Kajian Kitab / Qawa'idul Arba'

Macam-Macam Sesembahan Kaum Musyrikin (2)

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah masyarakat yang memiliki berbagai macam bentuk peribadatan. Di antara mereka, ada yang menyembah para malaikat. Di antara mereka, ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh. Di antara mereka, ada pula yang menyembah bebatuan, pepohonan, matahari, dan juga bulan. Namun mereka ini semua diperangi oleh Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak membeda-bedakannya.

— Kitab Qawaidul Arba’, Kaidah Ketiga —

  1. Pepohonan dan Bebatuan

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (An Najm: 19-20)

Latta

Latta bisa berasal dari dua kata, “al-Laata” atau “al-Laatta”:

  1. Al-Laata adalah berhala di kota Thaif yang berupa batu besar yang diukir, seperti menhir pada keyakinan animisme. Di atas batu ini terdapat bangunan yang ditutupi tirai. Dahulu, kaum musyrikin menyembahnya.
  2. Al-Laatta berarti ‘mengadon’, yaitu mengadon gandum untuk dijadikan roti. Al-Laatta adalah orang saleh yang mengadon, membuat roti untuk memberi makan orang-orang yang berhaji. Selanjutnya, Laatta meninggal. Lalu, kaum musyrikin membangun kuburan Latta, memasang tirai – persis seperti kuburan wali-wali yang dipasang tirai di masa kini – dan menyembahnya.

Uzza

Uzza adalah pohon yang terletak di antara Makkah dan Thaif. Kemudian, pohon ini diberi tirai dan kaum musyrikin menyembah pohon ini. Ketika Nabi menaklukkan kota Makkah, Rasulullah memerintahkan Khalid bin Walid untuk menebang pohon tersebut. Setelah Khalid menebangnya, beliau pun melapor kepada Rasullllah. Namun, Rasululllah menyuruhnya kembali ke pohon tersebut. Ternyata, Khalid mendapati seorang wanita telanjang di tempat pohon tersebut. Khalid pun memenggal kepala wanita tersebut dan melaporkannya kepada Rasulullah. Rasulullah berkata “Itulah hakikat dari al-Uzza.” Al-Uzza adalah jin yang menunggui pohon tersebut dan membuat pohon tadi keramat.

Manaat

Manaat adalah batu besar berukir – seperti menhir – yang terletak di antara kota Makkah dan Madinah. Kebanyakan yang mengagungkan Maanaat adalah orang Madinah. Manaat artinya ‘yang berlimpah’ karena dahulu, saking banyaknya orang yang menyembelih untuk batu tersebut, maka batu tersebut melimpah akan darah.

Abu Waqid Al Laitsi menuturkan

“Suatu saat, kami pergi keluar bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain, sedangkan kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam). Ketika  itu, orang-orang musyrik mempunyai sebatang pohon bidara yang disebtu Dzat Anwath. Mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang merekapada pohon itu. Tatkala kami melewati sebatang pohon bidara, kami pun berkata “Wahai Rasulullah, buatkanlah untk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka itu mempunyai Dzat Al Anwath” Maka, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Allahuakbar. Itulah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Dan demi Allah yang diriku hanya berada di Tangan-Nya, kamu benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israil depada Musa.”Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan.

Jadi, ceritanya, ketika nabi Muhammad membebaskan kota Makkah dan banyak orang yg masuk Islam, sebagian di anatra mreka diajak ke Hunain. Kala itu, kaum musyrikin memiliki pohon yang dijadikan tempat iktikaf (semedi). Di sana, mereka juga menggantungkan senjata-senjata mereka agar senjata2 mereka diberkahi/jadi ampuh. Nabi pun mengingkari permintaan mereka karena hal tersebut merupakan kesyirikan. Ucapan mereka seperti ucapan kaum Nabi Musa yang minta dibuatkan berhala.

Kesimpulan kaidah ketiga dalam kitab Qawaidul Arba’:

Kesyirikan bukanlah sekadar menyembah berhala. Apa pun yang diperlakukan seperti Allah untuk hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, maka hal tersebut merupakan kesyirikan. Tidak peduli apakah hal yang disamakan itu adalah matahari, bulan, malaikat, nabi, orang-orang saleh, pohon, batu, dan sebagainya.

 

Kajian Kitab Qawaidul Arba’ oleh Ustadz Wira Mandiri Bachrun

Pertemuan 006 https://archive.org/details/QawaidulArba006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s