Review Buku

Kisah Shahih Para Nabi, Mungkin Anda Juga Belum Tahu

kisah shahihJudul Buku: Kisah Shahih Para Nabi (Shahih Qishashul Anbiya’)
Penulis : Ibnu Katsir
Penerbit :Pustaka Imam Syafi’i
Cetakan, Tahun Terbit: II, 2009
Tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali

Siapa tak kenal Ibnu Katsir? Kitab-kitab karyanya selalu populer di kalangan para penuntut ilmu agama. Tak habis-habisnya kitab-kitab Ibnu Katsir dikaji ulang, ditahqiq, diringkas, maupun dilakukan penelaahan-penelaahan lain dengan berbagai metode. Baarakallahu fiih. Qishashul Anbiya alias Kisah-Kisah Para Nabi merupakan salah satu kitab masyhur karya beliau. Dan sebagaimana kitab-kitab Ibnu Katsir lainnya, kitab ini juga menampilkan berbagai dalil dari dalil shahih, dalil dha’if, hingga kisah-kisah Israiliyat.

Dalam rangka mempermudah para penuntut ilmu untuk memperoleh kisah-kisah para nabi berdasarkan dalil-dalil shahih saja, dalil-dalil yang sudah pasti dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka Syaikh Salim berinisiatif melakukan tahqiq atas Qishashul Anbiya’. Dengan demikian, setelah menghilangkan dalil-dalil serta kisah-kisah tidak shahih dari Qishashul Anbiya’, lahirlah kitab ini: Shahih Qishashul Anbiya’ (Kisah Shahih Para Nabi).

Shahih Qishashul Anbiya’ terdiri atas dua jilid. Saya membaca bergantian dengan suami saya dan kebetulan saya membaca jilid 2 terlebih dulu. Baru setelah menyelesaikan jilid 2, saya lanjutkan membaca jilid 1 ini. Shahih Qishashul Anbiya’ jilid 2 begitu menarik bagi saya karena banyaknya nabi-nabi yang ternyata belum saya ketahui kisah shahihnya sebelum membaca buku tersebut, seperti nabi Danial, nabi Yusya’, nabi Hizqiyal, nabi Syamuel, dan nabi ‘Uzair.

Nah, ketika akan membaca kitab jilid 1 ini, pertama kali saya melihat daftar isinya. Adakah nama nabi yang belum saya ketahui kisahnya? Saya baca sekilas, ternyata nama-nama nabi di jilid 1 ini semestinya sudah kita kenal semua. Yang belum kita kenal dengan baik mungkin adalah kaum Rass dan kaum Yaasin yang tidak diketahui nama nabinya. Lalu, apakah membaca kitab ini akan jadi membosankan? Tidak! Sekali-sekali tidak! Justru dari kitab ini, saya mengetahui detail dari kisah-kisah para nabi yang selama ini hanya dipelajari sepintas lalu di bangku sekolah sehingga mungkin kurang terasa kedahsyatan dan ke-Maha Besar-an Allah dalam kisah-kisah tersebut, kurang merasa takjub atas mukjizat para nabi. Setelah membaca buku ini, barulah saya merasakan betapa mukjizat mereka memang benar-benar menjadi hujjah atas kekuasaan Allah yang tak terbantahkan. Bukti bahwa para nbi itu adalah benar-benar utusan Allah, bukan yang lainnya.

1. Kisah Kaum Tsamud, Kaumnya Nabi Shalih

Yang pernah saya pelajari ketika sekolah: Di sekolah, mungkin kita pernah belajar bahwa mukjizat Nabi Shalih adalah seekor unta betina. Kaum Tsamud diadzab karena mendustakan ajakan Nabi Shalih untuk bertauhid dan kemudian membunuh unta Nabi Shalih, padahal mereka diperintahkan untuk tidak mengganggunya.

Yang ada di benak saya: Bagaimana seekor unta dapat menjadi sebuah mukjizat? Apa yang menakjubkan dari seekor unta? Kenapa seseorang seharusnya bisa tersadar akan kebenaran seorang utusan dengan seekor unta?

Jawaban terang yang saya peroleh dari kitab ini: Sebagaimana para rasul yang lain, Nabi Shalih mengajak kaumnya untuk beribadah hanya kepada Allah. Namun sunnatullah, kebanyakan manusia adalah ingkar dan mendustakan Nabi Shalih (bahwa beliau adalah utusan Allah). Mereka pun tetap menyembah dewa-dewa mereka, sesembahan selain Allah. Hanya sedikit dari mereka yang beriman. Kebanyakan dari mereka malah menantang Nabi Shalih untuk mendatangkan adzab yang diancamkan. Sungguh kaum yang sombong padahal Allah begitu pemurah memberikan rizki kepada seluruh hamba-Nya. Bertahun-tahun lamanya Nabi Shalih berdakwah namun mereka tetap mendustakan, bahkan bosan terhadap nasehat Nabi Shalih. Jika kita bicara bertahun-tahun dakwah para Nabi, janganlah kita bayangkan beberapa tahun atau berbelas dan berpuluh tahun. Para nabi adalah orang-orang yang sabar yang berdakwah hingga berpuluh bahkan beratus-ratus tahun. Nah, kaum Nabi Shalih yang terus menerus mendustakan ini akhirnya mengejek Nabi Shalih dengan tantangan unta: “Jika Nabi Shalih mampu menghadirkan unta di antara dua batu yang berada di celah sempit antara dua gunung, maka mereka akan percaya dan beriman.” Nabi Shalih telah memperingatkan agar kaumnya tidak bermain-main dengan adzab. Karena jika mukjizat telah ditampakkan namun mereka tetap ingkar dan tidak beriman, niscaya adzab akan diturunkan di dunia. Demikianlah, kaum Tsamud tetap menantang. Akhirnya Allahpun mengeluarkan unta dari antara batu-batu tersebut, unta yang langsung Allah ciptakan. Inilah mukjizat nabi Shalih, bukti yang nyata dari Allah. Seharusnya manusia tak lagi bisa mendustakan bukti nyata ini, bahwa nabi Shalih adalah benar-benar utusan Allah dan membawa risalah yang haq.

Unta Nabi Tsamud yang Disembelih: Selanjutnya, dikisahkan bahwa kaum nabi Shalih tidak bersabar dengan unta tersebut dan menyembelihnya.

Yang ada di benak saya: Ketika saya masih sekolah, yang saya tangkap adalah unta tersebut disembelih tak lama setelah dihadirkan di tengah-tengah kaum Tsamud untuk menentang Nabi Shalih. Oleh karena itu, turunlah adzab dari Allah.

Setelah membaca buku ini: Ternyata oh ternyata, ada selang waktu beberapa lama antara diturunkannya unta tersebut dengan penyembelihan. Unta yang merupakan mukjizat tadi sempat hidup dengan aman di tengah-tengah kaum Tsamud, namun tetap saja kaum Tsamud tidak beriman kecuali sedikit saja walaupun ada bukti nyata di antara mereka. (Lihatlah betapa Allah selalu memberi kesempatan bagi orang-orang untuk bertaubat). Hingga akhirnya mereka bosan berbagi tempat minum dengan unta tersebut lalu mereka melanggar perintah Allah dengan menyembelihnya dan merencanakan makar untuk membunuh nabi Shalih, maka turunlah adzab bagi mereka. Adzab yang diturunkan pun melalui beberapa tahap dari ancaman, penimpaan penyakit, kematian beruntun, hingga adzab final yang membinasakan mereka seluruhnya yang masyhur kita dengar (halilintar mengguntur yang membinasakan kaum Tsamud)

2. Kisah Kaum ‘Aad, kaumnya Nabi Hud

Kaum ‘Aad adalah salah satu kaum yang juga dibinasakan oleh Allah. Mereka hidup sebelum kaum Tsamud (jadi kaum Tsamud adalah pengganti kaum ‘Aad).

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan” (Q.S. Al-A’raf: 73-74)

Yang saya pelajari di sekolah: kaum ‘Aad mendustakan ajakan Nabi Hud untuk bertauhid kepada Allah sehingga mereka diadzab dengan angin yang berhembus (ada juga yang bilang angin topan). Lalu mereka mati bergelimpangan dan seolah-olah tak pernah hidup di negeri tersebut.

Yang ada dalam benak saya: setelah nabi Hud berdakwah selama kurun waktu yang cukup lama dan kaumnya terus mendustakan, maka mereka diadzab dengan angin kencang yang membunuh mereka semua, bencana alam yang dahsyat dan seketika mematikan.

Setelah membaca kitab ini: mengertilah saya bahwa adzab untuk kaum ‘Aad diturunkan dalam beberapa tahap yang mana mereka sendiri tidak menyadari bahwa mereka sedang diadzab. Mereka mengira bahwa angin dan awan yang dikirimkan kepada mereka setelah kemarau panjang adalah rahmat yang diturunkan karena permohonan dan persembahan mereka kepada sesembahan-sesembahan selain Allah. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Ahqaaf : 24-25

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,
yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. “

Saya terhentak, mengingatkan untuk selalu waspada terhadap apapun fenomena alam yang terjadi di sekitar kita. Takutlah, jangan-jangan berbagai fenomena alam tersebut merupakan salah satu bentuk adzab. Untuk itu, pentinglah bagi kita untuk berdoa dengan doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika menemui berbagai fenomena alam seperti hujan, petir, angin, dan lain sebagainya. Kita lebih patut untuk merasa khawatir, karena Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dijamin keselamatan untuknya pun merasa khawatir

Dalam shahih Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia menuturkan “ Ketika angin berhembus, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya, kebaikan apa yang ada padanya, dan kebaikan yang dibawa oleh angin yang Engkau kirim. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya, kejahatan apa yang ada padanya, dan kejahatan yang dibawa oleh angin yang Engkau kirimkan.’”
Lebih lanjut ‘Aisyah menuturkan: “Jika langit tertutup awan maka wajah beliau berubah, lalu keluar masuk rumah, dan mondar mandir. Apabila awan itu menurunkan hujan, maka beliau merasa senang dan lega.”
Melihat hal itu, ‘Aisyah menanyakannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjawab: “Hai ‘Aisyah, mungkin saja hal itu adalah seperti yang dikatakan oleh kaum ‘Aad:
‘Maka ketika mereka melihat adzab itu
berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami…’ (Q.S. Al-Ahqaaf: 24).”

Ada juga riwayat lain dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia menuturkan “Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga terlihat anak lidah (tekak) beliau. Karena beliau seringnya hanya tersenyum saja.” Lebih lanjut ‘Aisyah menceritakan: “Jika beliau melihat awan atau adanya angin, maka akan terlihat perubahan pada wajah beliau.” Dia bertanya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya jika orang-orang melihat awan, maka mereka merasa gembira dengan harapan awan tersebut membawa hujan. Akan tetapi aku melihat dirimu jika melihat awan itu, maka terlihat pula kegelisahan pada wajahmu?” Beliau menjawab: “Hai ‘Aisyah, tidak ada yang menjaminku bahwa di dalam awan itu tidak ada adzab. Sesungguhnya suatu kaum telah diadzab dengan angin, dan pernah ada suatu kaum yang ketika melihat adzab mengatakan: ‘Inilah awan yang menurunkan hujan kepada kami.’”

3. Kisah Nabi Adam ‘alaihissalam

Kisah Nabi Adam yang saya pelajari semasa sekolah terbatas pada kisah bahwa beliau adalah manusia pertama yang diciptakan, lalu diciptakan pula istri nabi Adam dan mereka dipersilahkan tinggal di surga dengan satu larangan mendekati sebuah pohon. Naas, setan berhasil membujuk mereka untuk memakan buah pohon terlarang tadi sehingga terbukalah aurat mereka dan kedua insan ini diturunkan ke bumi. Di antara yang berkaitan dengan kisah Nabi Adam adalah kisah putra-putra mereka, yaitu Habil dan Qabil, yang salah satunya dibunuh oleh seseorang yang lain. That’s all what I learn about Prophet Adam.

Setelah membaca kitab ini, masyaAllaah…. betapa banyaknya ilmu yang baru saya ketahui berkenaan dengan kisah nabi Adam. Tentang putranya yang bernama Syith yang juga seorang nabi, hubungan umur nabi Adam dengan nabi Nuh, detik-detik akhir hayat nabi Adam, nabi Adam sebagai manusia tertampan yang Allah ciptakan, dan masih banyak lagi.

MaasyaAllaah, itu baru sebagian hal-hal baru yang saya ketahui dengan perantara kitab ini. Masih banyak ilmu dan kisah lain yang saya peroleh, termasuk di antaranya juga faedah serta hikmah:

  1. Sebaiknya dalam hidup ini kita selalu mengaplikasikan khauf dan roja terhadap Allah. Khauf (khawatir) atas adzabNya, roja (penuh harap) atas rahmatNya.
  2. Tidak selayaknya kita untuk merasa aman dengan berbagai fenomena alam yang ada di sekitar kita. Apa yang tampaknya sekadar fenomena alam, atau apa yang kita kira adalah rizqi, bisa jadi justru merupakan adzab namun kita tidak menyadarinya. Yang terbaik adalah berusaha semampu mungkin mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shalalllahu ‘alaihi wa sallam atas segala hal.
  3. Melalui buku ini, saya diingatkan tentang adab ketika melewati bekas tempat terjadinya adzab. Adabnya adalah kita harus menangis (karena takut kepada Allah). Jika tidak bisa, buatlah menangis. Jika tidak demikian, dikhawatirkan kita akan tertimpa adzab yang serupa. Adab ini tampaknya banyak dilupakan oleh manusia yang bahkan kini menjadikan banyak tempat bekas adzab sebagai objek wisata.
  4. Kisah kaum ‘Aad dan kaum Tsamud tidak diketahui oleh ahlul kitab karena tidak tercantum di dalam kitab mereka. Walaupun demikian, sebenarnya nabi Musa telah menyampaikan berita ini kepada kaumnya. Namun karena kaum ‘Aad dan kaum Tsamud berasal dari kalangan bangsa Arab, mereka tidak mencatat ataupun berusaha memeliharanya walaupun berita tersebut sangat popular pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salaam.
  5. Para nabi adalah orang-orang yang berasal dari kalangan terhormat yang disegani oleh kaumnya, namun kemudian kebanyakan orang kemudian mendustakan dan menghinakan para nabi karena dakwah mereka untuk bertauhid kepada Allah saja.

Lima point di atas hanyalah segelintir kecil yang bisa saya tuliskan, namun sesungguhnya masih banyak lagi yang dapat kita peroleh dari buku ini. Termasuk di antaranya, semestinya kita semakin yaqin dengan keesaan Allah dalam hal ketuhanannya (Rububiyah) maupun dari segi penyembahannya/peribadatan (Uluhiyah). Di samping itu, semestinya kita juga jadi lebih sabar. Karena segala ujian yang ditimpakan kepada kita tidak akan pernah melebihi ujian yang dicobakan kepada para nabi dan rasul. Wallahu a’lam.

Akhir kata, saya sangat merekomendasikan Anda untuk membaca sendiri buku ini. Yang jilid 1 maupun 2. InsyaAllah banyak manfaat yang bisa diambil dengan membaca buku-buku ini.

Advertisements

5 thoughts on “Kisah Shahih Para Nabi, Mungkin Anda Juga Belum Tahu

    • Huehehe… kl sekarang, dengan adanya dua balita aktif, g jelas dech. Pokoknya sesempatnya bisa pegang buku ya dipake buat baca buku, hatta cuman 1 menit. Dapat bacaan seberapa banyak ya sedapetnya, hatta cm 1 sub bab atau bahkan 1 paragraf. Jadinya satu buku bisa baru selesai setelah sebulan atau berbulan-bulan atau bahkan setahun,:D

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s