Kajian Kitab / Syarh Ushul ats-Tsalatsah

[#2] Yang Wajib Diketahui Oleh Setiap Muslim

Judul Kitab: Syarh Ushul ats-Tsalatsah
Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Judul Terjemahan: Ulasan Tuntas Tentang Tiga Prinsip Pokok
Penerjemah: Zainal Abidin Syamsuddin, Lc dan Ainul Haris Arifin, Lc
Penerbit: Darul Haq

Live Streaming Kajian: 22 Maret 2015
Topik: Yang Wajib Diketahui Oleh Setiap Muslim
Pengkaji: Ustadz Hasan al-Jaizy

“Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa kita wajib mengetahui empat perkara. Pertama: Ilmu, yaitu mengetahui Allah, mengetahui nabiNya, serta agama Islam dengan dalil-dalil.”

Ilmu dan Pengetahuan

Ilmu adalah mengetahui sesuatu secara pasti sesuai dengan hakekatnya, tanpa keraguan sedikitpun.

Jika ada orang yang sangat yakin, namun ternyata apa yang dituturkan tidak sesuai dengan hakekatnya, maka yang demikian itu bukanlah ilmu.

Tingkatan-tingkatan pengetahuan:

1. al-ilmu: mengetahui secara pasti mengenai sesuatu sesuai hakekatnya (apa adanya yang terjadi).

2. al-jahil al-basith: kebodohan yg ringan, yaitu tidak mengetahui secara keseluruhan. Kebodohan yang standar.

Contoh:
X: “Si Fulan lulusan mana ya?”
Y: “Lulusan UI.”
X: “Jurusan apa?”
Y: “Wah, ana kurang tahu.”
Y mengetahui, namun tidak secara keseluruhan. Adapun terhadap hal-hal yang dia tidak tahu, dia mengatakan tidak tahu.

3. al-jahil al-murokkab: kebodohan yg berlipat, yaitu pengetahuan terhadap sesuatu namun berlawanan dengan yang sebenarnya. Kebodohan jenis ini ada yang terpuji, tercela, dan sangat tercela.

Contoh yang terpuji:
Seseorang telah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencari hakekat dari suatu permasalahan, namun ternyata memperoleh kesimpulan yang salah.

Contoh yang tercela:
seseorang tidak terlalu berusaha untuk mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh, lalu mendapatkan suatu pengetahuan, lalu mencukupkan diri dengan apa yang diketahuinya dan memilih jalan tersebut walaupun ternyata kesimpulan tersebut bertentangan dengan kebenaran.

Contoh yang sangat tercela:
seseorang yang ngotot dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran. Misalnya, Fulan adalah lulusan UI. Lalu terjadi suatu dialog
X: “Si Fulan lulusan mana ya?”

Y: “Fulan lulusan UNJ.”
Z: “Lho, bukannya Fulan itu lulusan UI ya? (sambil memaparkan bukti)”
Y: “Bukan, Fulan lulusan UNJ! Kalau tidak percaya, silakan keluar dari sini.”

Y melakukan al-jahil al-murokkab yang sangat tercela.

4. al-wahm: tingkatannya sedikit di atas al-jahil al-basith, yaitu pengetahuan terhadap sesuatu dengan adanya kemungkinan berlawanan dari yang sebenarnya. Jadi kemungkinannya masih bisa benar atau salah, dan ia menemukan bukti-bukti yang mendukung pengetahuannya. Setelah di-crosscheck, ternyata ada bukti-bukti lain yang lebih kuat yang tidak sesuai dengan pengetahuannya. Al-wahm agak sedikit mirip dengan al-jahil al-murrokab yang terpuji.

5. asy-syak: ragu-ragu, yaitu pengetahuan atas sesuatu dg kemungkinan salah/benar yang sama-sama kuat.

6. azh-zhon: persangkaan, namun yang bertentangan dengan al-wahm. Maksudnya, seseorang memiliki pengetahuan terhadap sesuatu dengan bukti-bukti, namun masih adanya kemungkinan berlawanan dg kebenaran. Selanjutnya, dia melakukan tarjih terhadap bukti-bukti yang ada, memilahnya mana yang kuat dan lemah, lalu mengambil kesimpulan dengan bukti-bukti yang kuat.

Dalam berbagai penggunaan istilah, zhon bisa memiliki beberapa arti:

1. zhon kadang-kadang juga dimasukkan ke dalam al-ilmu. Contoh: persangkaan orang-orang yg beriman dan masuk surga bahwa mereka akan melihat Allah. Zhon ini sebenarnya adalah ilmu.

Muka mereka (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kalian sendiri.” (HR. Bukhari no. 485).

2. kadang-kadang dimaksudkan sebagai menguatkan salah satu pilihan daripada yg lain, inilah zhon yang kita maksud dalam pembagian ilmu di atas.

3. terkadang zhon merupakan persangkaan semata tanpa dalil (tercela). Contoh: persangkaan orang-orang yang sesat seperti dalam firman Allah:

“Sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti persangkaan semata (tanpa ada bukti) dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Q.S. Al-An’am: 116)

Jika diibaratkan dalam prosentase, tingkat kebenaran dari pengetahuan-pengetahuan di atas yaitu :

al-ilmu (90%-100%), al-jahil al-basith (0%), al-jahil al-murokkab (minus), al-wahm (25%), asy-syak (50%), azh-zhon (75%)

Macam-Macam Ilmu

Ilmu terbagi dua, yaitu:

  1. Ilmu dharuri: pengetahuan thd sesuatu yg sgt mendasar, ilmu yang langsung diketahui tanpa pembuktian dan dalil. Terkadang dapat diketahui dg jelas oleh panca indera. Misal: ilmu bahwa api itu panas, air adalah zat cair, setengah lebih banyak dari penuh, dll. Jika terkait dengan agama, misalnya: pengetahuan tentang siapa Tuhanmu, siapa nabimu, rukun iman, dll (jika kita belajar Islam sejak kecil, kita sudah diberi tahu semua ini sejak kecil)
  2. Ilmu nazhari: pengetahuan yang membuktikan penelitian dan pembuktian dengan dalil. Misal: hukum shalat berjama’ah, hukum kenajisan kotoran hewan yang halal dimakan dagingnya, dll.

Penetapan ilmu dharuri dan ilmu nazhari terkadang juga tergantung pada orangnya. Misalnya, pengetahuan tentang rukun iman/rukun Islam/surat al-Fatihah dan terjemahnya bagi kita adalah ilmu dharuri. Adapun bagi muallaf, pengetahuan-pengetahuan tersebut adalah ilmu nazhari.

Rahimakallah (semoga Allah merahmatimu)

Di dalam kalimat ini, terdapat doa memintakan ampun (dari dosa), taufiq (untuk amalan), dan penjagaan (dalam kehidupan di masa yang akan datang) untuk orang yang didoakan. Jadi jika doa untuk rahmat disebutkan sendiri, maka sesungguhnya di dalamnya juga tedapat doa untuk maghfirah (ampunan).

Kita sering membaca dalam al-Qur’an bahwa rahmat dan ampunan disebutkan beriringan, misalnya wallahu ghafururrahim. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya rahmat Allah dan ampunanNya adalah saling mengikuti. Jadi, seseorang yang bertaubat dan diampuni oleh Allah, maka Allah merahmatinya. Sebaliknya, di balik rahmat Allah kepada seorang hamba, juga terdapat maghfirah. Misalnya, orang-orang yang dicintai oleh Allah akan diberikan ujian. Ujian ini adalah rahmat dari Allah, dan di balik ujian tersebut terdapat ampunan dari Allah (jika bersabar). Demikian juga, ketika maghfirah disebutkan sendiri (tanpa rahmat), di dalamnya sudah terdapat unsur rahmat. Contoh: doa allahummaghfirlahu. Maka dengan doa ini, kita memintakan ampun atas dosa-dosa orang yang didoakan dan agar Allah merahmatinya.

Jika doa kerahmatan dan ampunan disebutkan bersama-sama, maka masing-masing memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Misalnya doa: allahummagh firlahu allahummarhamhu. Dengan doa maghfirah, berarti kita mendoakan agar orang yang didoakan diberikan ampunan dari dosa-dosa. Adapun mendoakan seseorang dengan doa rahmat, berarti kita mendoakan agar Allah menjaganya, memberinya rizki yang baik, dan memberinya taufiq. Dengan kata lain, maghfirah merupakan ampunan untuk dosa-dosa yang telah lalu, sedangkan rahmat merupakan taufiq dan penjagaan dari dosa-dosa yang akan datang.

Penulis menuliskan doa rahimakallah dalam tulisannya, menunjukkan kecintaan penulis kepada orang-orang yang diajaknya berbicara (para pembaca), serta keinginan beliau agar para pembaca memperoleh kebaikan. Hal ini juga menunjukkan kebaikan akhlak sang penulis, bertolak belakang dengan anggapan sebagian orang yang menganggap beliau suka mengkafirkan orang Islam. Padahal ketika menulis kitab ini, beliau tidak tahu siapa yang akan membaca kitab ini. Walaupun demikian, beliau mendoakan kita semua agar memperoleh kebaikan. Adalah suatu hal yang ironis jika kita (di antara para pembaca kitab beliau), justru melaknat beliau yang telah mendoakan kebaikan untuk kita.

Mengenal Allah

Empat perkara yang disebutkan oleh penulis untuk diilmui seluruhnya adalah perkara-perkara agama. Hal ini menunjukkan tentang wajibnya bagi kita untuk mempelajari agama di atas ilmu-ilmu yang lain. Yang paling utama adalah:

1. Mengetahui Allah: maksudnya adalah mengetahui Allah dengan qalbu. Jadi bukan hanya mengetahui Allah secara tekstual, tapi juga meresap ke dalam qalbu. Meresapnya pengenalan terhadap Allah hingga ke dalam qalbu menimbulkan konsekuensi untuk menerima apa yang Allah syariatkan, patuh dan tunduk kepada Allah, serta berhukum sesuai dengan aturan-aturan Allah.

Cara mengenal Allah (siapa Allah, apa yang Allah lakukan, sifat-sifat Allah, dll):
– mengeskplor dan merenungkan ayat-ayat syar’iyyah (al-Qur’an dan hadits)
– merenungkan ayat-ayat kauniyah (segala yang ada di alam semesta). Ketika seseorang melihat setiap sesuatu di alam, dia akan teringat kepada Allah.

Kedua cara di atas harus dilakukan, tidak lengkap hanya dengan melihat salah satunya. Seseorang yang hanya mempelajari al-Qur’an dan hadits namun tidak pernah melihat berbagai kejadian, maka ia tidak melihat tanda-tanda kebesaran Allah dan tidak memperoleh faedah yang bisa didapat karena melihat ketakjuban yang akan mengingatkannya kepada Allah. Adapun, orang kafir yang memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menyadarinya bahwa semua hal di alam adalah hasil karya Sang Maha Pencipta, namun ia tidak mempelajari al-Qur’an dan hadits, maka ia tetap kafir. Dan bagi kita para muslim, seringkali juga lalai untuk mengingat Allah serta mempelajari al-Qur’an dan hadits, padahal setiap saat melihat berbagai tanda-tanda kekuasaanNya di setiap ciptaan Allah.

Salah satu manfaat mengenal Allah, misalnya, ketika terjadi sesuatu yang mengancam kita, lalu kita teringat pada Allah dan bahwa sesuatu tidak akan terjadi melainkan dengan izin Allah. Kita dapat berdoa memohon perlindungan kepada Allah dan Allah perkenankan doa kita. Adapun jika bahaya tersebut tetap menimpa kita walaupun kita telah berusaha dan berdoa, maka kita harus tetap bersabar karena Allah pasti menetapkan kebaikan yang lain di baliknya. Walaupun demikian, baiknya persangkaan kita terhadap Allah (husnuzhan), tidaklah boleh membuat kita berlaku tawaakul. Tawaakul yaitu mengharapkan kebaikan Allah semata tanpa usaha yang sungguh-sungguh.

Notes: catatan di atas hanyalah ringkasan dari isi kajian. Silakan simak kajian selengkapnya untuk penjelasan yang lebih jelas dan memperoleh faedah yang lebih banyak (contoh-contoh konkret, kisah nyata seorang pendeta yang masuk Islam karena merenungkan ayat-ayat kauniyah dan syar’iyyah, dll).

Go to:

logo_kirana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s