Kajian Kitab / Syarh Ushul ats-Tsalatsah

[#3] Yang Wajib Diketahui Oleh Setiap Muslim (2)

Judul Kitab: Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Pemateri: Hasan al-Jaizy
Live Streaming: 12 April 2015

MENGETAHUI NABINYA

Yang dimakud dengan nabiNya, di sini, adalah nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mengetahui nabiNya berarti mengetahui nabi Allah, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dengan konsekuensi menerima apa yang dibawanya.

Jadi, mengetahui tentang nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam saja tidaklah cukup. Karena jika mengetahui saja, maka hal ini seperti keadaan orang-orang Yahudi. Mereka sangat mengetahui nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan mengenal anak-anaknya sendiri, tapi tidak mau menerima syariat yang dibawa oleh beliau.

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 146)

Kalau di zaman sekarang, ada kaum orientalis. Mereka mempelajari tarikh nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tapi bukan untuk menerima/mencari kebenaran, melainkan mencari celah untuk menjelek-jelekkan agama Islam. Mereka inilah orang-orang zindiq yang ingin menghancurkan agama Islam dari dalam.

KONSEKUENSI MENGETAHUI NABI MUHAMMAD SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Di antara konsekuensi mengetahui nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

  1. Percaya dengan khabar-khabar yang beliau sampaikan, misalnya tentang Dajjal, kiamat, adzab kubur, dan lain-lain.
  2. Mematuhi apa yang diperintahkan oleh beliau dan menjauhi apa yang beliau larang.

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian.” (H.R. Bukhâri dan Muslim).

    Menjauhi berarti belum sampai melakukan perbuatan yang dilarang.

  3. Memutuskan perkara dengan syariat yang beliau bawa.

    Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Maaidah : 49)

  4. Ridho dengan keputusan Allah dan RasulNya. Jika ada syariatNya yang tidak kita sukai, maka beristighfarlah dan memohon agar diberikan taufiq. Yang demikian ini agar kita tidak menjadi sasaran empuk bagi syaithan yang menghembus-hembuskan ketidaksukaan terhadap sebagian syariat Islam, yang dapat melebar menjadi kebencian terhadap Islam secara keseluruhan.

    Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65)

    Ayat di atas menunjukkan, bahwa selama kita belum mau menerima syariat Islam seutuhnya dan merasa ridho dengannya, maka belumlah benar-benar kita dikatakan beriman (meskipun tetap muslim).

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, sami’na wa atho’na (kami mendengar, dan kami taat). Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S. An-Nuur: 51)

Ucapan sami’na wa atho’na bukan hanya diucapkan di lisan namun diingkari di hati alias sami’na wa ashoina (kami mendengar tapi tidak menaati), tapi benar-benar diucapkan dari dalam lubuk hati dan diamalkan.

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri (ulama dam umara’) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. An Nisaa: 59)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur: 63).

Ayat di atas menunjukkan bahwa ketika kita menyalahi perintah Rasul, maka berhati-hatilah akan tertimpa fitnah. Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan fitnah adalah kesyirikan.

Realita saat ini, banyak kesyirikan yang justru dilakukan oleh orang-orang yang rajin ke masjid dan seolah-olah mengajak kepada Islam. Pada umumnya, mereka mempelajari fiqih namun tanpa dalil. Sebagian pondok pesantren tradisional mewajibkan santri-santrinya untuk menghafal kitab matan mazhab tertentu, namun tidak menghafal Al-Qur’an dan hadits. (Padahal, sekiranya mereka mau menghafal Al-Qur’an dan hadits, tentu akan lebih bermanfaat). Karena menyandarkan diri hanya pada kitab yang berisi perkataan manusia, dan tidak merujuk kembali kepada Al-Qur’an dan hadits, maka mereka cenderung menyelisihi dalil. Mereka pun tidak dapat memberikan dalil (karena memang tidak menghafalnya). Akibatnya, ketika ditunjukkan kepada mereka dalil-dalil, mereka menolak. Karena tidak dapat memberikan dalil, maka mereka mulai dibekali dengan hal-hal yang tanpa mereka sadari merupakan bentuk-bentuk kesyirikan. Misalnya: jimat, air sakti, ilmu kanuragan, dll. Dikatakan kepada mereka bahwa benda-benda atau kemampuan tersebut merupakan buah dari apa yang telah mereka pelajari. Na’udzubillahi min dzalik.

ISLAM

Ada 2 makna Islam yang wajib diketahui oleh setiap muslim, yaitu:

1. Islam Bermakna Umum

Secara umum, Islam bermakna bertauhid kepada Allah tanpa berbuat syirik sedikitpun. Inilah agama seluruh nabi dan Rasul. Sebagai contoh, Taurat adalah kitab yang diturunkan untuk bani Israil, para nabi setelah nabi Musa (sebelum nabi Isa), kaum rabbaniy (orang-orang yang berserah diri kepada Allah), orang-orang Yahudi, juga pendeta-pendeta mereka.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan kitab itu para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”
(Q.S. Al-Maidah: 44)

“Dan Musa berkata, ‘Wahai kaumku! apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang muslim (berserah diri)'”
(Q.S. Yunus: 84)

Telah jelas dalam Q.S. Yunus di atas bahwa istilah ‘muslim’ sudah ada sejak zaman nabi Musa. Demikian pula pada masa nabi Ibrahim dan Ya’qub (Israil).

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika beliau berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Sesembahanmu dan Sesembahan bapak-bapakmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Sesembahan Yang Maha Satu dan kami hanya tunduk kepada-Nya”.
(Q.S. Al-Baqarah: 131-132)

Pengikut nabi mana pun, meskipun syariatnya berbeda-beda, mereka adalah muslim/pemeluk agama Islam di zaman para rasul mereka.

2. Islam Bermakna Khusus

Secara khusus, Islam adalah agama yang Allah mengutus nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengannya dan menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikan agamanya sebagai penutup semua agama. Tidak ada lagi agama yang diridhoi Allah selain yang dibawa oleh nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan agama-agama yang sebelumnya jadi dihapuskan.

Makna dihapuskan:

  • Syariat-syariat agama yang terdahulu dihapus dengan syariat Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Barangsiapa masih memeluk/meyakini syariat agama terdahulu, harus mengikuti syariat Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak mau, maka dia termasuk orang-orang yang kufar.

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali ‘Imran: 85)

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al-Maidah: 3)

MENGETAHUI AGAMA ISLAM DENGAN DALIL-DALIL

Dalil-dalil adalah jamak dari kata dalil, dan dalil berarti ‘yang menunjukkan engkau kepada yang engkau cari’. Berdasarkan definisi tersebut, maka mengetahui Islam dengan dalil-dalil berarti: mencari dalil terlebih dulu sambil beristighfar, lalu mendapatkan kesimpulan. Bukan sebaliknya, memiliki kesimpulan dulu kemudian mencari dalil. Jika demikian yang terjadi, maka ini namanya mencari pembenaran.

Macam-macam dalil:

  1. Dalil aqli, yaitu dalil akal, dalil yang diperoleh berdasarkan tanda-tanda yang Allah tunjukkan di dunia ini lalu dipikirkan oleh akal.
  2. Dalil naqli/sam’i, yaitu dalil yang berdasarkan nash.

Contoh-contoh mengetahui agama Islam dengan dalil-dalil
1. Allah ada di langit

  • Dalil naqli:

    Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu; dia berkata, ”Aku mempunyai seorang budak perempuan yang menggembalakan kambingku di antara gunung Uhud dan Al-Jawaniyah. Suatu hari aku mengawasinya; tiba-tiba seekor serigala menerkam kambing yang dia gembalakan. Sebagai manusia biasa, tentu saja aku merasa kecewa sebagaimana orang lain kecewa. Aku pun memukul dan menampar budakku itu. Kemudian aku menemui Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menegurku. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa aku harus memerdekaannya?’ Beliau berkata, ‘Bawa dia kemari.’ Kemudian beliau bertanya kepadanya, ‘Di mana Allah?’ Budak itu menjawab, ‘Di langit.’ Beliau berkata, ‘Siapakah aku?’ Dia menjawab, ‘Engkau adalah Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Merdekakan dia! Sesungguhnya dia seorang mukminah.’” (HR.Muslim dan Abu Dawud)

  • Dalil aqli: Fitrah manusia, ketika berdo’a pasti mendongak/memohon ke atas.

2. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah

  • Dalil naqli:

    Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. Ali Imran: 144)

  • Dalil aqli: memperhatikan mujizat-mujizat beliau, misalnya Kitabullah dan khabar-khabar yang beliau sampaikan, yang isinya benar semua, tidak ada yang saling bertentangan.

Bagi seorang awam, mengetahui Islam dengan dalil-dalil berarti minimal pernah tahu, tidak harus hafal. Jadi, minimal dia pernah mendengarnya/mengetahuinya dari ustadz/ulama/orang-orang yang berilmu, disertai dengan dalil.

Notes: tulisan di atas adalah catatan penulis untuk kajian Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah (3). Dianjurkan agar pembaca menyimak sendiri kajian tersebut agar memperoleh faedah yang lebih banyak. Mohon dikoreksi apabila ada kesalahan dalam pencatatan kajian.

Go to:

logo_kirana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s