Kajian Kitab / Qawa'idul Arba'

Pengantar Mulia untuk Para Penuntut Ilmu

  • Dalam Muqaddimah Kitab Qawaidul Arba’, Syaikh memulai risalahnya dengan “Bismillahirrahmanirrahim” karena

    – mengikuti kitabullah yang diawali basmalah pada setiap surah, kecuali surah At Taubah. Menurut para ulama, At Taubah tidak mengandung basmalah karena basmalah merupakan penyebutan sifat pengasih dan penyayang. Sementara, At Taubah merupakan pernyataan perang sehingga tidak layak diawali dengan basmalah. Sebagian ulama juga ada yang menyatakan bahwa At Taubah merupakan bagian dari surah Al Anfal (surah sebelum At Taubah) sehingga tidak perlu dipisahkan dengan basmalah.

    – mengikuti sunnah para rasul. Noted: para rasul, bukan hanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam surah An Naml: 30 tentang nabi Sulaiman yang menulis surat kepada Ratu Saba’ dengan diawali dengan “Bismillahirrahmanirrahim.”

    – dalam rangka bertabaruk (mencari berkah) dan beristi’anah (meminta pertolongan) dengan nama Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini menunjukkan suatu usaha dari kita agar Allah membantu kita dan memberkahi apa yang kita kerjakan.

    – hal ini sudah menjadi tradisi para ulama terdahulu untuk memulai risalahnya dengan basmalah.

  • Nama-nama Allah dalam “Bismillahirrahmanirrahim”:

    – Allah : nama Allah yang berasal dari kata ‘ilah’, artinya ‘yang diibadahi.

    – Ar Rahman: artinya ‘yang memiliki rahmat yang luas’. Yaitu rahmat kepada seluruh makhluk-Nya’. Semua makhluk mendapatkan rahmat dari-Nya, baik yang taat maupun maksiat, yang mukmin maupun yang kafir. Nama ini adalah sebuah kekhususan bagi Allah dan tidak boleh dipakai oleh manusia.

    – Ar Rahim: artinya ‘yang memiliki rahmat yang khusus’, yaitu rahmat untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Nama ini boleh digunakan oleh manusia karena Allah pun menyifati nabi Muhammad dengan sifat Rahim (dalam surah At Taubah: 128).

  • Kemudian, Syaikh mendoakan kita (penuntut ilmu yang mempelajari kitab-kitab beliau) agar memperoleh wala’-Nya di dunia dan di akhirat.

    – wala’: loyalitas, kecintaan, perlindungan

    – Allah hanya memberikan wala’-Nya kepada orang-orang yang beriman

    – QS Al Baqarah: 157 >> Allah merupakan pelindung orang-orang yang beriman, yang memberikan mereka cahaya dan mengeluarkan mereka dari kegelapan. Adapun, orang-orang kafir berlindung kepada thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.

    – QS Muhammad: 11 >> Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Adapun, orang-orang kafir tidaklah memiliki pelindung.

 

  • Kemudian, Syaikh mendoakan kita agar senantiasa diberkahi di mana pun kita berada.

    – Senada dengan doa Nabi Isa “Dan Dialah (Allah) yang menjadikan diriku sebagai orang yang diberkahi di mana pun aku berada” (QS Maryam: 31)

    – Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa sifat-sifat orang yang diberkahi ada 4: (1) senantiasa mengajarkan kebaikan; (2) senantiasa mengajak manusia untuk kembali kepada Allah; (3) senantiasa mengingat Allah di mana pun dia berada; dan (4) selalu memotivasi agar senantiasa berbuat ketaatan kepada Allah.

  • Kemudian, Syaikh mendoakan kita agar senantiasa bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diberi musibah/cobaan, dan meminta ampun ketika berbuat dosa karena ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang mukmin.

    – “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik untuknya. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan hal itu baik baginya. Sebaliknya, apabila dia tertimpa kesusahan, maka dia bersabar, dan hal itupun baik baginya.”

    – “Seluruh anak Adam itu berdosa. Adapun, sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Albani)

    – Sabar, secara bahasa, berarti menahan. Secara istilah, sabar berarti menahan diri dari tiga perkara, yaitu bersabar untuk melakukan ketaatan kepada Allah (dia menahan diri dari hal-hal yang menghalanginya untuk berbuat taat), bersabar untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah, serta bersabar untuk menghadapi musibah yang telah Allah takdirkan.

  • Rukun syukur >>  Syukur dilakukan dengan hati, lisan, dan anggota badan.

    –  Bersyukur dengan hati berarti mengakui dalam hati bahwa nikmat yang diterimanya merupakan nikmat dari Allah, bukan dari usahanya sendiri.

    – Bersyukur dengan lisan yaitu dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’ dan menyebutkan bahwa nikmat yang dia terima merupakan dari Allah. “Maka dengan nikmat dari Rabb-Mu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.”

    – Syukur dengan anggota badan berarti memanfaatkan nikmat Allah dengan ketaatan kepada Allah, tidak menggunakannya untuk bermaksiat.

  • 3 syarat taubat agar diterima:
    (1) ada penyesalan telah melakukan dosa;
    (2) berhenti dari dosa tersebut;
    (3) memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi.
    Apabila dosanya berhubungan dengan hak-hak orang lain, maka para ulama mensyaratkan
    (4) mengembalikan atau meminta penghalalan.

 

  • Dosa-dosa Rasulullah sudah pasti diampuni, tetapi lisan beliau tidak pernah lepas dari dzikir:

    – “Tidaklah aku berada di pagi hari melainkan aku beristighfar kepada Allah sebanyak 100 kali.” (HR An Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani)

    – “Rabbighfirli watub ‘alaina, innaka anta tawwabur rahim.” (HR Abu Dawud) Dibaca pagi hari. Artinya: Wahai Rabb, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    – Sayyidul Istighfar setiap pagi dan sore >> istighfar yang paling utama.

 

Kajian Kitab Qawaidul Arba’ oleh Ustadz Wira Mandiri Bachrun Pertemuan 002 https://archive.org/details/QawaidulArba002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s