Review Buku

Shocking Jepang : Tidak Mengagetkan, Tapi Menarik

japanJudul Buku: Shocking Japan, Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan
Penulis: Junanto Herdiawan
Penerbit : B First (Bentang Pustaka)
Cetakan, Tahun Terbit : I, Agustus 2012
Jumlah Halaman : 160 halaman

Shocking Japan adalah salah satu judul dari serial Shocking lainnya (Shocking China, Shocking Egypt, dan Shocking Korea). Dari tiga judul seri Shocking yang pernah saya baca (China, Egypt, dan Japan), saya berpendapat bahwa hanya seri China yang pantas memakai judul Shocking. Untuk Egypt dan Japan, sepertinya kata Shocking nggak terlalu cocok. Untuk Egypt misalnya, sebagaimana saya singgung pada review buku tersebut, lebih cocok disebut menakjubkan alih-alih mengejutkan. Iya, saya nggak kaget dengan cerita-cerita yang disuguhkan di Shocking Egypt, tapi takjub. Menurut saya, kaget itu adalah:

  1. kalau kita sudah punya persepsi tentang sesuatu tapi kemudian hancur berantakan jungkir balik setelah diberitahu faktanya.
  2. kalau fakta sesuai persepsi tapi sangat berlebihan sehingga sama sekali tidak dikira sebelumnya.
  3. informasi baru yang sebelumnya tidak kita sangka bisa dilakukan oleh subjek (pelaku).

Nah, Shocking Egypt sama sekali tidak memenuhi kriteria ‘kaget’ ala saya tapi memenuhi kriteria ‘takjub’ saya. Hehe.. ribetkah saya? Semoga tidak. Lalu bagaimana dengan Shocking Japan yang kita bahas dalam tulisan ini? Sebagaimana saya katakan di awal tulisan, buku yang saya peroleh dengan harga Rp5.000,- ini juga tidak membuat ‘kaget’ (harga asli Rp34.000,-). Shocking Japan tidak bisa saya kategorikan ke dalam ‘membuat kaget’ karena juga tidak memenuhi tiga kriteria ‘kaget’ ala saya di atas:

  1. persepsi awal saya tentang Jepang: high tech, attitude yang sangat baik, angka bunuh diri tinggi, sangat menjaga budaya lokal. Fakta dalam buku ini: sesuai persepsi awal, jadi tidak kaget.
  2. fakta sesuai dengan persepsi dan tidak berlebihan alias masih sesuai dengan ekspektasi dan keterjangkauan nalar saya, jadi saya tidak kaget. Misalnya tentang teknologi-teknologi yang diterapkan dalam berbagai sendi kehidupan di Jepang.
  3. ada banyak informasi-informasi baru tentang Jepang, tapi saya tidak kaget kalau Jepang bisa melakukan hal tersebut mengingat attitude dan kemampuan Jepang yang sangat capable untuk itu.

Lalu apakah Shocking Japan menjadi ‘boring’? Tidak! Buku ini justru sangat menarik! Teknologi-teknologi yang disuguhkan di dalam buku ini membuka wawasan baru dalam benak saya. Setiap kali membaca teknologi yang diceritakan oleh penulis, muncul kalimat ini di dalam benak saya “Oh, begitu ya.. Wah, betul juga ya bisa begitu!” So inspiring kalau saya bilang. Banyak hal di dalam buku ini yang bisa kita tiru dan terapkan di Indonesia. Pertanyaannya tinggal mau atau tidak, konsisten atau tidak. Begitu saja.

Cerita-cerita di dalam buku ini yang sangat menarik dan berkesan bagi saya di antaranya:

  1. Canggihnya toilet di Jepang. Toilet di Jepang yang begitu inovatif membuat saya teringat pada film Cars 2 ketika para mobil bertanding di Jepang. Ada adegan Mater, si mobil derek, masuk ke toilet yang sangat canggih. Dulu saya kira toilet dalam film kartun tersebut hanya merupakan imajinasi sang sutradara sebagai gambaran canggihnya teknologi Jepang. Ternyata, toilet model itu mungkin benar-benar terinspirasi dari toilet-toilet di Jepang.
  2. Jepang yang Go Green. Untuk masalah sampah, pemilahan sampah bukanlah satu-satunya solusi yang ditawarkan negeri ini. Jadwal pengambilan sampah pun dijadwalkan sesuai jenisnya. Sampah yang tidak sesuai jadwal tidak akan diambil oleh petugas sehingga memberikan sanksi moral bagi si empunya sampah di lingkungan tempat tinggalnya, dianggap sebagai orang jorok dan tidak sadar lingkungan. Tidak hanya itu, limbah minyak pun tidak boleh dibuang di saluran pembuangan karena takut mencemari air tanah. Lalu bagaimana? Nah, lagi-lagi inovasi teknologi bicara di sini. Teknologi yang mungkin kurang popular di negeri kita, tapi mungkin sudah pernah kita ketahui digunakan pada mainan-mainan anak yang ada di Youtube (ada manfaatnya juga ternyata nemenin anak nonton video-video mainan di Youtube).
  3. Diplomasi lewat makanan. Untuk menjadi duta Indonesia, kita tidak harus jadi diplomat, peneliti, duta wisata, atau lainnya. Dengan konsisten memperkenalkan makanan Indonesia di negeri asing pun dapat menjadi jalur diplomasi yang halus. Misi ini pun tak jarang yang berkembang menjadi bisnis yang menghasilkan.
  4. Tahu coklat Kit-Kat kan? Di Indonesia, mungkin hanya ada satu rasa Kit-Kat. Kalau di Jepang, ada lebih dari dua puluh rasa Kit-Kat lho! Rasa-rasa Kit-Kat di Jepang ada bermacam-macam tergantung di musim apa dan di mana Anda membelinya, Kekayaan rasa ini terjadi karena Kit-Kat diproduksi menggunakan rasa-rasa lokal tempat kota produksinya. Dan di Jepang, bukan hanya satu kota yang memproduksi Kit-Kat. Kalau diurut-urut sepanjang masa, sudah ada delapan puluh varian rasa Kit-Kat di Jepang. Lalu apa rasa Kit-Kat favorit di Jepang? Yang jelas bukan rasa cokelat, vanilla, ataupun strawberry. Temukan jawabannya di buku ini, jawaban yang mungkin tidak pernah Anda duga. Kit-Kat juga sering dipakai sebagai penyemangat pelajar Jepang yang ingin menjalani ujian sekolah. Mengapa? Jawabannya juga ada di buku ini.
  5. Kalau di Indonesia, uang kertas mungkin akan dilipat-lipat sebelum akhirnya disimpan di dompet atau kantong. Hal ini tidak akan pernah ditemukan pada masyarakat Jepang yang menyimpan uang kertasnya rapi-rapi. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebuah pembelajaran yang baik ternyata ada di baliknya.

Yah, itu adalah lima di antara banyak hal menarik yang dapat ditemukan di buku ini.

Untuk penulisan, gaya penyampaian Junanto cukup renyah dan tidak kalah dibandingan penulis buku Shocking yang lain. Pesan yang ingin disampaikan dalam cerita dapat mengalir dengan apik dan seharusnya akan mudah diterima oleh pembaca dari kalangan. Ketika bicara tentang teknologi pun, penuturan Junanto begitu ringan sehingga tidak akan membuat kening berkerut. Pembaca akan mudah menemukan hal menarik dan yang bisa diambil pelajaran dari tulisan-tulisan Junanto.

Akhir kata, bukan hanya inovasi teknologi di Jepang yang bisa kita tiru. Etos kerja dan nilai-nilai budaya Jepang pun banyak yang bisa kita adopsi. Tentunya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama yang kita anut ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s