Kajian Kitab / Syarh Ushul ats-Tsalatsah

[#6] Tafsir Surat Al-‘Ashr

Kitab yang Dikaji: Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Pengkaji: Ustadz Hasan al-Jaizy
Live Streaming: 26 April 2015 (Pekan 6)

Bahasan:

Dalilnya adalah Firman Allah subhanahu wa ta’ala “Demi Masa, sesungguhnya seluruh insan benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih dan nasihat-menasihati dalam menaati kebenaran dan nasihat menasihati dalam menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr: 1-4)

TAFSIR SURAT AL-ASHR

Melalui surat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengumumkan bahwa seluruh insan berada di dalam kerugian, kecuali satu golongan saja. Satu golongan tersebut harus memenuhi empat syarat, yaitu beriman, mengerjakan amal-amal shalih, saling berwasiat untuk menaati kebenaran, dan saling berwasiat untuk menetapi kesabaran.

Kaidah dalam Bersumpah

Di awal surat ini, Allah bersumpah dengan ‘al-‘ashr’. ‘Al-‘ashr’ berarti ‘ad-dahr’ yang berarti ‘masa’. Kaidah yang dapat kita ambil dari ayat ini adalah bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala boleh (dan tidak ada yang bisa melarang Allah subhanahu wa ta’ala) untuk bersumpah dengan nama makhlukNya. Ini adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun, manusia dilarang untuk bersumpah dengan nama selain Allah.

Seorang sahabat berkata “Seburuk-buruk dosa masih lebih baik daripada bersumpah dengan nama selain Allah.”

Sahabat yang lain (Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu-penc.) berkata  “Aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta lebih aku sukai daripada aku jujur lalu bersumpah dengan nama selain Allah.”

Hal ini dikarenakan sumpah dengan nama selain Allah adalah haram dan dikategorikan sebagai syirik kecil (seperti halnya riya’, sum’ah, sombong, dan lainnya).  Adapun, bersumpah dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah hal yang diperbolehkan. Contoh bersumpah dengan nama-nama Allah: Demi Ar-Rahman, saya benar-benar tidak mengetahui kejadian tersebut.

Q: Bolehkah Bersumpah dengan Al-Qur’an?
A: Al-Qur’an adalah kalamullah, dan kalamullah adalah merupakan sifat Allah. Bersumpah dengan sifat Allah berarti bersumpah dengan sesuatu yang berada pada diri Allah. Dengan demikian, bersumpah dengan sifat Allah adalah boleh, termasuk bersumpah dengan Al-Qur’an. Contoh: Demi Al-Qur’an, sesungguhnya Allah benar-benar menciptakan langit dan bumi.

Hakekat Al-Insan

Dalam ayat selanjutnya, Allah menggunakan kata ‘inna’ (sesungguhnya) yang menunjukkan penguatan. Demikian juga pada kata ‘insan’, diberi tambahan ‘al’ yang menunjukkan penguatan. Sehingga, ‘al-insan’ berarti ‘seluruh jenis insan’ yang meliputi jin dan manusia.

Kemudian, Allah mengumumkan bahwa seluruh insan berada dalam keadaan ‘khusr’ (kerugian). Kerugian yang dimaksud adalah seluruh jenis kerugian. Baik kerugian di dunia, lebih-lebih lagi kerugian di akhirat.

Walaupun demikian, setelah memberikan pengumuman, Allah menyebutkan kata ‘illa’ (kecuali) untuk mengecualikan suatu golongan dari kerugian. Golongan yang selamat dari kerugian memiliki kriteria:
1.    Beriman
2.    Beramal shalih
3.    Saling berwasiat dalam menaati kebenaran
4.    Saling berwasiat dalam menetapi kesabaran

Keempat kriteria di atas tidak boleh lepas dari diri seorang muslim, baik dari golongan jin dan manusia. Dengan demikian, setelah berilmu dan beramal, setiap muslim harus mendakwahkan ilmunya. Seorang muslim tidak boleh bakhil (pelit) terhadap ilmunya.

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai/menginginkan untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai/inginkan untuk dirinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, jika kita ingin menyempurnakan iman, maka hendaknya kita berhasrat agar orang juga memperoleh hidayah sebagaimana Allah telah berikan hidayah kepada kita. Berdasarkan surat Al-‘Ashr di atas, jin pun saling berdakwah satu sama lain. Baik ke sesama jin muslim untuk amar ma’ruf nahi munkar, maupun kepada jin kafir.

Manusia adalah Penguasa Bumi

Manusia adalah penguasa di atas bumi. Adapun jin, mereka mendengar perkataan manusia, mengikuti manusia, dan menyerupai pola hidup manusia. Mereka belajar dari manusia. Oleh karena itu, tidak selayaknya manusia mengambil ilmu/belajar dari jin.

Perhatikanlah firman Allah subhanahu wata ‘ala ketika akan menciptakan manusia.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  (Q.S. Al-Baqarah:30)

Sebelum Allah menciptakan manusia, bumi ini dihuni oleh berbagai makhluk dari jenis hewan, tumbuhan, jin, dan lainnya. Jin-jin/insan sebelum penciptaan Adam merupakan makhluk yang suka berbuat kerusakan dan bertempur menumpahkan darah. Oleh karena itulah, malaikat menanyakan pertanyaan tersebut kepada Allah.

Kemudian Allah menciptakan Adam sebagai khalifah sehingga para jin pun belajar dari beliau. Oleh karena itu, tidak ada satupun nabi yang berasal dari kaum jin karena jin harus mengikuti manusia. Adapun setan, yang juga berasal dari kaum jin, berusaha membolak-balikkan dan berupaya agar manusialah yang mengikuti mereka.

Dengan demikian, jika ada jin yang suka berinteraksi dengan manusia, dapat dipastikan bahwa mereka adalah setan dan bukanlah jin muslim. Kalau ada seorang muslim yang membawa sesajen, setan akan merasa senang. Walaupun kelihatannya tidak dimakan, sesungguhnya mereka menikmati pemberian sesajen tersebut. Minimal, mereka merasa tinggi dan menertawakan kebodohan manusia yang mau saja mengikuti mereka.

Coba kita perhatikan acara-acara mistis di televisi, misalnya Dun** L**n. Di dalam acara ini, ada tiga episode di tahun yang terpisah, di mana peserta ditantang (uji nyali) untuk mendatangi sebuah tempat anker di Bandung. Kabarnya, tempat tersebut dikuasai oleh jin bernama Lada.

Acara-acara seperti ini adalah acara-acara yang membuat jin senang. Pasalnya, untuk dapat menghadirkan jin sesuai dengan keinginan pembuat acara, jin harus menerima seserahan atau apapun dari manusia. Jin (setan) sangat senang menerima sesuatu dari manusia, meski sekecil apapun seperti ceker ayam, ucapan-ucapan tertentu, bangkai, atau yang lainnya. Yang penting bagi mereka, ada sesuatu yang diberikan manusia sebagai bentuk penghargaan/penghambaan kepada mereka.

Allah telah menjadikan manusia sebagai penguasa bumi. Oleh karena itu, ketika seorang manusia membuat sebuah rumah di bumi, jin tidak memiliki hak untuk menginterupsi. Manusia boleh mengusir jin-jin tersebut, karena jin memiliki alam sendiri yang menjadi hak mereka. Ketika manusia menjadi penguasa bumi, sesungguhnya ia hanyalah seorang yang lemah, kecuali orang-orang yang beriman.

Manusia dan Makhluk-Makhluk Purbakala

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. At-Tin: 4)

Berdasarkan ayat ini dan juga ayat-ayat tentang penciptaan Adam, telah jelas bahwa manusia adalah ciptaan Allah, dan bukan berasal dari makhluk purbakala. Tidak pernah diceritakan dalam Al-Qur’an maupun hadits bahwa manusia merupakan perubahan bentuk dari makhluk purbakala. Padahal, Al-Qur’an merupakan kitab yang sangat lengkap dalam menerangkan penciptaan manusia. Bahkan di dalam Al-Qur’an, kita juga menemukan kisah-kisah sebelum penciptaan manusia (bahkan sebelum penciptaan bumi) hingga kabar tentang hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Adapun, menyikapi berbagai penemuan serta publikasi tentang makhluk purbakala, sebagai seorang muslim kita cukup tawaquf. Karena hal tersebut tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits, kita tidak tahu kebenaran yang hakiki tentang hal-hal tersebut. (Tawaquf berarti mendiamkan, tidak membenarkan maupun mendustakan).

Orang-Orang yang Merugi

Lanjutan dari surat At-Tin ayat 4 di atas, setelah Allah ciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya:

“Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (Q.S. At-Tin: 5)

Kedudukan yang rendah pada ayat tersebut meliputi kedudukan yang rendah di dunia maupun akhirat. Kedudukan yang serendah-rendahnya di akhirat berarti dimasukkan ke dalam neraka. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata bahwa “Perbuatan dosa membawa seseorang kepada kerendahan (menurunkan wibawa).”

Contoh-contoh kerendahan/turunnya wibawa di dunia:

  • Mendengarkan musik sampai bergoyang-goyang seperti orang gila ataupun berdandan dengan dandanan yang tidak layak (rambut gimbal, punk, dikepang-kepang secara berlebihan, baju sobek-sobek, dan lain-lain).
  • Orang yang dikuasai jin lalu melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh jin meskipun sulit/bathil. Misalnya, hanya boleh makan sambal tidur tengkurap, tidak boleh mandi, tidak boleh bersisir, dan lain-lain.
  • Ketika bertemu dengan seorang ustadz yang lurus, biasanya manusia akan merasa segan kepadanya meskipun pembawaannya sederhana saja. Lain halnya kepada seseorang yang ngaku-ngaku ustadz, kemudian bersikap seakan-akan penuh wibawa. Ketika manusia bertemu dengannya, mungkin saja mereka tunduk dan menjaga sopan santun. Tapi bisa jadi, di belakangnya, mereka bersikap meremehkan.

Jihad Melawan Hawa Nafsu

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “Jihad melawan hawa nafsu adalah lebih berat daripada jihad berperang langsung melawan orang-orang kafir (harbi).”

Syaikh Utsaimin berkata, jihad melawan hawa nafsu terdiri dari empat tingkatan, yaitu:

1.Jihad (melawan hawa nafsu) untuk mempelajari petunjuk agama yang benar.

Tidak ada kebahagiaan di dunia maupun di akhirat yang bisa dicapai, melainkan diawali dari jalan belajar dengan sungguh-sungguh. Perhatikanlah, di masa kita sekarang ini di Indonesia, qaddarallah medan jihad yang diujikan kepada kita bukanlah memerangi orang-orang kafir. (Melainkan) Anak-anak muda zaman sekarang bayak dipalingkan kepada hal-hal duniawi sehingga menghalangi mereka untuk menuntut ilmu agama dengan benar.

Perhatikanlah keadaan orang-orang yang ketika masih kecilnya malas belajar dan sibuk bermain-main saja. Ketika dewasa, dia terkatung-katung dan hidup kesusahan. Lihatlah, ini baru tentang urusan dunia. Bagaimanakah jika kita malas belajar dan bermain-main saja di dunia. Bagaimana kita menghadapi hari depan kita di akhirat?

Sebaliknya, lihatlah keadaan orang-orang yang rajin dan tidak menghabiskan masa muda dengan bermain-main saja. Pada umumnya, kita lihat mereka akan menuai buah yang manis di masa dewasanya. Demikian pula dalam agama ini, tidak selayaknya kita bermain-main saja di dunia. Yang demikian itu untuk mempersiapkan hari depan kita di akhirat agar bahagia. Apalagi, petunjuk-petunjuk untuk meraih kebahagiaan di akhirat sudah ada, paten, lengkap, dan disediakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tinggal dipelajari dan diamalkan.

2.Jihad (melawan hawa nafsu) untuk mengamalkan apa yang telah kita pelajari dari mengetahui ilmu agama yang benar. Misalnya puasa, shalat, mencari nafkah, dan lain-lain.

Ketika kita ingin melakukan berbagai amalan ketaatan, pasti akan ada saja godaan. Dari rasa malas, enggan, berkeluh kesah, diajak ke tempat yang lebih menyenangkan nafsu, hingga mungkin akhirnya kita tidak jadi menunaikan berbagai amalan tadi. Berbagai godaan tadi merupakan upaya setan yang tengah melaksanakan job desc-nya. Dengan demikian, diperlukan jihad melawan hawa nafsu agar kita tetap dapat beramal dengan baik.

3.Jihad (melawan hawa nafsu) dalam berdakwah kepada Allah (menyebarkan ilmu), yaitu mengajarkannya kepada orang yang belum mengerti.

Dakwah ini bisa dakwah secara umum (kepada khalayak) maupun secara khusus (kepada keluarga/person to person). Contoh dakwah di dalam keluarga: suami mengajari istri, ibu mengajari anak, dan lain-lain. Jangan sampai kita berdakwah ke mana-mana tapi lupa untuk mengajari anak dan istri kita.

4.Jihad (melawan hawa nafsu) untuk sabar dalam menghadapi rintangan dakwah keapada Allah dan gangguan dari makhluk (binantang, jin, maupun manusia).

Terutama ketika kita melakukan nahi munkar, pasti ada banyak yang mengganggu dari kalangan jin maupun manusia.

Q:Mana yang Lebih Berat, Gangguan Jin atau Manusia?
A: Hal ini tergantung dari jenis gangguannya. Tapi biasanya, gangguan dari jin terasa lebih berat karena kita tidak bisa melihat jin. Gangguan jin bisa berupa rasa malas, tidak bisa tidur, perasaan yang berat, santet, dan lain-lain. Apalagi kalau kita berdakwah untuk melawan golongan yang sesat. Pasti akan ada saja gangguan yang menimpa seorang da’i. Oleh karena itu, untuk berdakwah, sangat diperlukan kesabaran karena kesabaran merupakan pertahanan. Semulus apapun tampaknya dakwah seorang da’i, pasti akan ada saja rintangan. Misalnya saja, godaan untuk mengumpulkan harta dari dakwahnya.

Seluruh Insan Berada dalam Keadaan Rugi, Kecuali….

1.Yang Beriman

Iman adalah keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Majelis ilmu yang tidak membuat kita semakin dekat kepada Allah merupakan majelis yang sia-sia (meskipun majelis tersebut adalah majelis ilmu). Majelis ilmu yang dipenuhi dengan guyonan dan canda tawa bukanlah majelis yang bermanfaat karena di dalamnya kita tidak bisa melakukan at-ta’awuna ‘alal birru wat taqwa (tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa). Bahkan bisa jadi, dengan banyaknya guyonan dan canda tadi, kita jadi terjatuh dalam mengolok-olok dan menghinakan agama Allah sehingga malah membuat kita terjerumus di dalam at-ta’awuna ‘alal itsmi wal ‘udwan (tolong menolong dalam dosa dan permusuhan).

Oleh karena itu, jika kita memasuki majelis seperti ini (yang ternyata setelah kita duduk di dalamnya, kita ketahui bahwa majelis tersebut dipenuhi dengan guyonan, canda tawa, dan olok-olokan), maka wajib bagi kita untuk segera keluar dari sana. Dzikir lebih baik daripada duduk diam di sana karena kita takut mendapat laknat lantaran duduk-duduk mengikuti pembicaraan di sana.

Reminder: terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati. Adapun tersenyum adalah disyariatkan.
“Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.”
(H.R. At-Tirmidzi dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Albani berkata hadits ini hasan).

2. Yang beramal, baik amal berupa perkataan maupun perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah, yang dilandasi dengan keikhlasan kepada Allah dan mengikuti petunjuk yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Yang saling berwasiat dalam kebenaran.

Barometer sahabat sejati di dalam Islam adalah yang dapat membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, barometer seorang sahabat adalah yang bisa kita ajak untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Demikian juga permusuhan, juga dilandasi dari perintah agar jangan saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Jadi, jika kita mendapati seseorang yang bisa kita ajak dan juga bisa mengingatkan kita untuk berbuat baik dan taqwa, maka jadikanlah ia sahabat. Sebaliknya, jika kita menemukan seseorang yang tidak mungkin kita harapkan bantuannya untuk mendukung kita berbuat baik dan taqwa, maka jangan jadikan dia sebagai sahabat.

Contoh orang yang tidak boleh dijadikan sahabat: seseorang yang kalau kita mintai tolong untuk dibangunkan di waktu Subuh, maka tidaklah mungkin orang tersebut dapat membangunkan kita tepat waktu. Sebaliknya, jika kita nitip untuk dibelikan khamr, niscaya dia akan membawakannya untuk kita.

Q: Lantas, apakah hal ini berarti kita memutuskan hubungan/persaudaraan?
A: Tidak selalu begitu. Ingatlah bahwa sahabat berarti teman dekat. Salah satu teknik ruqyah yang paling baik untuk orang yang diganggu oleh jin adalah ruqyah ilmu. Caranya adalah dengan memberikan orang tadi masukan-masukan, mengajaknya ke majelis ilmu, mendengarkan kajian, dan berteman dengan orang-orang yang shalih. Dengan berteman dengan orang-orang yang shalih, ia akan dapat melihat sampel orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk. Teman merupakan hal yang penting karena dapat mempengaruhi karakter serta agama kita.

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.”
(H.R. At-Tirmidzi dan Abu Dawud, shahih).

4. Yang saling berwasiat dalam kesabaran.

Kesabaran meliputi kesabaran dalam menaati perintah Allah, sabar untuk menjauhi larangan Allah, dan sabar untuk menghadapi takdir-takdir Allah. Kesabaran juga meliputi amar ma’ruf nahi munkar, yang merupakan syarat tegaknya umat. Bukan amar ma’ruf saja, dan bukan pula nahi munkar saja. Kita harus balance dalam menyampaikan keduanya.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S. Ali Imron: 110)

Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa untuk dapat menjadi umat yang terbaik, umat tersebut melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah. Islam di Indonesia terpuruk juga karena sulitnya kebanyakan dari kita untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Contoh:

  • Di tengah pekerjaan, lalu tibalah waktu shalat. Lalu ada bapak-bapak yang kita tahu muslim tapi tidak shalat. Sekadar kita berkata “Pak, shalat dulu yuk!” saja, rasanya sudah berat bukan?
  • Kita mengetahui seorang muslim yang menggelapkan uang perusahaan. Seringkali berat bagi kita untuk sedikit memberikan nasihat dengan “Ingat, jabatan adalah amanah. Setiap apa yang kita lakukan, nanti akan ditanya dan dihisab.” Seringnya kita cuma merutuki di dalam hati tanpa berbuat apa-apa.

Padahal, ketika kita melihat kemungkaran di depan mata kita, yang disyariatkan adalah

“Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” “(H.R. Muslim).

Jangan cuek ketika melihat kemunkaran, karena segala bencana yang terjadi salah satunya merupakan buah dari ketiadaan amar ma’ruf nahi munkar. Jangan takut untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar.

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian benar-benar membaca ayat ini ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk’ (Al-Maidah:105), karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua’
(H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lainnya, shahih)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s