Al Ushul min 'Ilmil Ushul / Kajian Kitab

Hukum-Hukum dalam Ilmu Ushul Fiqh

Judul Kitab: Al Ushul min ‘Ilmil Ushul
Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin
Tanggal: 23 Maret 2015
Topik: Hukum-Hukum dalam Ilmu Ushul Fiqh
Pengkaji: Ustadz Hasan al-Jaizy

[Pertemuan #3]

Nasehat Ustadz Hasan:
Kesalahan kebanyakan para penuntut ilmu adalah mereka tidak menghafalkan kajian yang mereka ikuti sehingga ilmu tersebut tidak terikat. Mereka hanya datang mendengarkan tapi tidak menghafalakan.

Hukum-Hukum

Definisi Hukum-Hukum

Definisi Hukum-Hukum

Hukum-hukum adalah jama’ dari kata hukum, dan hukum secara bahasa berarti al-qadha’ (keputusan/ketetapan). Sedangkan secara istilah, hukum adalah apa-apa yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan syariat yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan orang-orang yang menerima hukum (mukallaf) baik berupa thalab (perintah/tuntutan/permintaan), takhyir (pemilihan/pembolehan untuk memilih), atau wadh’.

  • Wadh’ secara bahasa berarti ‘menaruh’. Istilah wadh’ ini akan dibahas secara khusus pada kajian yang akan datang, insya Allah.
  • Pernyataan-pernyataan syariat : al-Qur’an dan as-Sunnah

Nasehat Ustadz Hasan
Niatkanlah mempelajari ilmu ushul fiqh ini lillahi ta’ala untuk memahami al-Qur’an dan as-Sunnah.

  • Perbuatan-perbuatan mukallaf : ucapan lidah maupun perbuatan anggota tubuh lainnya, baik berupa melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan. Hal ini dikarenakan meninggalkan suatu perbuatan pun juga adalah suatu perbuatan.
  • Aqidah tidaklah masuk ke dalam pembahasan ilmu ushul fiqh karena yang dihukumi adalah perbuatan, bukan aqidah atau keyakinan. Perbuatan yang dimaksud adalaah perbuatan fisik, bukan qalbu.
  • Mukallaf = orang yang diberi taklif.
  • Taklif = pembebanan.
  • Mukallif = yang memberi beban.
  • Mukallaf = (istilah) orang diberi beban dengan syariat Islam.
  • Batasan mukallaf = orang yang berakal dan baligh.
  • Jadi, anak kecil dan orang gila/tidak berakal tidak termasuk mukallaf. Dikecualikan orang yang gila karena disengaja (misalnya mabuk karena sengaja minum khamr), maka ia tetaplah mukallaf dan wajib mengganti kewajiban yang tertinggal. Orang yang tidak berakal di sini juga termasuk orang yang pingsan tanpa sengaja. Adapun orang yang pingsan karena disengaja, maka ia tetap mukallaf dan wajib mengganti kewajiban yang tertinggal.
  • Thalab = ada unsur permintaan/perintah/tuntutan.
  • Thalab terbagi menjadi dua yaitu 1. perintah untuk melakukan sesuatu (menghasilkan hukum wajib atau sunnah) dan 2. perintah untuk meninggalkan sesuatu (menghasilkan hukum haram atau makruh).
  • Hukum mubah bisa muncul dalam takhyir, yaitu pembolehan memilih untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Tidak ada tuntutan sama sekali di dalam takhyir.

Hukum-hukum dalam Thalab : wajib, sunnah, haram, makruh
Hukum-hukum dalam Takhyir : mubah

  • Wadh’ secara bahasa berarti menaruh.
  • Dalam Thalab dan Takhyir, hukum yang ditetapkan menjadi Hukum Taklify. Adapun dalam Wadh’, maka hukum yang ditetapkan menjadi Hukum Wadh’i.
  • Hukum wadh’i membahas tanda-tanda atau sifat-sifat yang ditetapkan oleh Allah yang menunjukkan pemberlakuan atau pembatalan sesuatu (benar atau salah, sah atau tidak sah, bisa diterima atau tidak diterima, dsb). Contoh: Menghadap kiblat => sifat untuk sahnya shalat, bersuci => sifat untuk diperbolehkannya (legalisasi) mendirikan shalat.
  • Hukum wadh’i memang berbeda dengan hukum taklify, tapi hukum wadh’i penting untuk merekonstruksi suatu amalan. Karena kita tidak akan bisa beramal tanpa mengetahui syarat-syarat, rukun, dan sebagainya.

Advertisements

2 thoughts on “Hukum-Hukum dalam Ilmu Ushul Fiqh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s