Kajian Kitab / Qawa'idul Arba'

Macam-Macam Sesembahan Kaum Musyrikin (1)

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah masyarakat yang memiliki berbagai macam bentuk peribadatan. Di antara mereka, ada yang menyembah para malaikat. Di antara mereka, ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh. Di antara mereka, ada pula yang menyembah bebatuan, pepohonan, matahari, dan juga bulan. Namun mereka ini semua diperangi oleh Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak membeda-bedakannya.

— Kitab Qawaidul Arba’, Kaidah Ketiga —

Sesembahan kaum musyrikin bukan hanya berupa patung dan batu. Berikut ini adalah bermacam-macam sesembahan kaum musyrikin yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi.

  1. Matahari dan Rembulan

Di antara yang menyembah matahari adalah rakyatnya Ratu Saba’ (Ratu Bilqis), sebagaimana penuturan burung Hudhud kepada Nabi Sulaiman ketika dia terlambat untuk datang menghadap Nabi Sulaiman.

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata : “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan yang terang”. Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata : “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya ; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugrahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah ; dan syaithan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk. Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar.” (QS AN Naml: 20-26)

  1. Malaikat

Padahal, kita dilarang untuk menyembah malaikat.

Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (Ali Imran:80)

  1. Para Nabi

Kita juga dilarang untuk menyembah para nabi.

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS Al Maidah:116)

Ayat ini menunjukkan bahwa di antara sesembahan kaum musyrikin adalah para nabi dan orang-orang saleh. Contohnya adalah orang Nasrani yang menyembah nabi Isa. Mereka menganggap bahwa nabi Isa adalah bagian dari tiga. Mereka menyatakan bahwa Tuhan yang mereka sembah itu  yaitu Tuhan Bapa (Allah), Tuhan Anak (Nabi ‘Isa/Yesus), Rohul Kudus (representasi Malaikat Jibril).

  1. Orang-Orang Saleh

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya, azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Al Isra: 57)

Dalam ayat ini, Allah menjelaskankepada kita tentang keadan orang2 yang disembah selain Allah. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ada 2 penafsiran tentang ayat ini::

  1. Kaum musyrikin beribadah kepada jin, lalu para jin ini masuk islam, tetapi kaum musyrikin tidak mengetahui keislaman para jin. Para jin ini berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah, sementara kaum musyrikin malah tetap menyembah jin-jin tersebut.
  2. Ayat ini diturunkan kepada orang-orang yang menyembah Nabi Isa, Bunda Maryam, dan ‘Uzair. ‘Uzair adalah seorang yang saleh dari kalangan Bani Israil. Ada yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang nabi. Allah menjelaskan bahwa mereka adalah hamba-hamba yang mendekatkan diri kepada Allah, mengharapkan rahmat Allah, dan takut kepada azab-Nya. Lalu, mengapa kalian malah menyembah mereka? Padahal mereka sendiri masih mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tafsir mana pun yang benar, ayat ini tetaplah menunjukkan larangan untuk menyekutukan Allah dengan nabi dan orang-orang saleh.

 

Kajian Kitab Qawaidul Arba’ oleh Ustadz Wira Mandiri Bachrun

Pertemuan 006 https://archive.org/details/QawaidulArba006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s