Reader's Stuff

Sebuah Penantian: Indonesia dan Buku Rujukan

Pagi ini, terdapat sebuah poster asyik nampang di beranda facebook saya. Poster tersebut dikirimkan oleh Div. Event Blogger Buku Indonesia, mengajak posting bareng (postbar) di hari Ahad nan cerah ini. Pada postbar kali ini, kita ditantang untuk memfoto koleksi buku kita yang asli Indonesia (bukan terjemahan). Nah, ini dia punya saya:

Gelap yah?

Gelap yah?

Hihi, lumayan juga ya.. N jadi nyadar kalau ternyata rak buku masih didominasi buku-buku terjemahan. Meski foto di atas belum menunjukkan keseluruhan buku asli Indonesia saya, tapi cukuplah untuk dijadikan sampel.

Jika saya perhatikan, ternyata buku-buku di atas berasal dari genre-genre berikut:

  1. Agama Islam
  2. Sejarah
  3. Manajemen
  4. Parenting
  5. Teknis dan keterampilan
  6. Fiksi

Dari foto di atas, yang paling sedikit memang fiksi (cuma empat). Walaupun demikian, hal tersebut bukan dikarenakan oleh macetnya dunia fiksi Indonesia melainkan memang hasrat saya yang kurang pada buku fiksi. Dua buku fiksi di ataspun saya punyai karena dikasih, xixixi….

Sebaliknya, buku Indonesia yang menurut saya masih sedikit produksinya adalah buku teknis dalam artian buku-buku yang bisa dijadikan rujukan yang akhirnya bisa nampang di daftar pustaka kalau kita membuat karya ilmiah. Hihi, belibet amat bahasanya.

Sebagaimana kita pahami bersama, kebanyakan buku-buku ilmiah memang ditulis oleh penulis luar yang kemudian diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia. Sayangnya, seringkali penerjemahan buku-buku tersebut dilakukan bukan oleh orang yang kompeten pada bidang yang diterjemahkan. Maksud saya, betul bahwa buku tersebut mungkin diterjemahkan oleh penerjemah bersertifikasi, tapi si penerjemah tidak memiliki keahlian di bidang teknis (misalnya). Jadi kalau buku-buku teknis, yang menerjemahkan bukanlah seorang insinyur. Hal tersebut membuat beberapa hasil terjemahan menjadi kurang pas. (Karena itulah, mending pilih text book berbahasa asli daripada terjemahan). Ya bagaimana memang, untuk menerjemahkan buku memang sertifikasi bahasa juga diperlukan. Adapun para ahli (non bahasa) mungkin terlalu sibuk jika harus mengambil program sertifikasi penerjemahan, jadi tidak bisa turut berkontribusi menerjemahkan buku-buku bidangnya.

Tapi di sisi lain, kondisi seperti ini juga membuka peluang besar bagi para ahli dan intelektual yang asli Indonesia untuk menerbitkan buku mereka sendiri dalam bahasa Indonesia. Percayalah, kalau buku Anda bermutu dan tidak berisi ‘sampah dan copasan semata’ dan bisa dipakai serta sangat bermanfaat sebagai rujukan belajar, buku Anda akan diminati oleh para pelajar/mahasiswa. Contoh konkret intelektual Indonesia yang bukunya banyak dijadikan rujukan misalnya adalah Ganijanti (fisika universitas), Zuhal (elektro), Sri Kusumadewi (artificial intellegence), Rhenald Kasali (ekonomi), Hermawan Kartajaya (marketing), dan lainnya.

Sekarang ini saya sudah banyak melihat perkembangan dibandingkan lima tahun yang lalu, para ekspert di suatu bidang mulai rajin menerbitkan tulisan mereka dalam bentuk buku sehingga mempermudah para pelajar Indonesia untuk menyerap serta mengembangkan ilmu-ilmu yang masih langka di Indonesia. Saya berharap iklim intelektual seperti ini terus berkembang di Indonesia sehingga suatu hari nanti kita dapat menjadi rujukan internasional, bukan hanya menjadi perujuk. Mari kita tunggu.

hbn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s