Al Ushul min 'Ilmil Ushul / Kajian Kitab

Makna (#2) dan Manfaat Ushul Fiqh

Judul Kitab: Ushul min ‘Ilmil Ushul
Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin
Pengkaji: Ustadz Hasan al-Jaizy
Stream Live: 18 Maret 2015
Topik Kajian: Makna Ushul Fiqh (#2)

[Pertemuan #2]

Pada pertemuan yang lalu, telah dibahas definisi ushul fiqh ditinjau dari kata penyusunnya baik secara bahasa maupun istilah. Sekarang kita akan membahas definisi ushul fiqh dari sisi kedua, yaitu:

2. Berdasarkan kedudukannya sebagai sebuah nama bagi disiplin ilmu tertentu, ushul fiqh didefinisikan sebagai berikut

Definisi ushul fiqh sebagai sebuah nama bagi bidang ilmu tertentu.

Definisi ushul fiqh sebagai sebuah nama bagi bidang ilmu tertentu.

Ilmu yang membahas tentang dalil-dalil fiqh yang global dan cara menyimpulkan hukum dari dalil-dalil tersebut dan keadaan orang-orang yang meraup faedah.

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang dipelajari dalam ilmu ushul fiqh adalah sebagai berikut:

a. Membahas dalil-dalil global
Dalam definisi fiqh yang dibahas pada pertemuan pertama, fiqh membahas dalil-dalil yang terperinci. Adapun dalam definisi ushul fiqh, disebutkan bahwa ushul fiqh membahas dalil-dalil global.

Ilmu fiqh membahas dalil terperinci langsung ke pokok amalan misalnya membahas tentang shalat, tata cara shalat, puasa, dsb. Adapun ushul fiqh tidak langsung membahas dalil dari sebuah ibadah namun membahas dalil-dalil umum yang terdapat dalam nash yang menunjukkan pelaksanaan. Dengan kata lain, ushul fiqh adalah bahan untuk melaksanakan dalil-dalil terperinci di mana bahan tersebut dapat berupa kaidah-kaidah atau ucapan-ucapan para ulama fiqh.

Lebih jelasnya tentang perbedaan dalil global dan dalil terperinci, mari kita lihat contoh-contoh berikut:

Allah berfirman: “Dan dirikanlah shalat…”

  • Firman Allah di atas adalah dalil terperinci untuk melaksanakan shalat lima waktu => ilmu fiqh.
  • Dalam ushul fiqh, dikenal dalil global yaitu kaidah al-amru al wujub (perintah menunjukkan kewajiban).
  • Dalam dalil terperinci di atas, terdapat ungkapan yang menunjukkan perintah. Dengan menggunakan dalil global dalam ushul fiqh tadi, dapat disimpulkan bahwa shalat lima waktu adalah wajib => ilmu ushul fiqh.

Kita ambil contoh sederhana di kehidupan sosial (bukan nash Qur’an dan Hadits). Seorang ibu berkata pada anaknya “Nak, belikan telur di warung!”

  • Ucapan sang ibu kepada anak adalah dalil terperinci bagi sang anak untuk membeli telur => ilmu fiqh.
  • Di dalam ucapan sang ibu, terdapat perintah bagi anaknya.
  • Menggunakan dalil global bahwa al-amru al-wujub, maka membeli telur hukumnya adalah wajib bagi si anak => ilmu ushul fiqh.

Seorang ibu berkata kepada anaknya “Jangan naik ke genteng!”

  • Ucapan sang ibu adalah dalil terperinci bagi sang anak untuk tidak naik ke genteng => ilmu fiqh.
  • Di dalam ucapan sang ibu terdapat ungkapan larangan.
  • Dalam ilmu ushul fiqh, kita mengenal dalil global bahwa an nahyu lit tahrim (larangan menunjukkan pengharaman).
  • Dengan demikian, bagi si anak tadi, haram hukumnya untuk naik ke genteng => ilmu ushul fiqh.

Ucapan seorang guru kepada muridnya “Jangan mengangguk.”

  • Dalil terperinci : ucapan sang guru => ilmu fiqh.
  • Jangan => larangan.
  • Dalil global: an nahyu lit tahrim => ilmu ushul fiqh.
  • Hukum: haram bagi sang murid untuk mengangguk => ilmu ushul fiqh.

Sabda nabi: “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat.”

  • Dalil terperinci: sabda nabi => ilmu fiqh.
  • Sabda nabi di atas adalah perintah.
  • Dalil global: al amru al wujub => ilmu ushul fiqh.
  • Hukum: wajib bagi kita memerintahkan anak-anak kita untuk shalat => ilmu ushul fiqh.

Dari contoh-contoh di atas terlihat bahwa dalam ilmu ushul fiqh, dalil-dalil terperinci disebut untuk menerapkan kaidah-kaidah global. Jadi, dalil global bukanlah hukum itu sendiri tapi menghukumi dalil-dalil yang terperinci.

b. Cara menyimpulkan hukum dari dalil-dalil yang global

Dalam ilmu ushul fiqh, akan diketahui bagaimana menyimpulkan hukum dari dalil-dalil yang ada dengan mempelajari hukum-hukum dari lafal-lafal dalil yang terperinci. Jenis menunjukkan kandungan suatu dalil, apakah umum atau khusus, iqlab atau takhyir, nasikh atau mansukh, dan lain-lain. Dengan mengetahui hal tersebut, dimungkinkan untuk menyimpulkan hukum dari dalil-dalil.

Ushul fiqh juga mempelajari tata cara mengidentifikasi syarat/isyarat dari dalil-dalil terperinci sehingga dapat kita peroleh faedah darinya. Contoh isyarat: senyuman senang, ketidaksukaan dari isyarat badan, isyarat penggunaan kata, dan lain-lain. Kita ambil contoh dalam surah al-’Ashr:

(3) وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

  • إِنَّ => menunjukkan penguatan.
  • الْإِنْسَانَ = > alif lam menunjukkan jenis, berarti insan di sini bermakna semua jenis manusia/seluruh manusia, menunjukkan keumuman.
  • لَفِي => penggunaan lam menunjukkan penguatan.
  • إِلَّا => kecuali, mengecualikan orang-orang yang disebut setelah kata tersebut.
  • Kesimpulan: keumuman bahwa seluruh manusia itu merugi, kecuali orang-orang yang disebutkan dalam ayat tersebut.

c. Keadaan orang-orang yang meraup faedah

  • Di dalam ilmu fiqh, kita dapat mengetahui keadaan orang-orang yang meraup faedah, yaitu menyimpulkan apakah dia adalah mujtahid (orang yang bisa mengeluarkan ijtihad) ataukah muqallid (orang yang taqlid/mengikuti).
  • Mujtahid : ia sendiri yang menyimpulkan hukum dari dalil-dalil yang ada secara langsung karena dia telah mencapai derajat ijtihad. Dia dapat melihat langsung teks dalil tanpa terjemahan, tanpa melihat pendapat ulama-ulama terdahulu, dengan bekal-bekal kaidah-kaidah yang ia punya, dengan metodologi dalam menyimpulkan kaidah-kaidah tersebut (yang tercermin di dalam nash), sehingga dapatlah ia memperoleh faedah dari nash tersebut.
  • Muqallid: mengadalkan fatwa dari ulama atau syaikh, lalu menyatakan jawaban ya atau tidak atas suatu permasalahan tanpa bisa menuturkan dalil kenapa begini dan begitu.
  • Dalam ilmu ushul fiqh, kita mempelajari pengetahuan tentang kondisi orang. Sebagai contoh, tentang seorang mujtahid. Kita akan mempelajari apa itu mujtahid, apa itu ijtihad, syarat-syarat ijtihad, dan lain sebagainya.

Manfaat Ilmu Ushul Fiqh

Ilmu ushul fiqh adalah ilmu yang mempunya kedudukan agung, memegang peran yang penting, dan memiliki manfaat yang banyak.

Ushul fiqh memang dasar untuk memahami fiqh, tapi mempelajari ushul fiqh juga dapat memperkaya pemahaman kita tentang aqidah karena nash apapun memerlukan ushul fiqh untuk dipahami. Baik nash yang berupa fiqh, aqidah, maupun akhlaq. Dengan mempelajari ushul fiqh, kita mempunyai alat untuk memahami al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dalam kitab ini, syaikh al-Utsaimin menerangkan manfaat ilmu ushul fiqh adalah:

Manfaat mempelajari ilmu ushul fiqh.

Manfaat mempelajari ilmu ushul fiqh.

Memungkinan untuk mendapatkan kemampuan yang dapat digunakan untuk menyimpulkan hukum-hukum syariat dari dalil-dalilnya berdasarkan dasar-dasar/asas-asas/kaidah yang benar.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk mempelajari ilmu ushul fiqh agar tidak tersesat dalam memahami al-Qur’andan as-Sunnah. Yang demikian ini juga agar kita dapat waspada dengan orang-orang yang sudah mempelajari ushul fiqh namun menyetirnya menuruti pemikirannya sendiri sehingga tersesat dalam menyimpulkan hukum. Jika yang sudah belajar ilmu ushul fiqh saja bisa tersesat dalam menyimpulkan hukum, bagaimanalah bagi yang tidak mengetahui ushul fiqh. Orang-orang yang belum belajar ushul fiqh sudah pasti adalah muqallid dan tidak berhak mengeluarkan ijtihad.

Orang yang pertama kali mengumpulkan kaidah-kaidah ushul fiqh menjadi bidang ilmu sendiri adalah Imam Syafi’i melalui kitab ar-Risalah. Kitab tersebut sebenarnya adalah surat balasan untuk Imam Abdurrahman bin Mahdi. Selanjutnya, banyak ulama yang mengikuti jejak Imam Syafi’i untuk mengumpulkan kaidah-kaidah ushul fiqh. Kaidah-kaidah tersebut ada yang disampaikan dalam bentuk prosa, syair, yang ringkas, maupun yang panjang sehingga ushul fiqh menjadi bidang ilmu tersendiri.

Jadi, ilmu ushul fiqh bukanlah ilmu fiqh. Walaupun demikian, ilmu ushul fiqh penting dipelajari untuk memahami fiqh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s