Kajian Kitab / Syarh Ushul ats-Tsalatsah

[#4] Konsekuensi Iman Kepada Allah

Kitab yang Dibahas: Ulasan Tuntas tentang Tiga Prinsip Pokok
Judul Asli: Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Pengkaji: Ustadz Hasan al-Jaizy
Live streaming: 12 April 2015

Nasehat yang telah lalu:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa kita wajib mengetahui empat perkara. Pertama: Ilmu, yaitu mengetahui Allah, mengetahui nabiNya, serta agama Islam dengan dalil-dalil.

Nasehat yang diulas pada kajian kali ini:

Kedua: mengamalkannya.

Mengamalkan merupakan konsekuensi dari pengetahuan. Bentuk dari amal adalah iman kepada Allah dan menjalankan ketaatan kepadaNya (ibadah).

Dalam syarh, disebutkan dua macam ibadah, yaitu ibadah khusus dan ibadah muta’addiyah. Maksudnya adalah:
1. Ibadah khusus: efek langsungnya adalah untuk si pelaku ibadah, meskipun nantinya juga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Contoh: shalat, puasa, haji, dll
2. Ibadah muta’addiyah: efeknya langsung dirasakan oleh masyarakat. Contoh: amar ma’ruf nahi munkar, jihad, sedekah, dll.

Lalu, mana yang lebih utama?
1. Jika berhubungan dengan kewajiban, maka ibadah khusus harus diutamakan. Contoh: tidak dibenarkan jika seseorang melakukan amar ma’ruf nahi munkar tetapi meninggalkan shalat wajib. Yang benar adalah dia harus mengutamakan shalat wajib dulu.
2. Jika dilihat efeknya kepada masyarakat, maka ibadah muta’addiyah lebih baik. Contoh: seseorang sudah menunaikan ibadah haji/umroh. Mana yang lebih baik, haji/umroh untuk yang kedua kalinya ataukah menyedekahkan hartanya kepada masyarakat yang membutuhkan? Maka menyedekahkan hartanya adalah lebih baik karena bermanfaat langsung untuk masyarakat.

Syaikh al-Utsaimin pernah ditanya sarannya oleh seseorang yang ingin berpoligami. Maka beliau berkata “Daripada berpoligami, lebih baik engkau berikan kepada bujangan yang belum menikah. Ketika kamu berpoligami, kamu akan mendapatkan pahala menikah. Kalau kamu membantu orang untuk menikah, maka kamu akan mendapatkan pahala membantu orang dan juga pahala orang yang menikah.”

Terdapat sebuah kisah inspiratif tentang ibadah muta’addiyah. Ada seorang salaf yang menyimpan bawang supaya dapat bersedekah setiap hari, minimal dengan memberikan satu siung bawang kepada orang lain. Demikianlah perhatian para salafush shalih terhadap ibadah muta’addiyah, mengusahakan bersedekah setiap hari dengan segala keterbatasannya. Lalu bagaimanalah kita yang dikaruniai dengan berbagai macam harta.

Hakekat Amal Terhadap Ilmu

Syaikh Utsaimin menuliskan “Pada hakekatnya, amal adalah buah dari ilmu. Barangsiapa mengamalkan (sesuatu) tanpa ilmu, maka ia menyerupai orang Nashrani. Sebaliknya, barangsiapa berilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka ia menyerupai orang-orang Yahudi.”

Beramal tanpa ilmu diibaratkan seperti buah yang belum matang. Amal tanpa ilmu akan menjerumuskan kepada kebid’ahan sebagaimana orang-orang Nasrani. Kalau kita beramal tanpa ilmu, bukan berarti lantas kita menjadi Nasrani, tapi menyerupai perilaku mereka yang berpotensi menjerumuskan kita kepada kesesatan.
Sebagaimana kita lihat, terdapat banyak sekali sekte-sekte agama Nasrani yang jumlahnya bisa jadi jauh lebih banyak daripada sekte-sekte muslim. Yang demikian itu merupakan hasil dari kejahilan mereka yang beramal tanpa ilmu.

Pernyataan Syaikh Utsaimin di atas juga merupakan tafsir dari surat al-Fatihah yang kita baca setiap shalat, yaitu permohonan kita untuk “ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat.  Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula orang-orang yang sesat.” Yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang dimurkai’ adalah orang-orang Yahudi, mereka mengetahui ilmu tapi tidak mengamalkannya. Adapun ‘orang-orang yang sesat’ adalah orang-orang Nasrani, yang rajin beramal tetapi tidak memiliki ilmu tentang apa yang mereka amalkan.

Pentingnya Mengamalkan Ilmu

Mengamalkan ilmu adalah hal yang penting, karena tidak hanya menyangkut uang dan harta, tapi juga surga dan neraka. Ilmu adalah masalah amanat, karena ilmu dicari untuk diamalkan. Jika kita mencari ilmu dengan niat bukan untuk mengamalkannya, melainkan hanya untuk dikoleksi, maka berhati-hatilah terhadap ancaman neraka.

” Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka. Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Lantas penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang kebaikan dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang mengerjakannya.” (HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989)

Niat yang tidak lurus dalam menuntut ilmu bahkan akan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesalahan yang beruntun. Betapa banyaknya kita melihat orang yang memiliki ilmu, tapi malah menjadi pembela kesesatan. Hal ini merupakan buah ketidakikhlasan dalam menuntut ilmu, yaitu tidak meniatkan ilmunya untuk diamalkan.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata “Seorang ‘Aalim itu masih dianggap Jaahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya, maka jadilah dia seorang yang benar-benar ‘Aalim.”

Fenomena umat Islam saat ini, lebih banyak penceramahnya daripada orang alimnya. Sekarang ini, banyak kursus-kursus yang membuka kelas ceramah yang membahas skill presentasi, yang diikuti oleh orang-orang yang minim ilmu namun merasa qona’ah (mencukupkan diri) dengan ilmunya agar bisa ceramah. Padahal, seorang alim yang berilmu tinggi saja (misalnya lulusan LPIA, Universitas Islam Madinah, direkomendasikan oleh Syaikh dan Mufti, dll) tetap diharuskan untuk menuntut ilmu. Minimal dengan membaca kitab-kitab. Dengan ilmunya, mereka dapat membaca dan menelaah kitab-kitab. Tidak dibenarkan bagi mereka untuk mencukupkan diri dengan memberikan ceramah saja.

Orang Jahil vs Orang yang Tidak Mengamalkan Ilmunya

Perbedaan orang yang tidak mengamalkan ilmu dengan seorang yang jahil hanyalah “pernah belajar”. Adapun selebihnya, keduanya sama-sama orang yang tidak beramal. Bahkan terkadang, orang jahil malah lebih semangat dalam beramal. Dalam kondisi ini, orang yang tidak mengamalkan ilmu justru lebih rendah daripada orang yang jahil. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, tapi tidak setiap ilmu harus kita pelajari. Ada ilmu-ilmu yang sifatnya wajib kita pelajari (fardhu ‘ain), adapula yang sunnah maupun fardhu kifayah. Adapun jika ilmu tersebut sudah kita pahami, maka harus diamalkan.

Faedah Mengamalkan Ilmu

Di antara manfaat mengamalkan ilmu:
1. Menambah ketakwaan. Dengan ilmu yang kita amalkan, maka ilmu tersebut akan menjadi hujjah BAGI kita, yaitu menjadi tabungan pahala (amal) kita di akhirat. Ilmu ini akan berpihak kepada kita di akhirat. Sebaliknya, ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi hujjah ATAS kita. Ilmu ini akan mengkhianati kita di akhirat dan malah menambah kesengsaraan kita.

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk menjatuhkan dirimu.” (H. R. Muslim dalam Hushulul Ma’mul hal. 18)

2. Tertancapnya ilmu di dalam sanubari. Inilah berkah dari ilmu. Karena hal ini pula, kita dapati ulama-ulama yang masih ingat dalil yang pernah dihafalkannya berpuluh tahun yang lalu.

Sufyan Ats Tsauri berkata, “Ilmu semakin kuat di benak jika diamalkan. Jika tidak, ilmu itu lambat laun akan hilang.”

Asy Sya’bi dan Waqi’ berkata, “Kami dimudahkan menghafalkan hadits dengan mengamalkannya.”

Waqi’ berkata, “Jika engkau ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah.”

Jadi mereka menghafal dan beramal, bukan sekadar setor hafalan.

3. Barangsiapa mengamalkan apa yang dia ilmui, Allah akan karuniakan kepadanya ilmu baru yang bermanfaat yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Barangsiapa tidak mengamalkan apa yang ia ketahui, bisa jadi Allah akan mencabut ilmu yang pernah diketahuinya (lupa). Namun kita tidak menafikkan sebab-sebab lupa yang lain, seperti kesibukan, sudah lama tidak menghafal, kapasitas otak, dll.

“Dan orang-orang yang tetap mencari petunjuk maka Allah akan tambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah anugerahkan kepada mereka ketakwaan.” (QS. Muhammad [47]: 17)

Tidak Akan Bergeser Kaki Kita

“ Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”
(H.R. Tirmidzi dan Darimi, shahih)

Mari kita pikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas: waktu, ilmu, harta, dan jasad.

1. Waktu

Dengan apakah mayoritas waktu kita dihabiskan? Dengan ketaatan kah? Dengan maksiat kah? Apa saja yang pernah kita lakukan ketika masih perjaka, apa pula yang kita lakukan sekarang setelah dewasa. Maksiat/ketaatan? Semuanya akan ditanyakan. Inilah waktu, yang lebih penting daripada uang. Uang bisa dicari lagi, tetapi waktu yang sudah berlalu tidak akan dapat kita beli agar dapat kembali lagi.

2. Ilmu

Bagaimana kita mengamalkannya? Berapa lama waktu yang sudah kita arungi di dunia ini? Berapa lama yang  kita gunakan untuk menuntut ilmu, berapa banyak yang diamalkan? Berapa banyak amalan wajib yang kita tinggalkan? Berapa banyak dosa yang kita langgar? Di sinilah kita ditunjukkan amalan-amalan kita, yang wajib, yang sunnah, yang haram, yang makruh, yang mubah, yang berpahala karena ketaatan, yang dosa karena kita langgar, semuanya tidak ada yang ketinggalan.

3. Harta

Dari manakah kita peroleh harta kita? Dari sumber yang halalkah? Ataukah dari yang haram, mencuri, riba, merampas hak orang lain? Jika sudah terlanjur kita peroleh harta kita dengan cara-cara yang halal, hendaknya kita bertaubat dan berusaha sucikan harta kita darinya. Kembalikan harta-harta tersebut kepada yang sesungguhnya berhak memilikinya.

Jika kita sudah tidak tahu lagi kepada siapa harus mengembalikan dan berapa nominalnya, maka banyak-banyaklah  bersedekah atas nama orang yang telah kita rampas haknya. Jadi bersedekah bukan dengan niat kita bersedekah, tapi untuk menyucikan harta kita dari harta orang lain dengan mengembalikannya kepada mereka berupa pahala sedekah untuk mereka.

Kalau misalnya kita punya anak yang sangat durhaka atau kita merasakan kesempitan dan kesusahan hidup yang terasa menghimpit, maka cobalah melakukan flashback. Adakah di antara harta kita yang kita peroleh dengan jalan yang haram? Selain melakukan flashback, kita renungkan pula, bagaimanakah kita belanjakan harta kita? Apakah dikeluarkan untuk yang halal, ataukah untuk yang haram? Karena sesungguhnya cara kita membelanjakan harta pun juga ditanya.

Demikianlah, hidup ini bukan main-main. Semua yang ada dalam diri kita akan ditanya: makanan, pakaian, semuanya akan ditanyakan cara memperolehnya dan cara mengeluarkannya.

4. Jism / jasad

Jasad yang sudah Allah berikan ini, untuk apa kita gunakan? Jemari, mulut, mata, mata, telinga kita… Kalau kita gunakan jism kita untuk keburukan, jism itu akan bicara sendiri menceritakan apa saja yang pernah dilakukannya. Akankah kelak jism kita menjadi pembela kita, atau justru menjadi saksi tak terelakkan atas keburukan kita? Apakah kita gunakan jism kita untuk ketaatan, atau hanya untuk bermain-main saja?

“Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S. Al-An’am: 32)

Barangsiapa yang bermalas-malasan dan lalai di dunia ini, kelak ia akan menyesal. Perhatikanlah firman Allah bahwa

“ Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.’ “ (Q.S. Thoha: 124-126)

Di antara orang-orang yang tidak ditolong oleh Allah adalah para musbil (orang-orang yang menjulurkan pakaiannya di bawah mata kaki/pelaku isbal):

“ Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit sedekah, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (H.R. Muslim no. 106)

Lihatlah betapa ngerinya ketika kita melalaikan tentang pakaian yang dikenakan oleh jasad. Lantas bagaimana dengan jasadnya, hartanya, ilmunya, dan waktunya? Betapa sengsaranya ketika kita dilalaikan oleh Allah di akhirat, meski di dunia diberikan berbagai kenikmatan. Lebih baik kita malu di dunia karena sedikitnya harta dan berbagai cercaan, tapi Allah tolong kita di akhirat. Daripada kita bermegah-megah dan dielu-elukan di dunia, tapi Allah hinakan kita di akhirat.

Ingatlah kita tentang pahala shalat sunnah fajar yang lebih baik daripada dunia seisinya.

“ Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (H.R. Muslim no. 725).

Yang demikian itu, bisa jadi bukan karena saking besarnya pahala shalat sunnah fajar, melainkan saking hinanya dunia ini.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang (para sahabat) menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata, “Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?” . Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?” Beliau pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (H.R. Muslim no. 2957)

Oleh karena itu, dalam kehidupan di dunia ini, kita harus punya manhaj (cara menjalankan agama) yang kokoh dengan mengikuti peraturan Allah, selalu waspada, dan tidak boleh merasa aman dari adzab.

Orang-orang yang munafik melihat dosa-dosanya seakan-akan sekecil atom dan meremehkannya. Adapun orang-orang yang beriman melihat dosa-dosanya bagaikan sebuah gunung. Ia takut kalau-kalau dosa-dosanya akan runtuh menimpanya dan menghancurkannya.

Orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang melakukan dosa dan merasa bersalah karenanya. InsyaAllah orang-orang ini masih dalam jalur kebenaran. Siapalah di antara kita yang terlepas dari dosa?

Ancaman untuk Orang-Orang yang Tidak Mengamalkan Ilmu

Berdasarkan hadits panjang riwayat Tirmidzi (shahih), tidak setiap orang yang berjihad adalah seorang mujahid, tidak setiap orang yang berilmu merupakan ahli surga, dan tidak pula setiap orang yang berinfaq akan aman dari api neraka. Bisa jadi di antara mereka justru dimasukkan ke dalam neraka terlebih dulu daripada para penyembah berhala.

Tentang pencari ilmu/qori’, maka mayoritas orang-orang munafik di antara kita adalah para qori’. Sebuah syair mengatakan “Orang yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmunya akan diadzab lebih dulu daripada penyembah berhala.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihu wa sallam bersabda “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya.” Ada seseorang yang bertanya “Siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Barangsiapa menaatiku akan masuk surga. Barangsiapa tidak taat kepadaku, sungguh dia orang yang enggan masuk surga.” (H.R. Bukhari)

Kita menuntut ilmu, tidak harus agar menjadi ulama. Setiap orang awam memiliki kewajiban untuk mencari ilmu agar dapat menaati rasul dan menjadi da’i. Da’i ini bermacam-macam sesuai dengan medan dakwahnya. Seorang kepala rumah tangga menjadi da’i di dalam rumah tangganya, seorang wanita menjadi da’iyah bagi anak-anaknya, dst. Adapun dalam menuntut ilmu dan menyampaikannya, diperlukan sifat jujur. Jujur itu mungkin terasa pahit dalam prosesnya, tapi akan selalu indah pada akhirnya.

Notes: tulisan di atas adalah catatan pribadi penulis untuk kajian yang diikuti. Pembaca disarankan untuk menyimak sendiri kajiannya di  video berikut. Mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam catatan di atas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s