul plastik. Saya sangat menghargainya. Di samping itu, bonus yang Lina sertakan dalam buku ini (kartu pos kerreeen, pembatas buku BBI yang cool, dan pembatas buku super keren yang senada dengan kartu pos) benar-benar menyentuh hati saya. Thank you very much!

Isi paket kiriman dari mbak Lina

Isi paket kiriman dari mbak Lina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s