Kajian Kitab / Qawa'idul Arba'

Syirik Bukan Hanya Menyembah Berhala

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah masyarakat yang memiliki berbagai macam bentuk peribadatan. Di antara mereka, ada yang menyembah para malaikat. Di antara mereka, ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh. Di antara mereka, ada pula yang menyembah bebatuan, pepohonan, matahari, dan juga bulan. Namun mereka ini semua diperangi oleh Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak membeda-bedakannya.

— Kitab Qawaidul Arba’, Kaidah Ketiga —

Di sini, Syaikh ingin menerangkan bahwa yang disebut dengan ‘syirik’ bukan hanya aktivitas menyembah berhala. Pasalnya, sebagian orang mengira bahwa yang namanya ‘syirik’ adalah ketika kita menyembah berhala. Padahal, definisi syirik jauh lebih luas daripada aktivitas menyembah berhala.

Dalam kitab At-Tauhid, Syaikh Aburrahman ibnu Qasim hafidzahullahu ta’ala menyebutkan definisi syirik:

“Bahwa yang disebut syirik yaitu menyamakan yang selain Allah dengan Allah dalam perkara yang merupakan kekhususan Allah subhanahu wa ta’ala.”

Dengan demikian, ketika seseorang memperlakukan sesuatu seperti Allah subhanahu wa ta’ala, padahal perlakuan tersebut adalah suatu kekhususan untuk Allah saja, berarti dia telah melakukan kesyirikan.

Beliau membawakan firman Allah dalam surah Asy-Syu’ara: 97-97, Allah menceritakan perkataan para penghuni neraka kepada para sesembahan mereka

“Sungguh, kami dulu benar-benar  dalam kesesatan yang nyata karena kami telah menyamakan kalian dengan Allah Rabbul ‘alamin.”

Jadi, segala bentuk penyamaan terhadap Allah – dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah – adalah bentuk-bentuk syirik. Contoh:

Ibadah >> ibadah adalah kekhususan Allah, hak Allah semata. Oleh karena itu, orang yang melakukan ritual ibadah kepada selain Allah – apapun bentuknya – maka dia telah terjatuh ke dalam dosa syirik.

Dalam Al Baqarah 193:

“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan agama ini hanyalah milik Allah semata.”

Ibnu Abbas, Mujahid, dan ulama tafsir lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan fitnah adalah ‘kesyirikan’. Fitnah ini pula yang dimaksud dalam pernyataan ‘Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan’. Fitnah ini bermakna umum, mencakup segala bentuk kesyirikan.

Dalam Surah An-Nisa: 36

“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan kalian menyekutukannya dengan suatu apa pun.”

Syai-an (apa pun) di sini bersifat umum, meliputi apa pun yang disembah selain Allah. Baik itu malaikat, rasul, orang saleh, para wali, bebatuan, pepohonan, matahari, rembulan… segala sesuatu yang disekutukan dengan Allah adalah bentuk kesyirikan.

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah siang dan malam, matahari dan rembulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah kalian bersujud kepada rembulan.”

Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa ada sebagian manusia yang menyembah matahari dan bulan, maka Allah melarangnya.

 

Kajian kitab Qawaidul Arba’ oleh Ustadz Wira Mandiri Bachrun

Pertemuan 005 https://archive.org/details/QawaidulArba005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s