Al Ushul min 'Ilmil Ushul / Kajian Kitab

Hukum Wadh’iy (#2)

ushul min 'ilmil ushulJudul Kitab: Al Ushul min ‘Ilmil Ushul
Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin
Live Streaming: 6 April 2015
Topik: Hukum Wadh’iy (#2)
Pengkaji: Ustadz Hasan al-Jaizy

[Pertemuan #7]

Pada kajian yang lalu, kita telah membahas pengertian hukum wadh’iy menurut Syaikh al-Utsaimin, yaitu “Apa yang diletakkan oleh syari’ (Allah) dari tanda-tanda / sinyal-sinyal untuk penetapan kebenaran, peniadaan, keberlakuan, dan ketidakberlakuan.”

Bagi sebagian orang, definisi di atas agak sulit dipahami. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini kita pelajari pengertian lain dari hukum wadh’iy yang insyaAllah lebih mudah, yaitu: Pernyataan Allah (melalui al-Qur’an/as-Sunnah) dengan cara menjadikan sesuatu sebagai sebab atau syarat atau penghalang atau keshahihan atau kefasidan.”

Dari definisi yang kedua ini, dapat disimpulkan bahwa hukum wadh’iy di antaranya (namun tidak terbatas pada) berupa:

  • sebab/illah
  • syarat
  • penghalang
  • keshahihan
  • kefasidan

Contoh:

  • syarat agar shalat sah adalah dengan berwudhu => hukum wadh’iy
  • hukum bersuci sebelum shalat adalah wajib => hukum taklifiy
  • Haidh adalah penghalang untuk melakukan shalat => hukum wadh’iy
  • Orang yang sedang haid haram untuk melakukan shalat => hukum taklify

Hukum-hukum wadh’iy yang lain:

  • Rukhshah / keringanan. Contoh: sholat ashar yang seharusnya 4 rakaat, boleh dilakukan 2 rakaat saja pada kondisi tertentu.
  • ‘Azimah / keaslian hukum. Contoh: sholat ashar terdiri dari 4 rakaat.
  • Qodho’ / melakukan di luar keaslian waktu. Contoh: mengganti puasa Ramadhan di bulan lain karena berhalangan melakukan di bulan Ramadhan.
  • Adha’ / melakukan sesuai keaslian waktu. Contoh: melakukan shalat tepat pada waktunya.
  • ‘I’adah / mengulang. Contoh: mengulang kembali shalat yang dilakukan dengan terburu-buru.

Jika kita bandingkan definisihukum wadh’iy menurut Syaikh Utsainim dengan definisi yang baru kita bahas, maka:

  • Tsubut lebih dekat pada syarat. Contoh: waktu shalat Subuh masuk jika sudah tapak fajar shodiq.
  • Intifa lebih dekat pada menafikkan.
  • Nufud lebih dekat pada keberlakuan amal. Contoh: perdagangan yang sah adalah perdagangan yang terselenggarakan.
  • Ilghoh adalah lawan dari shahih, yaitu fasid/bathil

Dalam kitab ini, Syaikh hanya menyebutkan contoh-contoh untuk shahih dan fasid, namun sebenarnya pembahasan tentang hukum wadh’iy adalah lebih luas darinya. Akan tetapi Syaikh berkehendak meringkasnya dalam buku ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s