Kajian Kitab / Syarh Ushul ats-Tsalatsah

[#7] Sebelum Melisankan, Sebelum Melakukan

Kitab yang diulas: Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Pengkaji: Ustadz Hasan al-Jaizy
Live streaming: 3 Mei 2015

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Seandainya Allah tidak menurnkan hujjah atas makhlukNya kecuali surat ini, niscaya ia mencukupi mereka.” Imam al-Bukhari rahimahullah berkata (dalam kitab Shahihnya), “Bab ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu.” (Q.S. Muhammad: 19). Beliau pun memulai dengan ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.

Biografi Singkat Imam Syafi’i

Nama asli beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’i al-Hasyim al-Quraisy. Dengan demikian, sebutan Imam Syafi’i dinisbatkan dari nama kakek dari kakek beliau. Hal ini menunjukkan bahwa, dalam kaidah bahasa Arab, diperkenankan untuk menisbatkan seseorang kepada orangtuanya (ayah/kakek/buyut/dst).

Imam Syafi’i telah yatim sejak kecil dan hidup sangat kekurangan, tapi ibu beliau sangat perhatian dengan ilmu. Oleh karena itu, beliau telah menghafal seluruh isi al-Qur’an sebelum menginjak usia baligh. Selanjutnya, beliau berhasil menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik bin Anas sebelum berusia 20 tahun. Al Muwaththa’ adalah salah satu kitab hadits yang paling tua, bahkan lebih tua daripada Shahih Bukhari. Al-Muwaththa’ berisi pembahasan tentang fiqih.

Dalam perjalanan beliau menuntut ilmu, karena saking miskinnya, beau tidak mempunyai kertas untuk mencatat. Walaupun demikian, beliau tetap berusaha untuk mencatat, yaitu dengan menuliskan pelajarannya di tulang-tulang, pelepah kurma, dan juga kulit binatang. Ucapan beliau yang terkenal tentang keterkaitan ilmu dengan tulisan:

“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”

Pada umur 20 tahun, beliau mendengar bahwa Imam Malik bin Anas mengajar di kota Madinah. Oleh karena itu, beliau merantau ke Madinah untuk mengambil ilmu dari Imam Malik. Imam Malik dan murid-muridnya yang lain pun merasa takjub kepada beliau yang telah menghafal Al-Muwaththa’ sebelum berguru kepada Imam Malik.

Pada saat Imam Syafi’I lahir (150 H), Imam Abu Hanifah meninggal. Oleh karena itulah, Imam Syafi’I tidak sempat mengambil ilmu langsung dari Imam Abu Hanifah. Walaupun demikian, beliau tetap berusaha menuntut ilmu dari murid-murid Imam Abu Hanifah.

Karakter Khas Mazhab-Mazhab Besar di Dunia

  1. Hanafi : dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah, kental dengan penggunaan akal/rasionalitas ketika mengambil qiyas
  2. Maliki: dinisbatkan kepada Imam Malik bin Anas, kental dengan penggunaan nash hadits untuk mengambil qiyas
  3. Syafi’iy: dinisbatkan kepada Imam Syafi’I, kombinasi antara Hanafi dengan Maliki (karena Imam Syafi’i mengambil ilmu dari guru-guru dari kedua mazhab ini, para ulama menyebut bahwa mazhab Syafi’iy adalah mazhab pertengahan. Tapi jika telah jelas nash hadits atas suatu permasalahan, beliau menolak ra’yu).
  4. Hanbali: dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, tekstual sesuai dengan zhahir nash, sangat sedikit qiyas, mendekati zhahiriyah
  5. Zhahiri (sekarang sudah tidak ada): dinisbatkan kepada Imam Dawud bin Khalaf azh-Zhahiri, sangat tekstual sesuai dengan zhahir nash, menolak qiyas.

Ar-Risalah dan Al-Umm

Ar-Risalah dan Al-Umm adalah dua di antara kitab-kitab Imam Syafi’i yang paling terkenal. Ar-Risalah merupakan kitab pertama di dunia yang berbicara tentang ushul fiqh. Adapun, Al-Umm merupakan kitab yang memuat pendapat-pendapat Imam Syafi’I tentang berbagai permasalahan dan merujuk kepada hadits-hadits, lengkap dengan sanad dan syarahnya.

Ar-Risalah pada awalnya disusun sebagai balasan dari surat Imam Abdurrahman bin Mahdi, seorang ulama Baghdad, yang menanyakan kepada beliau tentang cara mengambil khabar-khabar yang maqbul, nasikh dan Mansukh dari ayat-ayat al-Qur’an, dan lain-lain. Surat balasan inilah yang menjadi cikal bakal ilmu ushul fiqh yang sangat membantu umat Islam untuk memahami hukum-hukum Islam.

Pada tahun 201 H, Imam Syafi’I pindah ke Mesir. Beliau menyempurnakan kitab Ar-Risalah, dan kitab yang telah disempurnakan inilah yang beredar hingga ke masa kita sekarang ini.

Selain itu, ternyata di Mesir, terdapat pemahaman Mu’tazilah yang mempengaruhi kekhalifahan. Imam Syafi’I pun melihat berbagai kenyataan dan permasalahan yang berbeda dengan yang pernah beliau temui di Baghdad. Beberapa ijtihadnya ada yang berbeda dengan ijtihad sebelumnya, tapi ijtihad yang baru tidak selalu membatalkan ijtihad yang lama. Oleh karena itu, pendapat-pendapat Imam Syafi’i dikenal dengan dua macam pendapat, yaitu:

  1. Qaul Qadim: pendapat-pendapat beliau sebelum tinggal di Mesir (sebelum 201 H)
  2. Qaul Jadid: pendapat-pendapat beliau setelah tinggal di Mesir (201 H dan seterusnya)

Dari sini, lahirlah kitab al-Umm, kitab yang sangat terkenal dan menjadi pegangan mazhab Syafi’i di seluruh dunia.

Terdapat sebuah fenomena yang merupakan problematika pesantren tradisional di Indonesia yang mengaku mengikuti mazhab Syafi’i. Mereka akrab mempelajari kitab-kitab ilmu cabang , tapi tidak kenal dengan kitab utama mazhab Syafi’i. Selanjutnya, ketika pendapat-pendapat mereka ada yang melenceng dari nash-nash yang shahih, mereka berdalih bahwa pendapat mereka didasarkan pada mazhab Syafi’i. Padahal, bantahan yang disampaikan kepada mereka justru diambil dari kitab utama mazhab i, yaitu al-Umm.

Beberapa di Antara Ulama Mazhab Syafi’i

  1. Imam Ghazali
    Imam Ghazali, rahimahullah, awalnya hidup di tengah-tengah penganut mazhab Syafi’i. Selanjutnya, beliau berguru kepada Imam al-Juwaini yang merupakan pakar tasawuf (ilmu kalam) dan mantiq. Imam Ghazali merupakan murid yang sangat cemerlang. Saat beliau masih berguru keapada Imam al-Juwaini, beliau menulis sebuah kitab yang dipuji oleh Imam al-Juwaini. Al-Juwaini menyatakan bahwa kitab tersebut mengalahkan kitab-kitab karyanya, padahal saat itu status Ghazali adalah masih dalam tahap belajar.
    Setelah Imam Al-Juwaini meninggal, Imam Ghazali menulis kitab Ushul Fiqh yang sangat fenomenal dan banyak dipakai di seluruh dunia. Selanjutnya, beliau juga menulis Ihya’ Ulumuddin, sebuah kitab tentang tazkiyatun nufus (pensucian jiwa) yang sangat popular hingga saat ini. Sayangnya, di dalam Ihya’ Ulumuddin terdapat banyak masalah karena banyak memuat hadits palsu dan banyak diwarnai ilmu kalam.
    Imam Ghazali sendiri mengakui bahwa beliau memang lemah di bidang hadits dan baru menyadari tentang makna hadits di akhir hayatnya. Beliau pun bertaubat dari pemahaman tasawufnya dan rujuk kembali kepada pemahaman ahlus sunnah. Beliau berlepas diri dari kitab-kitab yang beliau tulis sebelum rujuk kembali kepada pemahaman ahlus sunnah.
    Ihya’ Ulumuddin selanjutnya banyak diringkas oleh para ulama, misalnya oleh Ibnul Jauzi dan Imam Nawawi. Mereka menyaring hadits-hadits palsu yang terdapat di dalam Ihya’ Ulumuddin dan mengeluarkannya dari ringkasannya.
  2. Ibnul Qayyim
    2 abad setelah masa Imam Ghazali, dikenallah Ibnul Qayyim rahimahullah yang juga masyhur di bidang tazkiyatun nufus. Kitab-kitab karya beliau sangat menyentuh hati dan popular hingga di masa kita sekarang ini. Lebih dari itu, aqidah Ibnul Qayyim juga lebih selamat sesuai pemahaman ahlus sunnah wal jama’ah.
  3. Fakhrudin Ar-Razi
    Imam ar-Razi juga sangat kental dengan ilmu kalamnya, serta banyak menulis kitab tafsir dengannya. Tidak dipungkiri bahwa terdapat kelebihan di dalam tafsirnya yang tidak kita dapati dari kitab-kitab tafsir yang lainnya, tapi hanya sedikit ilmu yang bisa kita ambil dari kitab tafsir beliau karena beliau banyak menyandarkan metode tafsirnya menggunakan ilmu kalam (bir ra’yu). Di akhir hayatnya, Imam Ar-Razi pun bertaubat dari ilmu kalam dan rujuk kepada pemahaman ahlus sunnah wal jama’ah.
  4. Ibnu Taimiyah
    Ibnu Taimiyah rahimahullah muncul 1 abad setelah masa Fakhrudin Ar-Razi. Beliau banyak menuliskan bantahan terhadap pemahaman-pemahaman Ar-Razi dan Asy’ariyyah (sebelum mereka rujuk kepada ahlus sunnah). Meskipun beliau membantah pendapat-pendapat Ar-Razi dan Al-Asy’ari, namun Ibnu Taimiyah tetap mendoakan kebaikan kepada mereka. Apalagi, Imam Ar-Razi dan Al-Asy’ari telah bertaubat dan rujuk kembali kepada pemahaman ahlus sunnah wal jama’ah.

(Tambahan pencatat) Imam Abu Hasan Al-Asy’ari rahimahullah mengalami tiga fase dalam memahami agama. Pada 40 tahun pertama kehidupannya, beliau beraqidah Mu’tazilah sebagaimana didikan ayah tirinya yang merupakan pakar ilmu kalam, Abu Ali al-Jubba’i. Pada perjalanan selanjutnya, beliau berada dalam fase antara pemahaman Mu’tazilah dan ahlus Sunnah. Selanjutnya, pada tahun 300 H, Abu Hasan Al-Asy’ari benar-benar rujuk kembali kepada pemahaman ahlus sunnah dan mengikuti pendapat-pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau pun menuliskan kitab-kitab yang menjelaskan penyimpangan-penyimpangan pemahaman Mu’tazilah. Di antara kitab beliau yang terkenal, yang ditulis setelah beliau rujuk kepada pemahaman ahlus sunnah, yaitu Al-Ibanah fi Ushuli Dinayah. Bahan bacaaan: http://www.alsofwa.com/25052/abu-hasan-al-asyari-260-h-324h.html

Catatan: Ilmu kalam atau filsafat (tasawuf) merupakan ilmu yang diadopsi dari pemikir-pemikir Barat. Ilmu inilah yang sering digunakan oleh orang-orang liberal di masa kini dengan tameng penisbatan kepada Imam Ar-Razi. Menggunakan ilmu ini, pengikutnya banyak menggunakan akal sendiri dalam memahami agama dan tidak memperhatikan nash. Ilmu ini sejatinya menyusahkan diri sendiri, yaitu dengan berusaha merasionalkan sesuatu yang akhirnya malah menjadi tidak rasional.

Makna Perkataan Imam Syafi’i

Perkataan beliau di atas bukan berarti bahwa surat Al-‘Ashr mencukupi untuk masalah ibadah, fiqih, dan lain-lain. Tapi maksudnya adalah surat ini mencukupi sebagai manhaj (cara) dalam menjalani kehidupan. Orang-orang yang berakal pasti akan berusaha menghindarkan diri dari kerugian. Melalui surat ini, agar terlepas dari kerugian, seseorang harus beriman, beramal, saling berwasiat dalam kebenaran, dan saling berwasiat dalam kesabaran. Hal ini berlaku bukan hanya untuk ilmu agama saja, tapi juga dapat diaplikasikan untuk ilmu dunia. Ilmu yang kita pelajari di dunia tidak akan bermanfaat jika tidak diaplikasikan (diamalkan), diajarkan, dan ditempuh dengan kesabaran.

Sepenggal Kisah Nyata Tentang Imam Bukhari

Imam Bukhari berasal dari keluarga yang sangat miskin. Walaupun demikian, beliau adalah murid yang sangat pandai dan disukai oleh teman-temannya. Suatu hari, beliau tidak berangkat belajar ke majelis ilmu yang biasa beliau hadiri. Beliau pun dicari-cari oleh teman-temannya. Selepas belajar, mereka mendatangi rumah al-Bukhari. Setiba di rumah beliau, ternyata beliau hanya mengenakan bawahan dan bertelanjang dada. Saat ditanya perihal ketidakhadirannya di majelis ilmu, beliau menyatakan bahwa beliau tidak memiliki baju yang layak untuk datang ke majelis ilmu. Baju yang biasa beliau kenakan sudah sobek dan koyak sehingga tidak layak lagi untuk dikenakan. Beliau malu mengenakannya, apalagi untuk menghadiri majelis yang mulia seperti majelis ilmu.

Pelajaran Penting dari Perjalanan dan Kehidupan Ulama-Ulama Terdahulu

  1. Dari ulama-ulama yang disebutkan di atas, awalnya mereka sebenarnya memiliki aqidah yang lurus. Namun seiring perjalan hidupnya, beberapa di antara mereka mengalami penyimpangan-penyimpangan pemikiran karena belajar dari aliran-aliran tertentu. Alhamdulillah, karena rujuknya mereka kepada nash, mereka kembali kepada pemahaman yang lurus. Oleh karena itu, apabila kita menisbatkan diri kepada mazhab tertentu, lalu kita mengetahui terdapat nash yang shahih yang ternyata (kita kira) bertentangan dengan mazhab yang kita yakini, kita tidak boleh menolak nash yang shahih. Kita harus rujuk kembali kepada nash yang shahih. Dalam beragama, kita tidak boleh taqlid (mengikuti manusia) secara buta.
  2. Kebanyakan ulama kita berasal dari orang-orang yang faqir atau miskin. Hal ini dapat dimaklumi, karena untuk menjadi seorang yang berilmu, dituntut adanya kesabaran serta konsentrasi yang tinggi. Kedua hal ini biasanya dimiliki oleh orang-orang miskin yang harus sabar dengan kehidupannya dan fokus terhadap tujuan. Setelah para ulama menjadi besar pun, seringkali mereka tetap miskin karena mereka tidak sempat untuk terlalu memikirkan dunia.
  3. Allah Maha Adil. Seorang miskin dapat menyibukkan dirinya dengan menuntut ilmu dan berbagi manfaat kepada umat menggunakan ilmunya. Adapun seorang kaya yang tidak sempat terlalu mendalami ilmu dapat membantu kemaslahatan umat dengan berinfaq.
  4. Seorang muslim tidak mungkin tidak bisa memberikan manfaat dalam bentuk apapun untuk umat. Setiap muslim pasti bisa bermanfaat.
  5.  Para ulama di atas bukanlah berasal dari Arab dan bahasa aslinya pun bukan bahasa Arab. Walaupun demikian, mereka belajar bahasa Arab, belajar ilmu-ilmu syar’i dan nash-nashnya, sampai menjadi ulama besar. Hendaknya hal ini dapat memicu semangat setiap penuntut ilmu untuk mulai mempelajari bahasa Arab.

Makna Surat Muhammad:19

Melalui kata ‘KETAHUILAH’ di awal ayat, kita diperintahkan untuk MENGETAHUI terlebih dulu sebelum beramal. Jadi, kita dituntut untuk tahu dulu lalu beramal, bukannya beramal dulu tanpa mengetahui ilmu yang benar tentang amalan tersebut. Lebih parah lagi jika kita terlanjur beramal tanpa ilmu, lalu malah marah ketika ada seseorang yang memberitahu tentang ilmu yang benar dalam amalan tersebut. Maka inilah hakekat kesombongan, yaitu menolak kebenaran, meskipun pelakunya tidak merasa sombong.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91)

Adapun dalil akal tentang berilmu sebelum beramal yaitu, seseorang tidak mungkin tahu apakah amalannya sudah sesuai syari’at atau belum, jika tidak belajar dulu ilmu tentang amalan tersebut. Walaupun demikian, terdapat hal-hal yang sudah kita ketahui secara fitrah tanpa harus bersusah payah mencari kebenarannya. Misalnya, bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah, Allah ada di langit (bukan di mana-mana), dan sebagainya. Bahkan seorang atheis pun, di dalam jiwanya, pasti mengakui bahwa hanya Allahlah yang berhak untuk disembah. Misalnya, ketika terjadi sebuah peristiwa yang mengancam jiwanya (misalnya, pesawat jatuh), tentunya dia langsung ingat kepada Tuhan (Allah) dan berharap agar bisa selamat. Adapun tentang Allah berada di langit, sudah menjadi fitrah kita bahwa hati kita selalu menuju ke atas ketika berdoa. Selain itu, untuk permasalahan-permasalahaan terkait tata cara ibadah, muamalah, adab, dan lainnya, maka perlu dipelajari dan diperlukan usaha keras.

Notes: Untuk memperoleh faedah yang lebih banyak (misalnya untuk mengetahui perjalanan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu hingga akhirnya mendirikan mazhabnya sendiri), silakan menyimak sendiri kajian ini melalui link berikut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s