Kajian Kitab / Syarh Ushul ats-Tsalatsah

[#5] Konsekuensi Iman Kepada Allah (2)

Kitab yang Dikaji: Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah
Terjemahan: Ulasan Tuntas Tentang Tiga Prinsip Pokok
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Live Streaming: 9 April 2015 (Pekan 5)
Pengkaji: Hasan al-Jaizy
Topik Kajian: Konsekuensi Iman Kepada Allah (2)

Nasehat yang diulas:

Ketiga: Berdakwah kepadanya, dan keempat: Bersabar dalam menghadapi gangguan di dalamnya.

Nasehat yang sebelumnya:

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa kita wajib mengetahui empat perkara. Pertama: Ilmu, yaitu mengetahui Allah, mengetahui nabi-Nya, serta agama Islam dengan dalil-dalil. Kedua: Mengamalkannya.

Ulasan:

Dakwah dan Tingkatan-Tingkatannya

Orang yang berilmu dan beramal tapi enggan berdakwah diibaratkan seperti orang yang menyembunyikan ilmunya. Berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala berarti dakwah kepada apa yg dibawa Rasulululah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berupa syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Bisa dalam bidang aqidah maupun fiqh. Apa yg beliau bawa sangatlah banyak dan sudah lengkap.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al-Maidah: 3)

Tingkatan-tingkatan dakwah ada 4, yaitu:

1. Dengan hikmah
2. Dengan pelajaran yang baik
3. Membantah dengan hal yang lebih baik (debat)
4. Memerangi orang-orang yang zhalim

Dalil poin 1-3:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl:125)

Dalil poin 4:

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, ‘Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri (taat).’” (Q.S. Al-Ankabut: 46)

Catatan penting: dakwah haruslah berbekal ilmu tentang syari’at Allah subhanahu wa ta’ala, dan menyeru kepada syari’at Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan menyeru kepada persatuan, bukan kepada khilafah, maupun kepentingan-kepentingan yang lain.

Contoh kesalahan dakwah yang sering terjadi di kampus-kampus: terdapat program kaderisasi untuk mencetak da’i-da’i baru untuk membina adik-adik kelasnya. Hanya dengan bekal mengikuti beberapa kajian dan beberapa kali pelatihan, ditambah dengan sedikit bekal tentang pandangan politik tertentu, lalu diangkat menjadi murabbi yang membina para juniornya. Akibatnya, apa yg mereka sampaikan kepada juniornya hanya sebatas apa yang mereka terima, melebihi dari apa yang mereka ilmui. Sehingga akhirnya mereka berjalan terlalu jauh dan tetergelincir kepada kesalahan-kesalahan. Mereka melakukan kesalahan dan mengajak kepada kesalahan.

Jadi, untuk berdakwah, kita harus mengilmui apa yang diseru. Menyeru tanpa tahu tentang hal yang diseru, bagaikan mengajarkan tanpa tahu apa yang diajarkan.

Panduan dalam Berdakwah

Katakanlah (Muhamad), “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata). Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (Q. S. Yusuf: 108)

Kandungan ayat:

1. Jalan agama Islam, yaitu jalan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lihatlah, jalan kepada Islam adalah jalan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan jalan kepada orang maupun kelompok-kelompok dengan bungkusan dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kita murni berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, insyaAllah akan ditolong oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun jika kita berdakwah mengajak kepada kelompok-kelompok tertentu (dengan bungkus dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala), Allah subhanahu wa ta’ala akan hancurkan. Orang-orang pun akan menjauhinya dan mengenalnya sebagai orang yang mengajak kepada kelompok-kelompok tertentu.

2. Dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala haruslah memiliki metodologi dan jalan yang baik dan benar. Yaitu harus di atas bashirah (dengan hujjah yang nyata). Seorang da’i harus mengetahui: 1. hukum-hukum syar’i tentang apa yang ia sampaikan, 2. metode berdakwah (penyampaiannya harus pakai bahasa yang kasar atau halus, intonasinya harus tajam atau tidak, dll), 3. mengetahui kondisi pihak yang ia dakwahi (dakwah kepada mahasiswa tentu beda dengan kepada kakek-kakek, mendakwahi orang yang belum tahu sama sekali tentu beda dengan orang yang sudah punya dasar, dll).

3. Mensucikan Allah subhanahu wa ta’ala dan berlepas diri dari kesyirikan

Medan berdakwah ada banyak, contohnya:

1. Pidato, ceramah, kajian, dll. Ini adalah bagian dari dakwah, meskipun tidak sedikit orang-orang yang menyalahgunakannya dan menjadikannya sebagai lahan bisnis (menetapkan tarif untuk berdakwah di tempat yang satu dengan yang lain). Seorang da’i haruslah meluruskan tujuannya untuk berdakwah, bukan untuk mengais keuntungan duniawi. Meskipun dia boleh berharap, semoga melalui dakwahnya Allah subhanahu wa ta’ala berikan rizki yang baik. Ketika dia benar-benar memperoleh rizki melalui dakwahnya, maka rizki ini tetap halal. Tapi benar-benar, luruskanlah niat bahwa tujuannya untuk berdakwah adalah untuk menyampaikan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, bukan untuk mencari penghasilan dengan dakwahnya.

2. Menuliskan dan menyebarkan catatan kajian, copas tulisan dakwah, memfasilitasi tempat berkumpul untuk mendengarkan kajian, dll.

3. Dakwah dengan karya tulis. Baik berupa menuliskan artikel, menuliskan buku, menerjemahkan kitab, dll. Dan dakwah dg tulisan biasanya jadi lebih kekal. Contoh: Kitab Shahih Bukhari (Imam Bukhari wafat 256 H), masih eksis sampai sekarang meski sudah berlalu sekitar 12 abad. Ibnul Qayyim dalam kitabnya, menasehatkan kepada para da’i untuk menuliskan karyanya. Karena dengan menuliskan karyanya, akan lebih kekal dan lebih tersebar daripada sekadar memberikan ta’lim. Ibnul Jauzi menjamak seluruhnya: berceramah dan berpidato (yang banyak menjadi washilah orang untuk bertaubat, dan orang-orang kafir banyak yang masuk islam), menulis kitab hadits, tafsir, akhlak, dll. Kitab-kitabnya masih eksis hingga sekarang, sedangkan rekaman kajiannya tidak ada (zaman dulu belum ada alat perekam).

4. Dibuat menyenangkan dan tidak membosankan. Misalnya dengan mengajak diskusi, memvariasikan materi, atau menyisipkan cerita. Tapi hati-hati, karena terkadang bosan datang dari setan. Misalnya, sebenarnya kajiannya sudah enak, tapi setan datang dan membuat hati merasa bosan, membuatnya berat padahal kajiannya ringan. Diskusi dan tanya jawab juga bisa memperdalam pemahaman atas materi yang disampaikan. Bahkan bisa jadi, diskusi/tanya jawab akan lebih mengena daripada ceramah satu arah dari da’i kepada orang yang didakwahi.

Jadi, dakwah bukan berarti harus menyampaikan dakwah dalam kajian besar. Dakwah minimal dilakukan dalam skala keluarga. Bahkan tersenyum saja sudah bisa menjadi salah satu cara berdakwah. Misalnya, tersenyum kepada orang yang memusuhi kita.

Kisah Inspiratif:
Ada seorang Yahudi yang datang menagih hutang kepada Rasulullah sebelum waktu yang dijanjikan. Ia datang dan langsung menghardik dengan kasar menagih hutangnya. Rasulullah pun menghadapinya dengan sabar dan tersenyum, menjelaskan dengan sabar bahwa saat ini belum sampai di waktu yang dijanjikan. Adapun, Yahudi tetap ngotot, sementara Rasulullah tetap menghadapinya dengan sabar. Sampai akhirnya orang Yahudi pun luluh dan akhirnya masuk Islam karena kagum dengan akhlak yang ditunjukkan oleh Rasulullah.

Akhlak membutuhkan manhaj (cara) kesabaran. Bukan hanya dalam berdakwah, tapi juga dalam mencari ilmu dan yang lainnya.

Nasehat tentang Dakwah

1. Dakwah merupakan tugas para rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka.

2. Seseorang yang diberi taufik oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengetahui Allah subhanahu wa ta’ala, Nabinya, dan agamanya, hendaknya berusaha menyelamatkan teman-temannya dengan menyeru mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Dalam berdakwah, hendaknya memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan. Jadi, bukan ancaman saja sehingga membuat orang-orang lari. Bukan pula sebaliknya, menyampaikan kabar gembira saja sehingga orang-orang terbuai, manja, dan menjadi lalai terhadap hal-hal yang membinasakan, bahkan dengan menyitir hadits-hadits palsu.

4. Dakwah itu semampunya, bukan dengan target. (Contoh target yang tidak disyariatkan: dalam sekian hari, si Fulan harus dapat hidayah). Ingatlah, hidayah itu hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala, sementara kita hanya menjadi perantara saja. Cukuplah bagi kita pelajaran tentang dakwah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya, Abu Thalib. Sudah tidak diragukan lagi bagaimana keuletan dan kebaikan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada Abu Thalib, namun Abu Thalib tetap wafat dalam kekufuran. Jadi kita jangan terlalu berambisi, apalagi berambisi agar semua orang dapat hidayah. Hati-hati, jangan-jangan kita tidak lagi ikhlas berdakwah, tapi riya’.

5. Dakwah adalah amar ma’ruf nahi munkar. Bukan amar ma’ruf saja, bukan pula nahi munkar saja.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib,

“Melangkahlah ke depan dengan tenang sehingga engkau sampai di pelataran mereka, lalu ajaklah mereka kepada Islam, kabarkanlah kepada mereka hak-hak Allah dalam Islam yang wajib mereka lakukan. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi petunjuk seorang laki-laki dengan (perantara)mu, itu lebih baik daripada unta-unta merah.” (Muttafaq ‘Alaih, diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim).

Kandungan hadits:

1. Tauhid adalah prioritas dakwah. Bukan berarti kita mengesampingkan dakwah fiqih, tapi tauhid adalah prioritas kita. Selanjutnya, sembari itu, kita sampaikan pula dakwah tentang fiqih.

2. Unta merah pada saat itu adalah benda termahal. Jadi, ketika seseorang memperoleh hidayah Allah subhanahu wa ta’ala melalui perantara kita, maka kita aka memperoleh ganjaran yang sangaaaaat besar. Sekecil apapun yang kita lakukan. Bahkan sekadar kita mengajak ke kajian, atau mengingatkan orang tentang tidak bolehnya pakai jimat, dll. Namun jangan lupa untuk tetap meminta hidayah kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk diri sendiri pula. Jangan sampai kita mengajak orang kepada kebaikan tapi kita sendiri rusak.

Pahala dan Dosa yang Terus Mengalir

“Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyerukepada kesesatan, maka baginya dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpamengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.” (H.R. Muslim)

Jadi bisa kita bayangkan betapa besarnya pahala guru ngaji/guru TK/orang tua. Misalnya, dia mengajarkan surat al-Fatihah kepada murid-muridnya/anak-anaknya, lalu para muridnya selalu membaca al-Fatihah ketika shalat. Maka pahala membaca surat al-Fatihah dan sahnya shalat yang diterima oleh murid-muridnya/anak-anaknya juga akan mengalir kepada sang guru/orang tua. Kemudian jika sang murid/anak mengajarkannya lagi kepada orang lain, maka selain si murid/anak memperoleh aliran pahala dari yang diajarinya, si guru/orang tua tadi juga memperoleh aliran pahala tersebut. Ini adalah salah satu amal yang pahalanya tidak akan putus, tetap mengalir, meski si pelaku amal sudah meninggal.

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (H. R. Muslim)

Mendidik anak sendiri dari bayi sampai besar, dari tidak tahu sampai jadi tahu, dari belum bisa jalan/bicara jadi bisa jalan/bicara, sehingga membantu sang anak untuk dapat mengerjakan kebaikan-kebaikan yang lain, tentu ganjarannya sangatlah besar. Lebih besar daripada seseorang yang mengajarkan sesuatu kepada orang lain yang sudah tahu dasar-dasarnya (mengembangkan kebaikan).

Oleh karena itu, memiliki anak yang shalih juga merupakan salah satu investasi yang pahalanya tidak akan putus bagi orang tua meski sang orang tua telah meninggal. Maka, bisa jadi ada orang tua yang fasik, tapi ketika anaknya masih kecil ia ajarkan membaca al-Qur’an. Lalu ternyata anak tersebut tumbuh menjadi anak yang rajin membaca al-Qur’an, maka pahala membaca al-Qur’an yang dilakukan sang anak juga akan mengalir kepada orang tua. Apalagi kalau kemudian si anak menghafal al-Qur’an dan bisa menyelesaikan hafalannya seluruhnya. Bisa jadi, hal ini akan menyelematkan orang tua dari api neraka, meskipun orang tua tadi adalah orang yang fasik.

Sebaliknya, ketika kita mengajak seseorang kepada suatu perbuatan dosa, lalu orang tersebut melaksanakan ajakan kita, maka dosa yang diterima oleh orang tersebut juga akan kita terima. Misalnya, kita menunjukkan sebuah film maksiat kepada seseorang, lalu orang tadi benar-benar melihat film tersebut. Maka kita berdosa karena 1. menunjukkan jalan kepada ketidakbaikan, dan 2. dosa yang diterima orang tersebut (yang jadinya kita terima juga). Apalagi kalau sejak itu, orang yang tadi kita ajak jadi penasaran ingin melihat film-film lain yang serupa, kemudian jadi kecanduan, maka bisa dibayangkan betapa ngerinya dosa yang harus kita tanggung karena mengajak orang lain kepada perbuatan dosa.

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan,maka baginya pahala sebagaimana (pahaa) orangyang mengerjakannya.” (H.R. Muslim)

Sabar

“Sabar dalam menghadapi gangguan di dalamnya” meliputi sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam melakukan amal, dan sabar ketika berdakwah kepada orang lain.

Macam-macam kesabaran:

1. sabar menundukkan nafsu, agar dapat menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Misalnya: tetap melakukan infaq, shalat, berdakwah, dll, meski diganggu, dicemooh, disakiti, dsb.

2. sabar menahan hawa nafsu, agar tidak bemaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Misalnya: menahan diri dari memandangi lawan jenis yang bukan haknya dengan nafsu.

3. sabar terhadap takdir dan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak kita inginkan. Misalnya: sakit.

Jadi, sabar akan menghindarkan kita dari marah dan berkeluh kesah, serta senantiasa rajin beramal dan berdakwah kepada agama Allah subhanahu wa ta’ala meskipun diganggu dan disakiti.Tanpa adanya gangguan, pahala atas amal kita tentu akan sangat sedikit. Dengan adanya gangguan yang membuat kita harus bersabar, tentu akan memperbesar pahala atas amal kita. Apalagi, mengganggu orang yang berdakwah adalah tabiat asal manusia. Semakin besar gangguan yang kita terima, semakin dekatlah pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Pertolongan ini tidak harus diperoleh sang da’i selama hidup, namun bisa juga ketika ia telah meninggal. Oleh karena itu, setiap da’i harus sabar dan terus menerus melakukan dakwahnya.

“Demikianlah, tidak seorang rasul pun datang kepada orang-orang yang sebelum mereka melainkan mereka mengatakan ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’”(Q.S. Adz-Dzariyat: 52)

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa.” (Q. S. Al-Furqon: 31)

Perhatikanlah Q.S. Al-Insan: 23 berikut ini

“Sesungguhnya Kami telah menurnkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.”

para sahabat mengira, lanjutan dari ayat tersebut adalah “Maka bersyukurlah atas nikmat Tuhanmu.” Ternyata lanjutannya adalah

“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (Q.S. Al-Insan: 24)

Hal ini merupakan isyarat bahwa setiap orang yang membawa misi al-Qur’an pasti akan mendapatkan gangguan, sehingga diperlukan kesabaran. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, maka beliau berdoa

“Ya Allah, ampunilah kaumku. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.” (H. R. Bukhari)

Oleh karena itu, ketika seorang da’i diganggu dalam dakwahnya, hendaknya mendoakan orang yang mengganggu agar Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni mereka, bukannya langsung mendoakan kebinasaan mereka. Karena betapa banyaknya orang yang berbuat dosa dan mencela dakwah karena ketidaktahuan mereka. Semoga berkat doa ini, Allah subhanahu wa ta’ala berikan hidayah kepada mereka, sehingga yang tadinya memusuhi justru menjadi kawan baik.

Notes: tulisan di atas adalah catatan pribadi penulis untuk kajian terkait. Penulis menganjurkan pembaca untuk menyimak sendiri kajian tersebut agar dapat memperoleh lebih banyak faedah. Berikut ini adalah video kajian Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah (5).

Go to:

logo_kirana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s