Review Buku

U-Boot Waffe: Pasukan Kapal Selam Jerman Perang Dunia II

ubootJudul Buku: U-Boot Waffe, Pasukan Kapal Selam Jerman Perang Dunia II
Penulis: Gordon Williamson
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan, Tahun Terbit: I, Januari 2012
Jumlah Halaman: 74 halaman

Saya bukanlah penggemar perang dan pernak-pernik yang menyertainya, namun melihat buku ini membuat saya tergerak untuk membeli. U-Boot Waffe, Pasukan Kapal Selam Jerman Perang Dunia II. Melihat judul buku ini, terbayang dalam benak saya bahwa saya akan membaca deskripsi dan penjelasan lengkap tentang sebuah kapal selam yang ditakuti oleh dunia pada masa perang dunia. Demikianlah U-Boot menjadi ancaman dunia, bahkan untuk Sekutu sekalipun, meski akhirnya Jerman bertekuk lutut pada Sekutu. U-Boot pernah menenggelamkan kapal induk milik Inggris, Ark Royal, sehingga membuat pasukan Inggris ciut. Bagaimana tidak, armada laut Inggris dikenal sebagai armada terkuat di dunia pada masa itu dan Ark Royal dinyatakan sebagai kapal perang paling canggih. Ternyata Ark Royal harus binasa ditenggelamkan oleh U-Boot U-81. Amerika Serikat melalui Winston Churchill pun pernah menyatakan:

“Satu-satunya hal yang benar-benar membuat saya takut selama perang adalah bahaya U-Boot.

Perkiraan saya tidak keliru, buku ini memang mengupas tuntas kapal selam perang legendaris itu. Saya diajak menelusuri perjalanan dan perkembangan kapal ini beserta para awaknya sejak Perang Dunia I hingga berakhirnya Perang Dunia II. Penuturan dalam buku ini tidak membosankan karena, alih-alih disusun secara naratif dari masa kelahiran hingga purna kejayaan, penulis membuat bab-bab yang fokus membahas hal-hal secara spesifik. Kronologi peristiwa-peristiwa yang melibatkan U-Boot diringkas dalam satu bab saja dengan format yang to the point, yaitu menyebutkan tanggal dan peristiwa yang dimaksud. Adapun bab-bab yang lain, merupakan pembahasan singkat, padat, namun detail dan renyah tentang per-U-Boot-an. Pembahasan-pembahasan tersebut meliputi perekrutan awak U-Boot, seragam dan pernak-pernik awak U-Boot (penampilan), kondisi penugasan, keperayaan dan rasa memiliki di antara komandan dan awak U-Boot, hingga aksi pertempuran.

Membaca buku ini, saya merasa seolah diajak berjalan-jalan ke masa perang dunia dan merasakan jayanya U-Boot serta kebanggaan orang-orang Jerman atasnya. Terbayang gaungnya publikasi serta antusiasme rakyat Jerman saat dibuka perekrutan untuk awak U-Boot. Memang, pada awalnya, seluruh awak U-Boot memang terdiri dari para sukarelawan dari warga Jerman. Meskipun judulnya sukarelawan, mereka melalui seleksi yang sangat ketat dan dilanjutkan dengan pelatihan intensif untuk penugasan di bawah laut. Penulis menyatakan, kemungkinan besar orang akan berprasangka bahwa kebanyakan orang yang terpilih sebagai awak U-Boot akan berasal dari mereka yang telah terbiasa hidup di pesisir. Nyatanya, kebanyakan awak U-Boot yang berhasil diterima justru berasal dari wilayah daratan. Sebelum bergabung dengan U-Boot, mereka berprofesi (atau anak-anak dari orang yang berprofesi) sebagai pengrajin. Menurut pendapat saya, hal ini justru sangat logis karena mungkin para pengrajin malah lebih ulet, teliti, sabar, dan tekun. Mengingat hari-hari dalam penugasan di kapal selam sangatlah penuh tekanan, jiwa pengrajin rasanya memang lebih cocok daripada mereka yang meledak-ledak penuh semangat dan bersuara kencang (hidup di pesisir sering diidentikkan dengan suara yang lebih kencang kan?). Apalagi ketika sedang bertempur, suara sangatlah diminimalisir di dalam kapal selam agar tidak terdeteksi oleh musuh melalui getaran-getaran yang ditimbulkan.

Buku ini membentuk perspektif baru dalam pikiran saya, tentang beratnya hidup di bawah air di dalam kapal selam. Sebelumnya saya kira hidup di kapal selam itu seperti Sandy dalam kartun Spongebob Squarepants, haha… Aduh, maafkan saya ya para perwira kapal selam! Ternyata, di dalam kapal selam yang tampak besar itu, hanya ada ruangan yang sangat kecil di dalamya untuk aktivitas para awak. Body kapal selam yang besar itu sebagian besarnya terdiri dari mesin, tempat penampungan udara/air yang berfungsi sebagai kontrol untuk menyelam/naik ke permukaan, tempat penyimpanan torpedo yang ampun-ampunan besarnya dan berbagai senjata lain…. Intinya, space untuk manusia sangat-sangatlah kecil dan mepet-mepet. Di dalam space yang terbatas itu, dilakukan berbagai aktivitas dari kendali mesin, makan, tidur, mengintai, masak, daaaaan…. buang air! Selain itu, awak kapal selam tidaklah cuma 1-2 orang namun banyak! Sebentar saya hitung dulu… Nah, menurut buku ini dan kalau saya tidak salah hitung, setidaknya ada 24 orang! Kebayang gimana untel-untelannya (berdesak-desakannya – red.) hidup di dalam kapal selam dan juga baunyaaa… Bau badan dan keringat setelah bertugas berbulan-bulan dan juga bau kakus. Apalagi, air bersih sangatlah minim dan harus diirit-irit. Belum lagi setiap saat harus mendengar bunyi mesin kapal selam yang terus berbunyi. Khusus untuk awak ruang mesin, derita mendengar bunyi ini lebih hebat lagi. Penulis menyebutkan bahwa ada awak kapal yang sampai kehilangan kemampuan mendengar atau mengalami gangguan pencernaan karena terus menerus mendengar bunyi mesin.

Akhir kata, saya memberikan apresiasi yang sangat baik untuk penulisan buku ini. Penulisannya yang cermat, teknis, dan sistematis membuat saya benar-benar bisa membayangkan apa yang ditulis. Penulisan indeks di akhir buku juga memudahkan pembaca untuk mencari kembali bagian yang telah dibaca. Usai membaca buku ini, saya dapat membayangkan dengan jelas apa yang dilakukan oleh para awak ketika kondisi laut aman. Ketika ada musuh, saya juga jadi tahu apa dan bagaimana reaksi para awak step by step. Lebih dari itu, jika Anda adalah kolektor barang-barang militer, penulis memberikan petunjuk-petunjuk untuk membedakan barang asli dan barag palsu. Jika Anda ingin meriset lebih jauh tentang U-Boot, penulis juga menuliskan sumber-sumber yang bisa dihubungi untuk membantu Anda.

history-reading-challenge-2014_zps6c378035

Advertisements

One thought on “U-Boot Waffe: Pasukan Kapal Selam Jerman Perang Dunia II

  1. Pingback: 2014 yang Bersejarah | makanbuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s