Al Ushul min 'Ilmil Ushul / Kajian Kitab

Hukum Wadh’iy (#1)

ushul min 'ilmil ushulJudul Kitab: Al Ushul min ‘Ilmil Ushul
Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin
Streaming Live: 1 April 2015
Topik: Hukum Wadh’iy (#1)
Pengkaji: Ustadz Hasan al-Jaizy

  • Hukum wadh’iy adalah apa yang diletakkan/diberikan/ditaruh/diberlakukan oleh syari’ (Allah) berupa tanda-tanda atau sinyal-sinyal. Tanda-tanda ini menunjukka 4 hal, yaitu: Ketetapan / validitas / kebenaran perbuatan, ketiadaan perbuatan, keberlakuan perbuatan, dan ketidakberlakuan perbuatan.
  • Di antara hukum wadh’iy adalah shahih dan fasid (namun tidak terbatas pada dua hukum ini).
  • Shohih secara bahasa berarti salim (selamat dari penyakit). Adapun secara istilah, shahih berarti apa yang pengaruh perbuatannya berimbas/berakibat padanya. Dengan demikian, fasid secara istilah berarti apa yang pengaruh perbuatannya tidak berpengaruh padanya.
  • Contoh kasus: menggunakan ATM dan memasukkan pin. Jika pin yang dimasukkan shahih (benar), maka akan ada efek yang diharapkan yaitu dapat dilanjutkannya transaksi via ATM. Namun jika pin yang dimasukkan salah (fasid/bathil), maka tidak akan ada efek yang diharapkan. Yang ada malah kartu keluar lagi atau malah bisa tertelan.
  • Ibadah yang shahih: ibadah yang membuat seseorang terbebas dari beban/tanggungan dan gugur darinya tuntutan. Hal ini merupakan efek dari sahnya ibadah. Ibadah yang sah berakibat pada gugurnya tuntutan dan terbebasnya seseorang dari beban. Sedangkan ibadah yang tidak sah tidak akan memiliki pengaruh yang diharapkan, yaitu pelakunya mesaih tetam punya tuntutan dan belum terbebas dari beban.
  • Ibadah yang fasid: ibadah yang tidak membebaskan seseorang dari beban dan tidak menggugurkan tuntutan.
  • Contoh ibadah yang fasid: Seseorang melaksanakan shalat yang rusak. Hal tersebut membuatnya tidak dianggap melakukan shalat sehingga shalatnya tidak berpengaruh terhadap gugurnya beban (bebannya belum gugur, dia masih dituntut untuk melakukan shalat tersebut).
  • Akad yang shahih: akad yang pengaruhnya berakibat pada keberadaan akad tersebut.
  • Contoh #1: akad jual beli mengharuskan adanya kepemilikan seorang pembeli atas barang yang dibeli. Akad jual beli yang shahih: pembeli membeli barang ke penjual lalu dapat memiliki barang yang dibeli. Akad jual beli yang fasid: pembeli membeli barang ke penjual tapi barang yang ia beli tidak boleh dimiliki.
  • Contoh #2: akad nikah yang shahih membuat kedua mempelai sudah tidak memiliki batas aurat satu sama lain. Akad nikah yang fasid adalah jika kedua mempelai tidak diperbolehkan saling melihat/menyentuh walaupun sudah dilaksanakn akad.
  • Sesuatu tidak dianggap shahih/sah kecuali terpenuhi syarat-syaratnya secara sempurna (kecuali pada kondisi darurat) dan terhindar dari penghalang-penghalangnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s